<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0">
	<channel>
		<title>Joomla! powered Site</title>
		<description>Joomla! site syndication</description>
		<link>http://www.michel-elqudsi.com</link>
		<lastBuildDate>Sun, 20 May 2012 10:00:48 +0100</lastBuildDate>
		<generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
		<image>
			<url>http://www.michel-elqudsi.com/images/M_images/joomla_rss.png</url>
			<title>Powered by Joomla!</title>
			<link>http://www.michel-elqudsi.com</link>
			<description>Joomla! site syndication</description>
		</image>
		<item>
			<title>Feature dan Hikmah</title>
			<link>http://www.michel-elqudsi.com/content/view/139/64/</link>
			<description>&amp;ldquo;Kita barangkali dapat belajar dari semut soal  efisiensi dan efektifitas..penggunaan lahan yg efisien dlm  barisan..pergerakan dan komunikasinya yg tidak bertele-tele serta  pencapaian target dan tujuannya yang jelas dan terukur..baik secara  perorangan maupun berkelompok&amp;rdquo;      (Mohammad Ichlas El Qudsi)     Saya sulit mengidentifikasi, bahwa ini cerita berhikmah atau sebuah  feature, tapi begini kisahnya &amp;ldquo;Ini Jakarta, apa-apa pake uang, mau  gimana lagi mas, kita kerja apa saja yang penting halal&amp;rdquo;. Kata-kata itu  menyelinap masuk ke dalam telinga saya, ketika berpapasan dengan dua  orang pemungkut sampah yang sedang bercengkrama di sudut jalan Kayu  Manis Jakarta Timur pada hari Sabtu 21 Mei 2010. Di tengah peliknya  suasana hidup di Jakarta orang kecil dengan pengetahuan rendah berfikir  tentang pekerjaan yang halal. Kesimpulan itu yang kira-kira tersimpan  dalam folder  isi kepala dan batin saya Terasa kontras dengan dunia pemerintahan yang  ditongkrongi banyak orang pintar berijaza pendidikan tinggi tetapi  bermental rendah. Dalam satu bulan saja kita bisa mendengar dua, tiga,  bahkan bisa-bisa sepuluh orang pintar yang melakukan &amp;ldquo;pekerjaan tidak  halal&amp;rdquo;. Mereka pintar secara kognitif, pintar berdiplomasi, berdebat dan  membayar pengacara ratusan juta asal orang percaya dengan omong  kosongnya. Mereka tidak mampu berdialog dengan nuraninya. Sementara  orang kecil, terpinggirkan, kumal, kusut dan ngesot di emperan jalan  mampu berdialog dengan nuraninya.     Dalam kongres para psikolog baru-baru ini di Indonesia, mereka  melahirkan suatu rekomendasi bahwa : &amp;ldquo;orang sakit adalah orang yang  tidak mampu menjembatani perilaku sosialnya dengan norma etik masyarakat  dan agama&amp;rdquo;. Lalu di sini saya melihat, jika kita menggunakan diagnosa  para psikolog ini, maka hampir 75 % aparatur pemerintahan kita adalah  &amp;ldquo;orang sakit&amp;rdquo;. Karena mereka tidak mampu mengendalikan nafsu untuk  memiliki hak orang lain. Padahal para khatib, pastor, pandeta, tiap  minggu tak pernah berhenti memberikan wejangan agama tentang pentingnya  menjaga perilaku.      Lagi-lagi di sini pun terjadi suatu kontras sosial yang membuat kita  manusia normal tercengang. Bahwa betapa orang pinggiran yang kita  katakan kurang higienis, ternyata lebih sehat secara ruhiyah bila  dibandingkan dengan orang-orang yang katanya hidup bersih, makanannya  bebas dan terlindung dari virus dan bakteri, ternyata lagi-lagi tidak  sehat secara ruhiyah.  Pada titik ini saya justru mempertanyakan, bahwa benarkah adagium  masyarakat Yunani yang mengatakan &amp;ldquo;dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa  yang sehat (Mens sana in corpore san)&amp;rdquo; Atau adagium itu tidak berlaku  untuk para aparatus pemerintahan di Indoensia? Sebab banyak orang pintar  yang di lingkungan sosialnya ia dihargai, diberi status dielu-elukan.  Tapi belakang namanya terpampang di beberapa headline surat kabar bahwa  ia tersangka dalam beberapa kasus korupsi. Siapa yang pernah mengira,  bahwa Gayus Tambunan, Anggodo, Jaksa Urip adalah orang-orang yang  dilingkungannya dipuja dan elu-elukan oleh tetangga dan kerabatnya. Tapi  belakang terlibat korupsi.    Haram saja Susah Sambil melambatkan kaki, batin saya seolah merasa dikhotbai oleh kedua  pemungut sampah yang bercengkrama itu. Dalam rekaman singkat itu saya  mendengar,.salah satu diantara mereka berseloroh, &amp;ldquo;mas sekarang ini yang  haram saja susah apalai yang halal&amp;rdquo;. Sepanjang jalan, saya berusaha  mengkait-kaitkan nama beberapa pejabat dengan kasus korupsi di  Indonesia. Bahwa apakah koruptor itu sulit mendapatkan harta yang halal  hingga terpaksa nyolong yang bukan haknya (haram). Padahal tidak juga.  Sebab mereka itu bisa jadi pejabat karena memiliki pangkatnya besar,  rumah jabatan, tunjangan, mobil dinas, dapat fee sana sini tapi kok  masih juga nakal sana sini menggarong, menggasak yang bukan haknya.  Padahal mereka tidak susah-susah sekali. Apalagi sesusah pemungkut  samapah yang saya temui itu.     Saya membayangkan seorang pencuri, pencopet atau penyamun sekalipun.  Mereka melakukan itu karena lapar (meskipun semestinya tidak harus  demikian). Tapi pejabat-pejabat itu tentu bukan orang lapar. Mereka  makan di restoran, ngopi di cafe berkelas dengan harga segelas kopi  Rp.35. 000. Belanja baju di Paris, medical chack-up di Singapura. Tapi  kenapa masih suka mencuri. Lagi-lagi saya ingin meyakinkan hati saya  bahwa mereka itu tentunya tidak lapar. Selapar Pemulung yang saya temui  itu di Kayu Manis itu. Akhirnya saya merasa lebih baik menghikmahi apa  yang disampaikan oleh pemulung sampah tadi, bahwa &amp;ldquo;kerja apapun itu yang  penting halal, selalu merasa cukup asal tidak mengambil hak orang  apalagi dalam jumlah yang tidak tanggung-tanggung&amp;rdquo;. ***     Penulis adalah Anggota DPR-RI dari Dapil I Sumatra Barat            </description>
			<category>Wacana &amp; Renungan - Renungan</category>
			<pubDate>Sat, 22 May 2010 19:47:33 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Hikmah Buah Manggis</title>
			<link>http://www.michel-elqudsi.com/content/view/152/64/</link>
			<description>Manggis memiliki buah dengan kulit ungu tua yang tidak menarik&amp;hellip;Namun tetap disukai karena isinya putih dengan rasa yang manis yang luar biasa.. Bedak dan riasan tidak kan pernah mampu merubah diri kita..hanya sekedar menutupi kekurangan lahir&amp;hellip;kenapa kita tidak berorientasi pada karakter bathin kita yang sejati&amp;hellip;membangun, memperindah dan membuktikannya pada orang lain (4 Agustus 2009)Mohammad Ichlas EL QudsiDalam bahasa anak-anak sekarang &amp;ldquo;BMW&amp;rdquo; alias bodi mengalahi wajah atau &amp;ldquo;tipuan kesing&amp;rdquo;. Ungkap seperti sering keluar dari mulut ABG saat ini, bila melihat seorang gadis yang seksi, tapi tidak ditunjangi oleh raut muka yang ayu kemayu atau cantik jelita. Namun kali ini, istilah BMW itu, kita pelintirkan menjadi WMS, alias wajah mengalahi sifat. Maksud dari perbendaharaan istilah yang kedua ini adalah, sifat atau karakter seseorang jauh lebih penting dari pada fisik atau kemasan luar lainnya. Namun saat ini, demi kemoderenan, orang sering memprioritaskan tampilan dari pada isi. Atau lebih memprioritaskan kecantikan/ketampanan dari pada isi kepala. Meminjam istilahnya Nurcholis Majid (almarhum), orang sering terjebak pada kulit luar dari pada isi. Hal semacam ini sering pula kita lihat pada klaim modernitas. Masyarakat saat ini, suka berfantasi dengan klaim modernitas yang barat-sentris. Dikiranya semua yang berbau moderen adalah westernistik. Dengan demikian beramae-rame manusia seantero Indonesia, merubah gaya hidup (life stayle) dan orientasi nilainya demi menggapai predikat modernisme. Dulunya minum &amp;ldquo;teh Sari Wangi&amp;rdquo;, dirubah pola minumnya dengan mengonsumsi coca-cola, bir, wine, anggur dan ragam minuman alkohol lainnya. Tadinya makan &amp;ldquo;pisang goreng&amp;rdquo;, dirubah menjadi sering makan di KFC, Kentaki, McDonald, hot dog, pitza dan jenis makanan impor lainnya. Semua ini dilakukan demi klaim modernisme yang sifatnya outside view. Dalam pola berpakaian pun demikian, dari kebaya, daster dan pakaian-pakaian yang lebih berbudaya, dialihkan ke cuma bekini, short skirt dan bahkan ada yang setengah bugil di ruang publik. Dalihnya adalah &amp;ldquo;ala barat&amp;rdquo; biar terlihat moderen.Peradaban modernisme yang positivistik, cenderung menggoda manusia dengan tampilan luar. Semua ini dilakukan untuk memuluskan doktrin kapital-materialisme yang berorientasi pasar. Betapa tidak, pola-pola yang telah disebutkan sebelumnya, merupakan bagian dari suplemen pasar yang sering menipu manusia. Apalagi pelengkap-pelengkap modernisme itu ditampilkan dengan kemasan iklan dan rekayasa visual yang menohok nafsu shopping bagi yang bersahwat pada tampilan eksklusif. Iklan-iklan itu mampu mempersuasi manusia, hingga tak berdaya dan takluk di bawah telapak kaki simbol dan kemasan. Karakter lebih pentingDi tengah gegap-gempita ketertipuan masyarakat moderen &amp;ldquo;budaya mementingkan tampilan dari pada isi dan karaketr itu&amp;rdquo;, rasanya perlu kita luruskan, bahwa dalam hal apapun, substansi jauh lebih penting. Seseorang dengan tampilan yang mentereng, berlagak ala borju, sepatu dari Paris, celana impor dari Itali, makanannya keju dan burger, tapi jauh lebih penting, bila memiliki karakter yang baik, sopan, santun, ramah, bersahaja, jujur dan adil terhadap sesama. Pesan itulah yang terimplisit dalam kata-kata hikmah di atas &amp;ldquo;Manggis memiliki buah dengan kulit ungu tua yang tidak menarik&amp;hellip;Namun tetap disukai karena isinya putih dengan rasa yang manis yang luar biasa.. Bedak dan riasan tidak kan pernah mampu merubah diri kita..hanya sekedar menutupi kekurangan lahir&amp;hellip;kenapa kita tidak berorientasi pada karakter bathin kita yang sejati&amp;hellip;membangun, memperindah dan membuktikannya pada orang lain&amp;rdquo;. Kesimpulan yang dapat kita petik dari hikmah ini adalah, kemulian hidup seseorang, tidak dilihat dari tampilan luarnya, baik gaya hidup, kelas sosial dan kemewahan yang bersifat fisicly lainnya. Akan tetapi, kemuliaan hidup terletak pada karakter yang baik (akhlaqul karimah).   </description>
			<category>Wacana &amp; Renungan - Renungan</category>
			<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 17:33:42 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Menghikmahi Tumbuhan Bambu</title>
			<link>http://www.michel-elqudsi.com/content/view/148/64/</link>
			<description>&amp;ldquo;Bambu memiliki cara yang unik dalam bertumbuh  dengan merumpun dan menggandakan ruas serta mengoptimalkan panjang dan  diameter ruas tersebut...hikmah yang dapat kita ambil adalah, bertumbuh  memiliki aspek pembangunan komunitas yang tidak boleh ditinggalkan,  mengembangkan berbagai aktivitas dan ranah serta mengoptimalkannya  hingga memiliki nilai guna yg tdk kecil&amp;rdquo;. (Mohammad  Ichlas El Qudsi) Bambu adalah tanaman jenis  rumput-rumputan yang mempunyai batang berongga dan beruas-ruas, banyak  sekali jenisnya dan banyak juga memberikan manfaat pada manusia. Nama  lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru.Di balik ragam nama  dan fungsi itu, tumbuhan bambu mengandung arti dan makna filosofis yang  dalam. Makna filosofis itu kemudian, berpautan dengan nilai-nilai  edukasi hidup, yang bermanfaat dalam membangun jiwa.Dalam ciri  fisiologisnya, bambu tumbuh secara berumpun dengan menggandakan ruas  serta mengoptibalkan panjang. Meski tumbuh secara berumpun, antara satu  ruas dengan ruas yang lainnya tidak saling berparasit. Mereka seimbang  dan saling menopang, untuk kelangsungan hidupnyaJejak fisiologi  bambu ini, seolah menguraikan untaian nilai yang begitu berharga. Bahwa  jika setiap manusia meskipun berada dalam suatu komunitas secara  bersama, namun tidak saling merugikan, menzalimi, iri, dengki, saling  menghasut dan bermusuh-musuhan. Namun sebaliknya saling mengayomi,  saling membesarkan secara berjejaring.Hidup dengan memaknai  falsafah tumbuhan bambu ini, akan membuat manusia tidak lupa diri dan  selalu ingat asal-usulnya. Sebagaimana bambu, yang meskipun dari setiap  ruasnya tumbuh dan berkembang menjadi bambu dewasa dengan panjang dan  diameter yang berubah memanjang dan memembesar dari waktu ke waktu.  Meskipun demikian, tumbuhan bambu tidak pernah beranjak dari rumpunnya.  Demikian pun manusia. Sifat selalu ingat pada asal-usul adalah sifat  yang akan membuat manusia rendah diri, tidak sombong apalagi takabbur.Hikmah  tumbuhan bambu juga mengajarkan manusia tentang pentingnya menjaga  komunitas. Karena meski dengan pikiran dan ide besar, tapi ketika  manusia tidak memiliki komunitas, maka pikiran-pikiran besar itu akan  mengalami pengkerdilan. Karena terpenjara dalam individualitas.Demikian  pula, bila sesorang yang dibesarkan oleh komunitas, dan menjadi  populer, berkedudukan, berpangkat, namun jangan pernah lupa dengan asal  komunitas. Sebab komunitas asal adalah tempat kembali untuk saling  berbagi untuk meneguk kebahagiaan yang sama. Seperti ketika berjuang dan  berawal segalanya dari komunitas. Hikmah itulah yang dapat kita  reduksikan dari makna falsafah pohon bambu. Makhluk ciptaan Tuhan yang  memang sepintas terlihat berserahkan bahkan tak dianggap, tapi  mengandung arti hidup yang dalam.			</description>
			<category>Wacana &amp; Renungan - Renungan</category>
			<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 18:58:17 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>[Hikmah Maulid Nabi] Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW.</title>
			<link>http://www.michel-elqudsi.com/content/view/362/64/</link>
			<description>    A&amp;rsquo;uudzu billahi minasy syaithanirrajiim Bismillahirrahmanirrahim Allahumma salli &amp;lsquo;ala sayyidina Muhammadin wa &amp;lsquo;ala aalihi wa sahbihi wasallim  Setelah Nabi Muhammad SallAllahu &amp;lsquo;Alayhi Wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya &amp;ndash; tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, &amp;ldquo;Ceritakan padaku akhlak Muhammad!&amp;rdquo;. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.  Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, &amp;ldquo;Ceritakan padaku keindahan dunia ini!.&amp;rdquo; Badui ini menjawab, &amp;ldquo;Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini&amp;hellip;.&amp;rdquo; Ali menjawab, &amp;ldquo;Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa   sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)&amp;rdquo;    Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam yang sering disapa &amp;ldquo;Khumairah&amp;rdquo; oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur&amp;rsquo;an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur&amp;rsquo;an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur&amp;rsquo;an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur&amp;rsquo;an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu&amp;rsquo;minun [23]: 1-11.    Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.    Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, &amp;ldquo;Ah semua perilakunya indah.&amp;rdquo; Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. &amp;ldquo;Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, &amp;lsquo;Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.&amp;rsquo;&amp;rdquo; Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.    Nabi Muhammad sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, &amp;ldquo;Mengapa engkau tidur di sini?&amp;rdquo; Nabi Muhammmad menjawab, &amp;ldquo;Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.&amp;rdquo; Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam mengingatkan, &amp;ldquo;berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.&amp;rdquo; Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.    Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam tersebut.    Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.Nabi Muhammad sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam pernah berkata, &amp;ldquo;Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.&amp;rdquo; Dalam riwayat lain disebutkan, &amp;ldquo;Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta&amp;rsquo;wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam menjawab &amp;ldquo;ilmu pengetahuan.&amp;rdquo;    Tentang Utsman, Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. &amp;ldquo;Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.&amp;rdquo; &amp;ldquo;Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.&amp;rdquo;  Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah&amp;hellip;ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.    Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur&amp;rsquo;an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan &amp;ldquo;Wahai Nabi&amp;rdquo;. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.    Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: &amp;ldquo;Angkat Al-Qa&amp;rsquo;qa bin Ma&amp;rsquo;bad sebagai pemimpin.&amp;rdquo; Kata Umar, &amp;ldquo;Tidak, angkatlah Al-Aqra&amp;rsquo; bin Habis.&amp;rdquo; Abu Bakar berkata ke Umar, &amp;ldquo;Kamu hanya ingin membantah aku saja,&amp;rdquo; Umar menjawab, &amp;ldquo;Aku tidak bermaksud membantahmu.&amp;rdquo; Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: &amp;ldquo;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui.     Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya&amp;rdquo; (QS. Al-Hujurat 1-2)  Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, &amp;ldquo;Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.&amp;rdquo; Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam.    Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi&amp;rsquo;ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam, &amp;ldquo;Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami&amp;rdquo;    Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam bertanya, &amp;ldquo;Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?&amp;rdquo; &amp;ldquo;Sudah.&amp;rdquo; kata Utbah. Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.    Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!    Ketika Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam? &amp;ldquo;Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.&amp;rdquo; Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.    Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam berkata pada para sahabat, &amp;ldquo;Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!&amp;rdquo; Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, &amp;ldquo;Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.&amp;rdquo; Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap &amp;ldquo;membereskan&amp;rdquo; orang itu. Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam berikan pada mereka.  Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam berkata, &amp;ldquo;Lakukanlah!&amp;rdquo;    Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, &amp;ldquo;Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah&amp;rdquo;. Seketika itu juga terdengar ucapan, &amp;ldquo;Allahu Akbar&amp;rdquo; berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam ke hadirat-Nya.    Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na&amp;rsquo;udzu billah&amp;hellip;..    Nabi Muhammad sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam ketika saat haji Wada&amp;rsquo;, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, &amp;ldquo;Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?&amp;rdquo; Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam melanjutkan, &amp;ldquo;Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah&amp;hellip;..?&amp;rdquo; Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, &amp;ldquo;Benar ya Rasul!&amp;rdquo;    Rasul sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, &amp;ldquo;Ya Allah saksikanlah&amp;hellip;Ya Allah saksikanlah&amp;hellip;Ya Allah saksikanlah!&amp;rdquo;. Nabi sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu &amp;lsquo;alayhi wasallam. &amp;ldquo;Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah&amp;hellip;Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah&amp;rdquo;     Catatan Kaki:  Nadirsyah Hosen Dewan Asaatiz Pesantren Virtual  </description>
			<category>Wacana &amp; Renungan - Renungan</category>
			<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 16:40:40 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>ALUNAN SUARA SERULING </title>
			<link>http://www.michel-elqudsi.com/content/view/164/64/</link>
			<description> &amp;ldquo;Ketika  alunan suara seruling tanpa kata, atau denting piano yang meliuk liuk  syahdu terdengar di telinga kita ada rasa yang merambat ke hati apakah  rasa sedih, rindu ataupun bahagia sesuai dengan pesan yang ingin  disampaikan pesuling atau pianisnya seandainya kita bicara dengan hati  maka orang pun menerima pesannya dengan hati media penyampaian pun  menjadi relatif&amp;rdquo; (Mohammad Ichlas El Qudsi) Seni  itu objektif atau subjektif? Pertanyaan ini mengalirkankan beberapa  pendapat bahwa seni akan terdefinisi menjadi obyektif berdasarkan  obyeknya. Demikian juga pendapat lain yang mengatakan seni merupakan  sesuatu yang subjektif karena dipersepsikan oleh pendapat peribadi para  penikmatnya. Ada juga yang berpendapat, seni dan keindahan adalah  obyektif, manakala keindahan dilihat dari sudut pandang umum. Demikian  juga seni dan keindahan akan terdefinisikan secara subyektif, manakala  keindahan dilihat dari sudut pandang pribadi penikmat seni. Lorens Bagus  (1995 : 987) menjelaskan, seni atau art biasanya dimaksudkan untuk  menunjuk pada semua perbuatan yang dilakukan atas dasar dan mengacuh  pada apa yang indah. Secara  umum, ada dua pemikiran atau aliran berkaitan dengan seni ini. Pertama,  fungsional. Yaitu bahwa seni harus memiliki fungsi dan tujuan-tujuan  tertentu yang umumnya berkaitan dengan moral. Kedua, ekspresional. Yakni  satu pemikiran yang menyatakan bahwa seni tidak mempunyai tujuan dan  mengejar tujuan di luar dirinya terkecuali tujuan dalam dirinya sendiri.  Maksudnya adalah seni untuk seni atau seni bersifat otonom. Suara atau  liuk-liuk nada yang bersumber dari seruling atau piano sebagaimana yang  terungkap dalam kata-kata hikmah diatas, adalah salah satu media  pengungkapan pesan moral sebagaimana yang dimaksudkan oleh aliran seni  yang &amp;ldquo;pertama&amp;rdquo;. Bahwa ada aspek fungsional yang berkaitan dengan moral.  Aspek  moral tersebut bisa saja merupakan pengungkapan dari kecintaan,  kerinduan, keibahan dan ragam moral intrest yang berimpresi kemanusiaan.  Makna hal ini mentahbiskan bahwa, seni dan rasa indah atas kesenian  adalah suatu nilai subjektif yang mendudukkan perasaan manusia sebagai  segala-galanya dalam seni. Di sini objek media &amp;ldquo;tidak menjadi soal&amp;rdquo;.  Karena yang terpenting adalah seni bisa disubyektifikasikan dalam  terminologi-terminologi moral fungsional. Berbeda dengan pendapat  pertama, jika kita kupas kata-kata hikmah di atas berdasarkan perspektif  seni menurut mainstream kedua, maka media atau objek adalah  segala-galanya dari seni.  Tidak  terlalu penting pesan moral dari sebuah kreasi seni tersampaikan atau  tidak. Karena seni dalam pemahaman ini memiliki garis demarkasi sebatas  pada otonomitas seni itu sendiri. Subjek atau penikmat seni menjadi  urusan kesekian dari seni. Penekanan pesan yang ingin disampaikan dalam  kata-kata hikmah diatas, seni harus bisa menjadi media manusia untuk  menyampaikan berbagai hal. Baik itu kekeluhkesahan, kesedihan,  kegembiraan bahkan kegilaan sekalipun. Karena seni merupakan sebuah  penungkapan yang memiliki muatan nilai-nilai universal. Maka sampai  disini, yang terpenting adalah pretensi moral dari seni. Bukan seni  untuk seni. ****</description>
			<category>Wacana &amp; Renungan - Renungan</category>
			<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 15:14:26 +0100</pubDate>
		</item>
	</channel>
</rss>

