michel elqudsi, michel-elqudsi.com, mohammad ichlas el qudsi  
DepanWacana & RenunganGaleryIdolaYang RinganResensiKontakSosok


1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a
Depan
Feature dan Hikmah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
“Kita barangkali dapat belajar dari semut soal efisiensi dan efektifitas..penggunaan lahan yg efisien dlm barisan..pergerakan dan komunikasinya yg tidak bertele-tele serta pencapaian target dan tujuannya yang jelas dan terukur..baik secara perorangan maupun berkelompok”

(Mohammad Ichlas El Qudsi)

Saya sulit mengidentifikasi, bahwa ini cerita berhikmah atau sebuah feature, tapi begini kisahnya “Ini Jakarta, apa-apa pake uang, mau gimana lagi mas, kita kerja apa saja yang penting halal”. Kata-kata itu menyelinap masuk ke dalam telinga saya, ketika berpapasan dengan dua orang pemungkut sampah yang sedang bercengkrama di sudut jalan Kayu Manis Jakarta Timur pada hari Sabtu 21 Mei 2010. Di tengah peliknya suasana hidup di Jakarta orang kecil dengan pengetahuan rendah berfikir tentang pekerjaan yang halal. Kesimpulan itu yang kira-kira tersimpan dalam folder  isi kepala dan batin saya
Terasa kontras dengan dunia pemerintahan yang ditongkrongi banyak orang pintar berijaza pendidikan tinggi tetapi bermental rendah. Dalam satu bulan saja kita bisa mendengar dua, tiga, bahkan bisa-bisa sepuluh orang pintar yang melakukan “pekerjaan tidak halal”. Mereka pintar secara kognitif, pintar berdiplomasi, berdebat dan membayar pengacara ratusan juta asal orang percaya dengan omong kosongnya. Mereka tidak mampu berdialog dengan nuraninya. Sementara orang kecil, terpinggirkan, kumal, kusut dan ngesot di emperan jalan mampu berdialog dengan nuraninya.

Dalam kongres para psikolog baru-baru ini di Indonesia, mereka melahirkan suatu rekomendasi bahwa : “orang sakit adalah orang yang tidak mampu menjembatani perilaku sosialnya dengan norma etik masyarakat dan agama”. Lalu di sini saya melihat, jika kita menggunakan diagnosa para psikolog ini, maka hampir 75 % aparatur pemerintahan kita adalah “orang sakit”. Karena mereka tidak mampu mengendalikan nafsu untuk memiliki hak orang lain. Padahal para khatib, pastor, pandeta, tiap minggu tak pernah berhenti memberikan wejangan agama tentang pentingnya menjaga perilaku.
    Lagi-lagi di sini pun terjadi suatu kontras sosial yang membuat kita manusia normal tercengang. Bahwa betapa orang pinggiran yang kita katakan kurang higienis, ternyata lebih sehat secara ruhiyah bila dibandingkan dengan orang-orang yang katanya hidup bersih, makanannya bebas dan terlindung dari virus dan bakteri, ternyata lagi-lagi tidak sehat secara ruhiyah.
Pada titik ini saya justru mempertanyakan, bahwa benarkah adagium masyarakat Yunani yang mengatakan “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (Mens sana in corpore san)” Atau adagium itu tidak berlaku untuk para aparatus pemerintahan di Indoensia? Sebab banyak orang pintar yang di lingkungan sosialnya ia dihargai, diberi status dielu-elukan. Tapi belakang namanya terpampang di beberapa headline surat kabar bahwa ia tersangka dalam beberapa kasus korupsi. Siapa yang pernah mengira, bahwa Gayus Tambunan, Anggodo, Jaksa Urip adalah orang-orang yang dilingkungannya dipuja dan elu-elukan oleh tetangga dan kerabatnya. Tapi belakang terlibat korupsi.

Haram saja Susah
Sambil melambatkan kaki, batin saya seolah merasa dikhotbai oleh kedua pemungut sampah yang bercengkrama itu. Dalam rekaman singkat itu saya mendengar,.salah satu diantara mereka berseloroh, “mas sekarang ini yang haram saja susah apalai yang halal”. Sepanjang jalan, saya berusaha mengkait-kaitkan nama beberapa pejabat dengan kasus korupsi di Indonesia. Bahwa apakah koruptor itu sulit mendapatkan harta yang halal hingga terpaksa nyolong yang bukan haknya (haram). Padahal tidak juga. Sebab mereka itu bisa jadi pejabat karena memiliki pangkatnya besar, rumah jabatan, tunjangan, mobil dinas, dapat fee sana sini tapi kok masih juga nakal sana sini menggarong, menggasak yang bukan haknya. Padahal mereka tidak susah-susah sekali. Apalagi sesusah pemungkut samapah yang saya temui itu.

Saya membayangkan seorang pencuri, pencopet atau penyamun sekalipun. Mereka melakukan itu karena lapar (meskipun semestinya tidak harus demikian). Tapi pejabat-pejabat itu tentu bukan orang lapar. Mereka makan di restoran, ngopi di cafe berkelas dengan harga segelas kopi Rp.35. 000. Belanja baju di Paris, medical chack-up di Singapura. Tapi kenapa masih suka mencuri. Lagi-lagi saya ingin meyakinkan hati saya bahwa mereka itu tentunya tidak lapar. Selapar Pemulung yang saya temui itu di Kayu Manis itu. Akhirnya saya merasa lebih baik menghikmahi apa yang disampaikan oleh pemulung sampah tadi, bahwa “kerja apapun itu yang penting halal, selalu merasa cukup asal tidak mengambil hak orang apalagi dalam jumlah yang tidak tanggung-tanggung”. ***

Penulis adalah Anggota DPR-RI dari Dapil I Sumatra Barat
 



 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 1 dari 65