|
Ditulis oleh Moh. Ichlas El Qudsi
|
|
“Sebutir padi saat disemai menjadi benih..sesungguhnya adalah wujud dari potensi pengembangan diri untuk mencapai karya yang optimal..dalam jangka waktu jauh ke depan”
(Moh. Ichlas El Qudsi, M.Si) Kuspis atau permulaan tingginya daun padi dengan ujung melancip adalah sebuah pengandaian bahwa, meski dengan sebuah kerya kecil, perlahan-lahan akan mencapai suatu prestasi yang gemilang. Asah yang berbuah kenyataan adalah hasil dari sebuah proses belajar dan karya secara optimal. Jika kita runut dari satu kisah ke kisah berikutnya, maka banyak orang-orang sukses yang memulai karyanya dari suatu tahapan kecil. Namun dari awal proses tersebut, semua energi dikerahkan, semua sumber daya dilibatkan, teguh dan giat untuk memanifestasikan apa yang di cita-citakan.
Semua manusia bisa berkarya, asalkan setiap tahapan proses karya tersebut harus dimulai dari dasar yang kuat. Tanpa dasar yang kuat, karya yang dikreasikan akan menjadi fragile dan tidak memiliki basis pendukung. Banyak orang sukses yang kemudian terjungkir ke lembah nestapa, berhujung pada penyesalan nasib dan mengakhiri hidupnya dengan tindakan-tindakan yang tragis dan fatalism. Optimalisasi karya dan prestasi seharusnya dimulai dengan penanaman butir-butir kebaikan yang genuine.
Butir-butir kebaikan tersebut adalah, kerja yang optimal, niat yang jujur, bernilai ibadah dan pengabdian. Jika yang kita tanam adalah sebutir padi, maka yang kita dapatkan adalah padi, namun jika yang kita tanam adalah mariyuana maka hasilnya adalah racun yang memabukkan. Ini adalah hukum kausalitas kebaikan bahwa setiap yang baik selalu berakibat pada kebaikan demikian juga sebaliknya.
Di Indonesia negeri kita, beberapa waktu terakhir ini, dilanda krisis harapan. Semua orang berharap kebaikan, sementara yang ditanam adalah keburukan. Kita berharap negeri ini bebas dari ketimpangan, anarkisme dan tidak saling memfitnah, sementara yang kita tanam adalah kemunafikan. Kita berharap kehidupan dan iklim politik bisa sehat dan demokratis, sementara yang kita tanam adalah otoritarianisme dan politik kesukuan. Ibarat menyemai sebutir padi menjadi benih, tentu niatnya adalah untuk kebaikan, menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk menopang keberlangsungan hidup manusia. Ciri dan diverensiasi manusia adalah kebaikan yang berpangkal pada nurani (cahaya hati). Maka setiap kebaikan yang kita tanam adalah sekaligus memberikan cahaya kehidupan bagi diri dan orang lain. Demikianpun sebaliknya, jika yang kita tanam adalah keburukan, maka yang kita dapatkan adalah keburukan dan kegelapan cahaya hati. |