michel elqudsi, michel-elqudsi.com, mohammad ichlas el qudsi  
DepanWacana & RenunganGaleryIdolaYang RinganResensiKontakSosok


1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a Di Mesir
Depan arrow Resensi
Resensi
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Rosdiansyah   
Judul buku : The Powers to Lead
Pengarang : Joseph S. Nye Jr
Penerbit : Oxford University Press, UK
Cetakan : I, Oktober 2008
Tebal : 226 halaman

Seiring dengan terpilihnya Barack Obama sebagai presiden AS, warga dunia sangat mengharapkan perubahan gaya kepemimpinan di Gedung Putih yang pada gilirannya kelak bisa mempengaruhi situasi dunia. Gaya kepemimpinan kaum neo-konservatif AS seperti George W. Bush Jr. selama ini terbukti lebih banyak membuat warga AS merugi terus daripada untung. Kalaupun dapat untung, maka hal itu cuma dinikmati segelintir orang di sekitar Bush. Sementara akibat kebijakan Bush yang bertangan besi, sudah banyak membuat orang sengsara. Oleh karena itu, slogan Obama yang berbunyi ''Change, we believe in'' sesungguhnya merupakan pintu masuk untuk merombak gaya kepemimpinan walaupun saat ini sudah banyak pula orang yang mulai ragu pada slogan itu, untuk bisa dipraktikkan di tengah kepungan kaum neo-konservatif. Kaum ini tak mengenal pemimpin, mereka hanya tahu penguasa.

Pemimpin bukanlah penguasa karena ia lahir bukan hendak semata menguasai, melainkan pemimpin dilahirkan untuk membimbing masyarakat menuju ketenteraman dan kemakmuran. Pemimpin yang hanya ingin memakmurkan masyarakatnya dengan segala macam cara, termasuk cara kekerasan yang dihalalkan, jelas akan membawa petaka. Seperti tampak pada beberapa tahun belakangan ini ketika kepemimpinan Presiden AS George W. Bush, yang lebih menonjolkan kekerasan untuk menguasai ladang-ladang minyak di kawasan Asia Tengah dan Timur Tengah. Bush lebih suka cara kekerasan dengan mengeksploitasi tragedi 11 September 2001, ketimbang menggunakan pola cerdik berdiplomasi. Kepemimpinan semacam ini kontras sekali dengan masa kepresidenan Bill Clinton, yang cenderung mengedepankan cara-cara budaya dan diplomasi.

Buku ini merupakan kelanjutan karya mahaguru ilmu pemerintahan JFK School of Government Universitas Harvard, Joseph Nye. Karya Nye sebelumnya yang berjudul ''Soft Power'' (2004) menarik perhatian karena membuka kembali wacana kekuasaan yang mempunyai perlekatan dengan sejarah umat manusia. Kepemimpinan dalam sejarah umat manusia merupakan soal gaya dan karakter. Gaya kepemimpinan keras selalu mengutamakan cara-cara cepat, kasar, dan seringkali brutal. Sebaliknya, gaya kepemimpinan lembut selalu mengutamakan pendekatan dan pengaruh. Nye membedakan secara tegas antara dua gaya kepemimpinan itu sekaligus dampak yang bisa ditimbulkannya. Bagi Nye, gaya kepemimpinan ini cenderung destruktif. Gaya kepemimpinan keras (hardpower) memang bisa dijalankan secara cepat dan memaksa, seperti yang diperlihatkan para diktator dalam sejarah politik dan kekuasaan umat manusia.

Tentu saja, mencapai dan mempertahankan kekuasaan dengan cara kekerasan bukanlah jalan satu-satunya bagi seorang calon pemimpin atau pemimpin yang ingin terus berkuasa. Melainkan, dengan cara lembut pun kekuasaan bisa digenggam. Jalan lembut kekuasaan ini mewujud pada diplomasi, dialog atau negosiasi. Faktor penting dalam gaya kepemimpinan lembut ini adalah pengaruh terhadap objek kekuasaan. Jika objek itu adalah masyarakat, maka seorang pemimpin dengan gaya softpower akan lebih memilih cara-cara damai dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Cara damai seperti perundingan antara juru-runding RI dan GAM pada Agustus 2005 terbukti sampai sejauh ini berhasil meredam gejolak di tanah rencong itu. Memang, ada sebagian pihak yang menilai perundingan itu menunjukkan kelemahan dari pihak perunding, namun sesungguhnya efektivitas perundingan-lah yang terpenting.

Entah kebetulan atau tidak, buku Nye yang pertama itu diterbitkan setahun sebelum perjanjian Helsinki Agustus 2005 yang mengakhiri kekerasan antara RI versus GAM. Walau tidak terkait langsung dengan perjanjian itu, jelas sekali tergambar arah baru dunia saat ini ketika para pihak ingin menyelesaikan sengketa tidak melulu bersifat zero sum game, melainkan semua pihak bersengketa layak memperoleh kekuasaan untuk menang atau win-win solution.

Nye berhasil membaca tanda-tanda zaman ini bahwa kekerasan bukan lagi mode satu-satunya untuk menguasai sebuah objek. Menurutnya, kelembutan dibutuhkan dalam proses-proses penyelesaian masalah antar-pihak, utamanya untuk menggapai puncak kepemimpinan. Selain diperlukan cara lembut, ditambah pula cara cerdik tanpa kekerasan perlu bagi seorang pemimpin. Kelembutan dalam kepemimpinan menunjukkan kearifan menyelesaikan masalah. Gaya kepemimpinan lembut semacam itu kiranya sudah mulai jamak ditemui dalam forum-forum lintas negara atau ketika para pemimpin negara saling bertemu untuk membahas sebuah masalah global lainnya.

Nye bertumpu pada argumen historis, bahwa sejarah kepemimpinan umat manusia menunjukkan sang pemimpin yang selalu menggunakan kekerasan terbukti sangat mahal dan bisa menyedot sumberdaya habis-habisan. Para pemimpin dunia yang memakai kekerasan untuk meraih sekaligus mempertahankan kekuasaan terbukti harus mengeluarkan ongkos besar. Hitler (Jerman), Mussolini (Italia), Franco (Spanyol), Stalin (Rusia), dan pemimpin bengis lain perlu menguras biaya negara luar biasa besar agar bisa terus menciptakan ketakutan, teror, serta ketundukan total rakyatnya. Para diktator itu hanya memikirkan bagaimana cara efektif menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka menciptakan gaya kepemimpinan otoriter yang menghalalkan kekerasan atas nama demi stabilitas nasional. Kalaupun harus mempraktikkan rayuan kepada lawan-lawan politik, ternyata kemudian seringkali ketundukan lawan-lawan politik dari para diktator ini muncul akibat takut atau pasrah. Bukan dikarenakan merasa ikut bersama di bawah sebuah kepemimpinan.

Agaknya, belakangan ini tema kepemimpinan terus menghangat seiring dengan perkembangan sosial-politik di tanah air. Ketika Pemilu 2009 semakin dekat pada saat bersamaan mulai muncul para calon presiden alternatif. Oleh karena itu, semakin banyak latihan kepemimpinan yang diperlukan oleh seorang calon pemimpin, selain khalayak luas di luar bidang pemerintahan dan politik. Kalangan bisnis dan non-politik lainnya juga terlihat sangat berminat, terutama untuk pembentukan karakter yang bertujuan membentuk sikap seorang pemimpin. Latihan yang terstruktur dengan baik, secara berkelanjutan diharapkan bisa membangun sikap kepemimpinan dalam bidang-bidang tertentu. Akan tetapi, tulis Nye, banyak pakar yang berpendapat bahwa kepemimpinan otentik bersifat alamiah. Sejarah kuno telah menunjukkan hal itu. Para pemimpin merupakan sosok yang dilahirkan, bukan dibentuk melalui latihan. Pemimpin dilahirkan oleh komunitas, tidak dibentuk oleh latihan yang dibuat komunitas tersebut. Namun demikian, Nye cenderung sepakat pada pelatihan kepemimpinan dengan menyatakan bahwa dalam dunia modern pemimpin itu dibentuk, bukan dilahirkan.

Menurut Nye lagi, kepemimpinan adalah seni, bukan sains. Oleh karena itu, seni memimpin merupakan perwujudan kedalaman rasa, bukan semata logika kekuasaan. Dalam praktik kepemimpinan, seni memimpin tidak hanya berasal dari mereka yang berada di puncak pemerintahan, melainkan para CEO perusahaan pun sering menyumbangkan pola kepemimpinan yang layak untuk dikaji (hlm. 74). Kepemimpinan kaku yang hanya bertumpu pada protokoler baku sekarang sudah harus ditinjau-ulang. Kepemimpinan semacam ini terbukti telah menjauhkan sang pemimpin dari mereka yang dipimpin. Mekanisme umpan-balik dalam hubungan atas-bawah yang diperlihatkan dari masukan para pekerja kepada atasan mereka bisa menjadi contoh untuk tata kelola pemerintahan yang partisipatoris.

Kepemimpinan cerdik dengan mekanisme umpan-balik tepat, bisa menggeser gaya kepemimpinan yang bertumpu pada kekuasaan keras (hard power) atau kepada kekuasaan lunak (soft power). Tidak lagi diperlukan gertakan, ancaman atau memasang muka sangar hanya untuk mempertahankan kekuasaan, melainkan cukup menunjukkan rasa empati yang tulus, sikap simpati serta dialog emansipatoris. Maka, seorang pemimpin bisa menyelami alam pikir dan rasa dari mereka yang dipimpin. Proses seperti ini bukan hanya layak dilakukan saat akan meraih kekuasaan, namun saat berada di puncak kekuasaan pun seorang pemimpin harus melakukannya jika ia hendak menaklukkan ''hati dan pikiran'' (heart and mind) yang dipimpinnya. Nye mengamati justru pada proses inilah yang tersulit sebab seringkali para pimpinan tak sadar jika ia telah menggunakan kekuasaan keras, bukan lunak.

Direktur eksekutif pada Surabaya Readers Club

 

 
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Supriyadi   

Judul Buku : Perempuan yang Mengawini Keris
Penulis : Wayan Sunarta
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : xiv + 152 halaman


Perempuan memang merupakan sosok yang indah untuk dijadikan imajinasi positif dalam berkarya. Model, aktris, dan lain sebagainya menjadi menarik ketika perempuan menjadi pemeran dalam bidangnya tersebut. Termasuk pula dalam karya sastra yang mengangkat penokohan perempuan menjadi cerita-cerita. Tentunya, perempuan menjadi daya tarik bagi para penikmat karya imajinasi yang positif tersebut.

Sebagaimana Wayan Sunarta dalam antologinya yang berjudul “Perempuan yang Mengawini Keris”, di mana cerita-ceritanya menampilkan tokoh perempuan, baik sebagai pemeran utama, pemeran pembantu, ataupun sesosok tokoh imajinasi yang memosisikan perempuan ke dalam tempat yang luhur. Perempuan dalam berbagai cerita sastra yang diposisikan ke dalam berbagai kondisi oleh penulisnya tersebut, benar-benar menjadikan perempuan sebagai sosok yang memang luar biasa.

Setidaknya, banyak pesan moral yang bisa diambil dari penokohan perempuan tersebut. Perempuan dalam cerita-cerita sastra tersebut menempati berbagai peran dan posisi. Sebagaimana yang tertuang dalam cerita yang berjudul “Perempuan yang Mengawini Keris”, seorang perempuan Bali telah menampakkan ketegarannya dalam cerita percintaan. Ia dikhianati oleh kekasihnya ketika hari pesta pernikahannya yang besar-besaran dilangsungkan. Demi menjaga martabat dan harga diri orangtuanya dari gunjingan negatif masyarakat, sosok perempuan dalam cerita tersebut rela menikah dengan sebilah keris.

Lain halnya dengan penokohan perempuan di dalam cerita yang berjudul “Aku Membeli Nyawaku”, penokohan perempuan ditampilkan sebagai sosok yang tangguh dalam menanggung pekerjaan amoralitasnya sebagai pelacur hanya untuk menghidupi dirinya sendiri dan untuk mengobati penyakitnya yang diderita. Sebuah alasan pekerjaan amoral yang dilakukan oleh sosok perempuan tersebut adalah hanya tidak ingin merepotkan kekasihnya. Ia menginginkan cinta dari kekasihnya, akan tetapi tidak mau membebani kekasihnya untuk menanggung biaya penyembuhan penyakit yang mematikannya itu.

Sementara penokohan perempuan dalam cerita “Patung Perjalanan Perempuan”, sosok perempuan tidak dihadirkan dalam peran, akan tetapi sebagai inspirasi bagi seorang pemahat yang menjadi suaminya. Perempuan yang telah dulu pergi ke alam baka itu, menjadi inspirator bagi seorang pemahat (suaminya) untuk membuat patung kayu perempuan yang dicintainya itu. Hingga pada akhirnya, sang pemahat pun menyusul perempuan tersebut ke alam baka setelah menyelesaikan pahatan patung kayu perempuan yang menjadi kekasihnya itu.

Di lain cerita yang berjudul “Rastiti”, penokohan perempuan ditampilkan sebagai seorang istri yang ingin membahagiakan suaminya. Setelah diklaim oleh dokter sebagai perempuan yang kurang subur dan kesulitan untuk memberikan anak setelah beberapa tahun menikah dengan suaminya, ia rela berbohong demi kebahagiaan suaminya. Ia rela mengaku hamil kepada suaminya, padahal sebenarnya ia hanya berbohong. Namun demikian, apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan sang suami yang sangat ingin memiliki keturunan.

Melompat pada cerita yang berjudul “Balada Sang Putri Di Gubuk Hamba”, seorang perempuan ditampilkan dengan peran yang bergaya keluh kesah. Meski demikian, ia adalah seorang jelita yang dikagumi oleh seseorang (laki-laki) yang menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut.

Cerita-cerita tentang perempuan juga hadir dalam judul-judul lainnya dalam antologi tersebut. Penokohan perempuan memang tidak sekadar kekayaan imajinasi penulis, akan tetapi lebih dari itu juga keluhuran kaum perempuan yang dijunjung sebagai figur yang memberikan inspirasi. Yang paling penting dalam karya sastra tersebut, tidak hanya menyajikan gaya bahasa yang indah dan sarat akan nilai sastra yang tinggi, akan tetapi juga pesan yang bisa diambil dari karya tersebut.

Hal itu tertuang dalam buku antologi ini, di mana pesan-pesan moral dan hikmahnya mengiringi setiap keindahan sastranya. Terutama, penokohan perempuan yang sesuai dengan tren feminisme, meskipun sebenarnya karya sastra tersebut tidak terfokus pada pemahaman feminisme.

Akhirnya, dengan membaca buku yang berjudul “Perempuan yang Mengawini Keris” tersebut, para pembaca diajak untuk menyelami keindahan karya sastra berupa cerita-cerita pendek yang sarat akan pesan-pesan moral. Meski demikian, cerita-cerita tersebut sebenarnya tidak melulu menokohkan perempuan, akan tetapi juga kearifan lokal, budaya, dan eksotisme tradisionalitas. Dengan demikian, pesan-pesan dari antologi cerita tersebut menjadi lebih bervariasi dan lebih beragam, tidak hanya dari penokohan perempuan.

Peresensi Supriyadi adalah pengamat sosial pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta
Alamat: Asrama Sakan Thullab Yayasan Ali Maksum PP. Krapyak Jl. K.H. Ali Maksum PO Box 1192 Krapyak Yogyakarta 55011
 
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Untung Wahyudi   
Judul Buku     : Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan
Penulis           : Tasaro GK
Penerbit         : Bentang Pustaka
Cetakan         : Ketujuh, 2011
Tebal              : 546 Halaman

http://suar.okezone.com

Tak seorang pun yang meragukan kiprah Nabi Muhammad dalam menyebarkan agama Islam dengan pemeluk terbesar di dunia itu. Bahkan, Michael H. Hart dalam bukunya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, menempatkan Muhammad pada urutan pertama sebagai tokoh berpengaruh dalam sejarah.

 
Alasan pokok yang jadi pegangan Michael H. Hart mengapa dia menempatkan Muhammad pada urutan pertama dalam bukunya, karena Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme).
 
Lazimnya, buku Shirah Nabawiyah (sejarah Nabi) ditulis dalam bentuk ilmiah populer. Seperti Haekal dengan buku Sejarah Hidup Muhammad, atau Martin Lings dengan Muhammad. Tapi kali ini, Tasaro GK, mencoba menghadirkan sejarah Muhammad dalam bentuk novel. Dalam buku ini, Muhammad menjadi sosok yang “dicari”, “diperbincangkan”, dan “diburu” oleh para pejalan spiritual dari berbagai penjuru dunia.
 
Bagaimana mereka menemukan Muhammad? Bagaimana mereka bernegosiasi dengan kenyataan, bahwa, Nabi yang dijanjikan tidak berasal dari kaum mereka, dari agama mereka, tapi membawa sebuah agama baru: Islam.
Inilah novel yang akan mengajak kita menemukan kisah lain di sekeliling Muhammad. Novel yang akan membukakan cakrawala dan perspektif baru tentang sosok Muhammad. Novel yang akan membawa kita berselancar mengarungi sebuah “pengalaman tentang Muhammad”.
 
Novel Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan berkisah tentang sepak terjang Muhammad Saw., sejak beliau menerima wahyu, proses legendaris Fath al-Makkah (penaklukkan Makkah), hingga beberapa peristiwa peperangan yang melibatkan banyak tokoh seperti Hamzah, Abu Thalib, Umar ibn Al-Khattab dan sahabat-sahabat lainnya.
 
Selain peristiwa peperangan, novel ini juga mengisahkan romantisme Nabi Muhammad bersama istri-istrinya; Khadijah, dan juga Aisyah. Kisah yang heroik dan romantis mendominasi novel Tasaro GK yang fenomenal ini.
Tidak hanya kisah cinta Muhammad dan Aisyah. Dalam novel ini kita juga akan berjumpa dengan tokoh fiktif bernama Kasvha yang pergi dari Suriah, meninggalkan Khosrou, sang penguasa Persia, tempatnya mengabdikan hidup demi menemukan lelaki itu: Muhammad. Yang kelahirannya akan membawa rahmat bagi semesta alam, pembela kaum papa, penguasa yang adil kepada rakyatnya.
 
Novel ini menjadi pengantar sekaligus jalan mempelajari dan memahami kisah-kisah heroik seorang Muhammad. Menyelami peristiwa demi peristiwa bahwa perjuangan Muhammad menyebarkan ajaran Islam tidaklah mudah.
Menikmati kisah demi kisah dalam novel ini kita seakan-akan hadir dan turut serta dalam rangkaian peristiwa yang terjadi di sekitar Nabi Muhammad Saw. Bahwa perjuangannya dalam membela kaum tertindas pada zamannya patut dijadikan contoh. Bahwa seperti dialah pemimpin sejati yang pantas dijadikan suritauladan, hingga abad ini.


Warga Madura
 
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd   

Judul :  Karma Yoga Bagi Orang Modern, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru
Penulis : Anand Krishna Ph.D
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Oktober 2011
Tebal : xxi +248 halaman
ISBN : 978-979-22-7628-2

Kepulauan Nusantara dikelilingi air. Pun di bawah perairan tersebut, jauh di dasar laut terdapat rings of fire. Patahan kerak bumi yang senantiasa beringsut dinamis ini menyebabkan gempa tektonik dan aktivitas vulkanik di seluruh Indonesia. Air dan api merupakan 2 unsur alam yang saling bertentangan. Dan ... kita semua hidup di tengah dominasi kedua elemen tersebut (halaman 49).

Begitulah pengamatan jeli Anand Krishna yang diungkap dalam buku ini. Penulis 140 buku tersebut memaparkan kenapa manusia Indonesia cenderung emosional. Memang emosi berlebih, di satu pihak, membuat kita berpotensi menjadi seniman kelas dunia. Menurutnya, bila penulis kita menguasai bahasa Inggris dengan baik, kita dapat berdiri sejajar dengan sastrawan dari India dan Pakistan. Sehingga karya tulis kita bisa dibaca di negeri manca.  

Di sisi lain, pengaruh unsur air dan api membuat kita cepat tersinggung. Ketika ingin marah, elemen api terkalahkan oleh anasir air, sehingga tak jadi marah. Namun luapan amarah tersebut masih terpendam di dalam diri. Akibatnya, setiap sekian tahun, kita menjadi beringas dan melampiaskannya secara kolektif. Istilah “amuk” hanya ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia.

Kadang bangsa ini saling gontok-gontokan karena alasan PKI (1965), selanjutnya karena berbeda Suku, Agama, Ras, Antar golongan (SARA) (1998), dst.  Bila ditelisik secara mendalam, akarnya ialah benturan elemen air dan anasir api tadi. Para leluhur kita menyadari kondisi geografis dan suasana batin ini. Oleh sebab itu, mereka menganjurkan gotong-royong sebagai laku hidup. Sehingga secara konstruktif, kita dapat menyalurkan energi hasil friksi kedua unsur tersebut untuk mencapai tujuan bersama. Senada dengan definisi Paul Martin Taylor, “Gotong royong is cooperation among many people to attain a shared goal.”

Sejak usia dini anak-anak musti dididik untuk hidup berdampingan dalam keberagaman. Di pinggiran kota Yogyakarta terdapat Sanggar Anak Alam. Pendirinya Dra. Nadloh AS Sariroh, beliau masih kerabat dekat Cak Nun. Di sekolah alam tersebut, sejak masih  playgroup anak-anak sudah diajarkan multikulturalme alias saling apresiasi kemajemukan. Tentu cara penyampaiannya disesuaikan dengan usia mereka. Misal lewat media dongeng dan story telling agar lebih menarik sekaligus mengena pesannya.

Buku ini semula berupa catatan doktoral tesis untuk meraih Ph.D. Anand meraih gelar dalam bidang Comparative Religions (Perbandingan Agama-agama) dari Univeristy of Sedona (USA) pada tahun 2011. Judul asli disertasinya Transpersonal Way of Action. Isinya terinspirasi oleh ajaran Sheikh Baba, Sri Sathya Sai Baba, Maharishi Mahesh Yogi, J. Krishnamurti, Anthony de Melo, Maulana Wahiduddin Khan, Gus Dur, dll. Selain itu, pendiri Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) ini menjadikan tulisan Rumi, Blavatsky, Ramakrishna, Vivekanada, Yogananda, Ranggawarsita, dan Mangkunegara IV sebagai referensi (hlm 57).

Pada hari kesukarelawanan sedunia (International Volunteer Day) 5 Desember 2008, Ban Ki-moon menyatakan semangat kesukarelawanan atau altruisme-lah yang bisa menyelamatkan dunia kita. Sekjen PBB tersebut menandaskan, “Kita membutuhkan orang yang dapat melayani masyarakat tanpa memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri.” (Sumber: www.inis.unvienna.org/unis/pressrels/2008/unissgsm087.html)

Dalam buku ini istilah ilmiah untuk semangat berkarya tanpa pamrih (Karma Yoga) di atas ialah transpersonal (hlm 84). Cabang psikologi ini pertama kali dipopulerkan oleh filsuf William James pada tahun 1905-1906. Namun setelah itu sempat terlupakan. Baru mulai diperkenalkan kembali oleh psikolog kondang Abraham Maslow (1969). Terobosan Maslow memberi warna baru pada ranah psikologi.

Para psikolog mulai beralih dari ego-centered menuju ego-trancendent (hlm 86). Tokohnya ialah filsuf modern Ken Wilber. Menurut Wilber, manusia bukanlah fisik, pikiran, emosi, roh atau jiwa saja. Ia adalah suatu keutuhan yang terdiri atas seluruh lapisan kesadaran itu.” Di Indonesia sendiri, praktisi  transpersonal yang terkenal ialah Hendro Prabowo, S.Psi, M.Msi dan Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med Sc., Ph.D. Keduanya mengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Buku “Karma Yoga Bagi Orang Modern, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru” ini memberi nuansa spiritual.  Apapun yang kau lakukan, pikirkan juga kepentingan orang lain. Entah itu di lokus keluarga, tempat kerja, lingkungan sosial, dan masyarakat luas. Sebab berkarya dengan semangat transpersonal merupakan esensi ajaran agama dan kepercayaan manusia di seluruh dunia. Sepakat dengan pendapat Michael Bernard Beckwith, tokoh New Thought dan pendiri Agape Interenational Spiritual Center, “Yang penting adalah menciptakan suatu sistem di mana manusia tidak lagi bekerja untuk uang atau kepentingan dirinya saja, tetapi untuk membantu planet ini bersama seluruh penghuninya memasuki tahap evolusi selanjutnya.”

Peresensi: Guru Bahasa Inggris di PKBM Angon (Sekolah Alam) Yogyakarta
Sumber: okezone.com
 
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Supriyadi   

Judul Buku : Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam
Penulis : Husain Heriyanto
Penerbit : Mizan Publika
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : xxxii + 376  halaman

http://suar.ekozone.com

Benar apa yang pernah dikatakan oleh Ir. Soekarno, “jasmerah; jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Sejarah memberikan banyak inspirasi dan motivasi. Sejarah yang telah terlampaui oleh masa lalu sungguh menjadi pengalaman yang berharga di masa kini sebagai bekal untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang. Sejarah telah memberikan banyak kenangan dan pelajaran yang berharga.

Islam sendiri dalam perjalanannya juga memiliki sejarah yang besar. Islam pernah menjadi sebuah imperium yang besar nan berperadaban tinggi. Ketika itu, Islam mampu menghegemoni separuh dari bumi. Islam menguasai tanah dan air dari barat hingga timur. Dalam bidang ilmu pengetahuan, imperium Islam menjadi sebuah rujukan. Begitulah Islam dari abad ke-8 hingga ke-14, di mana imperium Islam begitu kokoh dan kuat.

Kehebatan tersebut kini tinggal masa lalu yang tidak pernah akan terulang sebagai suatu peristiwa yang sama. Umat Islam kini menjadi terpuruk di bawah bayang-bayang imperium dan hegemoni Barat. Umat Islam secara mayor telah tunduk dengan apa yang telah dikendalikan oleh Barat di masa kini. Begitu mudahnya Islam didikte oleh Barat dengan berbagai isu-isu kontemporer. Sementara itu, sejarah kebesaran imperium Islam justru terlupakan dari cita-cita umat Islam di masa kini.

Husain Heriyanto dengan bukunya yang berjudul “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam” secara lugas kembali mengingatkan umat Islam di masa kini yang kian akut. Islam semakin tidak dewasa, sementara daya berpikir umat Islam juga semakin melemah. Padahal Ibn Rusyd, Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Biruni, dan para pemikir Islam masa lalu sudah memberikan keteladanan yang mendobrak daya berpikir. Namun demikian, tokoh-tokoh hebat tersebut justru di masa kini hanya di kenal sebagai seorang pemikir sementara pemikiran yang diwariskannya hilang dari pemikiran umat.

Hal itu berakibat sangat fatal terhadap umat Islam yang di masa kini justru dikendalikan oleh orang lain. Sebagaimana yang telah khawatirkan oleh Muhammad Iqbal, salah seorang pemikir sekaligus pembaharu Islam. Iqbal begitu geram menyaksikan umat Islam yang tengah kehilangan kemerdekaannya untuk menjadi diri sendiri dan larut dalam dunia yang diciptakan oleh orang lain.

Senada dengan hal itu adalah apa yang pernah dikemukakan oleh Hassan Hanafi, seorang pemikir Islam asal Mesir. Hassan Hanafi benar-benar geram melihat imperialisme Barat terhadap komunitas Muslim. Umat Islam justru rela dibelenggu dan dihipnotis sehingga mereka terjajah secara mental, pikiran, budaya, politik, dan bahkan ekonomi.

Hassan Hanafi juga memaparkan bagaimana Barat sejak era kolonialisme hingga kini selalu berusaha mendistorsi ajaran dan citra Islam agar tercipta citra negatif terhadap Dunia Islam. Hal itu bertujuan untuk memudahkan Barat dalam menundukkan Dunia Islam. Jika pada era kolonialisme, melalui agenda Orientalisme, Barat menjuluki Islam sebagai pangkal kejumudan, maka hari ini Barat sesuai dengan kepentingannya mencitrakan Islam sebagai agama kekerasan dan agama yang tak toleran (hlm. 7).

Sementara itu, umat Islam justru terdikte oleh pencitraan Barat tersebut. Pencitraan yang Barat lakukan terhadap Islam berhasil memengaruhi mentalitas dan sikap serta pemikiran sebagian umat Islam. Buktinya, akhir-akhir ini umat Islam banyak mewacanakan tema-tema seperti agama Islam yang dihubungkan dengan kekerasan, tema-tema Islam pluralis, pluralisme agama, dan lain sebagainya di mana hal itu adalah hasil dari pencitraan Barat terhadap Islam.

Betapa hal itu merupakan suatu pengendalian Barat atas Dunia Islam di masa kini. Umat Islam terdikte, terkendalikan, terbelenggu, dan terjajah kemerdekaannya. Imperialisme kultural yang dilancarkan oleh Barat begitu gencar seiring bergulirnya waktu. Dengan demikian, umat Islam harus bangkit dan berani mandiri serta merdeka dari belenggu imperialisme bangsa lain.

Belajar dari sejarah masa lalu bahwa imperium Islam pernah berjaya dan menguasai seluruh dunia dengan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, serta budaya berpikir dan kritis. Tokoh-tokoh yang menonjol pada masa lalu telah memberikan keteladanan bagaimana membangun fondasi keilmuan umat Islam sehingga mampu menciptakan lingkungan ilmu pengetahuan.

Membangkitkan budaya berpikir merupakan suatu keharusan yang menjadi dasar bagaimana suatu kebangkitan itu dimulai. Dengan demikian, perlu adanya rekonstruksi dalam gaya berpikir umat sekaligus dekonstruksi terhadap budaya bisu dan diam. Namun demikian, hal itu perlu didasari dengan cita-cita yang sungguh dan umat mampu mengoreksi diri.

Sebagaimana buku “Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam” yang secara tegas memaparkan betapa warisan sejarah peradaban Islam di masa kejayaan sungguh luar biasa. Jika hal itu tidak dimanfaatkan oleh umat Islam di masa kini, maka umat Islam akan kehilangan arahnya di masa mendatang. Oleh karena itu, belajar dari sejarah masa lalu haruslah menjadi sebuah aksi yang nyata untuk berbekal di masa depan yang cemerlang. Kini, saatnya umat Islam untuk bangkit dari keterlelapannya.
 
Peresensi adalah pengamat sosial pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta
Alamat: Asrama Sakan Thullab Yayasan Ali Maksum PP. Krapyak Jl. K.H. Ali Maksum PO Box 1192 Krapyak Yogyakarta 55011

 
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ahan Syahrul Arifin   

http://suar.okezone.com

Judul Buku: Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit: Penerbit Bentang
Tebal buku: 108 Hlm;
Cetakan :  2011


Andrea Hirata adalah pengusung trend baru sastra Indonesia. Karya Laskar Pelangi yang bertutur tentang setapak perjalanan menuju sukses menjadi ilham dan memberikan pengaruh yang kuat bagi para pembacanya. Kehadiran Laskar Pelangi kala itu mampu mengubah struktur sastra tanah air yang sebelum beraroma “lendir”.

Menapaki karir sebagai sastrawan dengan tidak sengaja Andrea Hirata kembali melahirkan sebuah karya yang bercerita tidak jauh dari masa lalunya. Tentang dirinya, orang-orang terdekatnya, dan kampung halamannya.
    
Buku ini dengan secara gamblang membuka tabir sejarah Andrea Hirata yang sebenarnya memiliki cita-cita menjadi pemain Tim Nasional sepak bola. Endapan keinginan yang bermula dari temuaanya ketika mendapati foto ayahnya yang pernah menjadi pemain bola kampung ternama di kala penjajahan Kolonial Belanda.
    
Disebutkan bahwa bersama dua kakaknya, ayah Andrea memiliki tim sepak bola yang sangat disegani karena kepiawaian ketiganya dalam mengolah si kulit bundar. Ketiga memiliki posisi berbeda, sang ayah merupakan sayap kiri lincah yang handal dan memiliki tendangan pisang. Sedangkan dua saudara yang lain adalah seorang sayap kanan dan playmaker merangkap bek tengah yang tangguh nun kokoh.  
    
Tim mereka adalah tim dari kelompok buruh tambang yang selama ini selalu menjadi “anak bawang”. Namun, berkat bakat alam ketiganya serta sentuhan pelatih Amin tim buruh tambang menjadi idola baru. Apabila tim mereka bermain, seluruh penduduk kampung berduyun-duyun ingin menyaksikan unjuk kebolehan skill cantik menawan dari trisula bersaudara ini.
    
Akan tetapi langkah mereka untuk menjadi yang terbaik terhalang dengan kesewenang-wenangan penguasa yang selalu memaksakan kehendak. Sudah menjadi “harga mati” kalau pemenang sebuah turnamen adalah tim dari penjajah. Maka, sudah barang tentu segala cara dilakukan untuk menjegal tim kesayangan penduduk pribumi, termasuk tim buruh tambang.
    
Dalam sebuah kompetisi peringatan hari ulang tahun ratu Belanda kenyataan pahit nan getir itu akhirnya benar-benar terjadi. Menjelang final, karena ketakutan dan kekhawatiran akan permainan yang eksplosif dari tridente bersaudara tersebut sehinga dapat mengalahkan kesebelasan Belanda yang akibatnya bisa meruntuhkan harga diri. Dipanggil dan diancam ketiganya untuk tidak lagi bermain. Namun, ancaman tersebut tidak membuat mereka “keder”. Ketiganya tetap nekat untuk tampil.
    
Hasilnya, ketiga diusir dan dibuang dari tanah kelahirannya. Bahkan ayah Andrea Hirata harus meratapi nasib. Lutut kaki kiri yang menjadi andalannya ditimpuk dengan palu, sehingga rusak dan membuatnya tidak bisa digunakan lagi.
    
Aroma cerita inilah yang kemudian menyulut semangat Andrea Hirata ingin melanjutkan cita-cita yang tidak kesampaian dari Ayah berseragam merah putih berzirah garuda di dada.
    
Sekelumit cerita buku ini memberikan arti penting tentang bagaimana mimpi dan keinginan itu dipupuk agar tercapai walau pada kenyataannya berbicara lain. Butuh perjuangan dan pengorbanan yang tak ternilai untuk sebuah kesuksesan. Termasuk bagaimana membangun timnas yang kuat, disegani dan menjadi kebanggaan bangsa.

Pecinta buku tinggal di Jakarta

 
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Suhairi Rachmad   

http://suar.okezone.com

Judul Buku : Bread for Friends; 50 Cerita Inspiratif agar hidup Makin Progresif
Penulis : Lintong Simaremare
Penerbit : Jogja Bangkit Publisher
Terbit : Cetakan I, 2011
Halaman : 192 halaman  


Kursi kepresidenan periode 2014—2019 mulai diperbincangkan. Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah dua periode menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia mengaku tidak akan mencalonkan keluarganya dalam pemilu nanti. Beberapa saat yang lalu, Taufik Kemas juga melarang Megawati Soekarno Putri mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia. Namun, kedua pernyataan tersebut bisa berbalik 180 derajat pada saat menjelang pemilu nanti.

Seperti dimaklumi, setiap manusia adalah pemimpin; pemimpin untuk diri sendiri, keluarga, maupun pemimpin untuk sebuah bangsa. Jiwa kepemimpinan terpatri pada setiap orang. Hal ini juga sempat dibaca oleh Lintong Simaremare dalam bukunya Bread for Friends; 50 Cerita Inspiratif agar Hidup Makin Progresif.

Sebelum saya membahas kepemimpinan ala Lintong, saya tertarik pada judul kedua isi buku ini: Memulai Mencintai. Dalam tulisannya, Lintong mencoba membuka pikiran pembaca bahwa manusia memiliki potensi. Namun, potensi tersebut jarang digunakan sebagaimana mestinya. Sebenarnya, sejak bangun hingga tidur lagi, kita harus memberikan apresiasi atas keberadaan kita. Dimulai dari ujung kuku kaki sampai ujung helai rambut, dari pikiran sampai ke hati. Lalu, rasakanlah suka cita atas semua anugerah itu. Bahkan, Lintong menekankan kepada pembaca agar memberikan penghargaan atas keberhasilan kita. Tidak peduli, apakah ukuran keberhasilan itu besar atau kecil menurut skala yang ada dalam benak kita (hal. 17).

Lintong menyadari bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berbuat lebih banyak dari apa yang ada dalam pemikirannya semula. Potensi yang dimiliki manusia beragam. Bahkan, potensi kepemimpinan manusia jelas ada walaupun skalanya berbeda-beda. Berdasarkan potensi kepemimpinan setiap orang, Lintong mengaku tidak setuju jika mendengar keluhan seseorang yang mengatakan,"Saya memang tidak cocok dan tidak berbakat jadi pemimpin." Menanamkan jiwa kepemimpinan dan menumbuhkembangkan menjadi pemimpin dalam skala yang lebih besar tidak harus menunggu diangkat menjadi pemimpin.
 
Kita menyadari, kursi kepemimpinan sekarang ini menjadi bahan rebutan. Pengalaman memimpin pada level di bawahnya bisa jadi merupakan pengalaman untuk memimpin pada level yang lebih tinggi. Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru yang paling baik. Berdasarkan pengalaman, seseorang yang mencalonkan diri menjadi pemimpin akan lebih mudah menarik perhatian masyarakat calon pemilih.
 
Pada judul Mulai Memimpin, Lintong membidik pembaca agar belajar memimpin diri sendiri; memimpin tubuh, pikiran, prasaan, bahkan hati kita, supaya berjalan pada track yang benar menuju sebuah tujuan (hal. 69—70). Jika kita mampu memimpin terhadap apa yang ada pada diri kita, jiwa kepemimpinan bisa dilanjutkan pada skala yang lebih besar. Memimpin orang lain diperlukan adanya penyesuaian dengan kehendak dan keinginan orang yang kita pimpin. Utamanya, sikap dan kepribadian yang tulus dan ikhlas menjadi modal utama suksesnya seorang pemimpin.

Pemimpin yang diharapkan masyarakat adalah pemimpin yang rendah hati dan memihak kepada rakyat kecil. Lintong menjelaskan, pemimpin yang rendah hati adalah pemimpin yang mampu menguasai hatinya untuk tetap pada level terendah. Menurutnya, tatkala hati tidak terkendali, maka pikiran dan ego akan menguasai diri. Orang yang memimpin dengan ego akan memimpin dengan amarah dan ketakutan. Lintong mengutip perkatan Tao-te Ching,"Ketika ucapan dan tindakan seorang pemimpin menunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak merasa lebih tinggi dari orang-orang yang dipimpinnya, rakyat akan melihat diri mereka ada padanya dan tidak pernah bosan kepadanya." (hal. 108).

Menjadi calon pemimpin tidak sekedar rendah hati pada saat menjelang pemilu. Janji-janji politik yang diucapkan pada saat kampanye bukanlah sekedar cara menarik perhatian massa. Akan tetapi, janji tersebut harus diwujudkan pada tindakan nyata. Jika ucapan pemimpin sesuai dengan janji yang dikeluarkan, maka rakyat tak akan pernah merasa bosan.

Menghubungkan kepemimpinan dengan buku Bread for Friends; 50 Cerita Inspiratif agar Hidup Makin Progresif karya Lintong Simaremare mungkin terkesan wah atau terkesan dihubung-hubungkan. Buku ini bukanlah sebuah buku yang khusus membahas tuntas pola dan teori kepemimpinan.  Buku ini terdiri atas 50 cerita ringan dengan aneka ragam permasalahan yang dihadapi penulis. Buku ini tidak hanya cocok dibaca oleh pemimpin dalam skala besar, akan tetapi, siapa saja yang ingin memiliki motivasi hidup sangat layak membaca kisah ini. Apalagi, pada setiap akhir cerita, Lintong menyertakan kalimat bijak berupa simpulan dari cerita yang disajikan. Tidak percaya, buktikan sendiri!

Alumnus Fakultas Sastra Universitas Jember, kini  tinggal di  Sumenep, Madura

 
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Arpan Rachman   

http://suar.okezone.com

Judul: Tiga Tahun untuk Selamanya: Catatan Perjalanan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) 1972-2011
Penulis: Fenty Effendy dan Neneng Herbawati
Cetakan Pertama: Oktober 2011
Isi: xvi+280 halaman
Dimensi: 22 x 28 cm
Penerbit: National Press Club of Indonesia (NPCI)
ISBN: 978-979-18956-4-4


HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) didirikan 10 Juni 1972 oleh sekelompok pengusaha muda yang kemudian menjadi tokoh nasional, antara lain Abdul Latief, Siswono Judo Husodo, Aburizal Bakrie, Pontjo Sutowo, dan Agung Laksono. Bermotto “pengusaha pejuang dan pejuang pengusaha” roda organisasi HIPMI bergerak memutari orbitnya sesuai ungkapan klasik “setiap pemimpin ada masanya, setiap masa ada pemimpinnya”.

Dalam 39 tahun perputaran orbitnya pula, HIPMI menangkap intisari semangat pengabdian dan dedikasi dari para ketuanya yang masing-masing menduduki jabatan satu periode selama tiga tahun. Tak ada kesempatan kedua di tampuk kepemimpinan HIPMI.

“Pejuang yang dibutuhkan oleh masa depan bangsa adalah pejuang ‘otak’
bukan pejuang otot. Yang berjuang untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama, bukan untuk perebutan kekuasaan dengan kekerasan,” kata Erwin Aksa.

Selaku Ketua Umum HIPMI periode 2008-2011 Erwin pun menggagas catatan perjalanan panjang 39 tahun ini. Diuraikannya, ketimbang sistem politik Indonesia yang baru menerapkan demokrasi langsung di tahun 1999, maka di HIPMI pendekatan one man-one vote atau satu orang-satu suara sudah diterapkan sejak 1975.

“Menjabat Ketua Umum BPP HIPMI menjadi pengalaman dan pelajaran yang paling transformatif. Menjadi anggota dan pengurus adalah pengalaman yang paling lengkap,” ujar Erwin.

Memasuki dasawarsa kelima HIPMI, inspirasi perenungan terhadap peran strategis pengusaha muda dari masa ke masa seperti menemukan ajangnya. 13 ketua HIPMI pun dengan takzimnya menggores pena demi menyebarkan spirit kepada bangsa ini. Spirit itu diimbuhi sembilan gugahan notasi dari para pengurus daerah se-Indonesia. Dilengkapi tiga pesan dari tiga tokoh nasional tentang motor pembangunan ekonomi, pengkaderan dan dunia usaha, serta analisis posisional atas organisasi ini di tengah pusaran perubahan.

Abdul Latief (Ketua HIPMI 1972-1973) terinspirasi ucapan Profesor Paul A Samuelson, penasihat Presiden John F Kennedy, tentang kiat Amerika Serikat bangkit pasca-Perang Dunia II yang menyebutkan bahwa program pembangunan itu adalah program pendidikan. “Mereka memiliki enterpreneurship dan manajemen yang kuat. Jadi, ketika pulang dan bikin HIPMI, saya ingat kata-kata itu. Kalau Indonesia mau melahirkan banyak enterpreneur, pengusaha nasional, dia harus sukses membangun lembaga pendidikan untuk enterpreneur tadi. Maka saya mengajak teman-teman, ayo kita bentuk organisasi yang independen, dan terbentuklah HIPMI,” ucap Latief, ketika masih bekerja di Sarinah, sepulangnya menghadiri seminar di kampus Massachussets of Technology
(MIT) sebagai penerima beasiswa dari United Nations Development Programme (UNDP).

“Saat itu (1972-Red) masih ada satu rasa dikotomi antara pribumi dan nonpribumi sehingga dengan didirikannya HIPMI dapat dikatakan, ini kebangkitan dari pengusaha-pengusaha pribumi,” ungkap Aburizal Bakrie (Ketua HIPMI 1977-1979).

Belakangan hampir semua pengurus HIPMI turun ke kampus, bahkan ke sekolah menengah atas, untuk memperkenalkan lagi HIPMI di kalangan muda dan tentu saja sekaligus menebarkan semangat kewirausahaan kepada generasi baru. Inilah kisah klasik tentang kiprah spirit dari pengusaha pejuang yang merentangkan sejarah ulet nan panjang mengenai sebuah organ yang terbentuk dari alam masyarakat madani.
 
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Muhammad Rajab   

Judul buku : Pluralisme Menyelematkan Agama-Agama
Penulis : Moh Shofan
Penerbit : Samudra Biru
Cetakan I : 2011
Tebal : xxxii + 161 halaman
Harga : Rp27.500


Hingga saat ini, pluralisme merupakan masalah yang menarik untuk dikaji. Tokoh-tokoh muslim terkenal di Indonesia, seperti Cak Nur dan Gus Dur selalu menyuarakan tegaknya pluralisme. Hal ini dilatarbelakangi kondisi keberagamaan Indonesia yang sangat plural dan majemuk.
 
Buku ini ditulis atas kegelisahan Moh Shofan terhadap realitas keberagamaan umat Islam saat ini. Salah satu yang menjadi kekhawatiran dan kegelisahannya adalah munculnya gerakan radikalisme agama. Yakni, sebuah kelompok yang melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Baginya radikalisme agama merupakan ancaman serius bagi tegaknya sebuah peradaban.
 
Sebenarnya masalah radikalisme menurut Karen Armstrong -sebagaimana yang dikutip dalam buku ini- adalah kenyataan global yang muncul pada semua keyakinan sebagai respons atas masalah-masalah yang dimunculkan modernitas yang dinilai telah keluar terlalu jauh, tetapi lahir seiring dengan ditempuhnya cara ekstrim ketika jalan moderat dianggap tidak membantu. Radikalisme pun cenderung dimaknai secara peyoratif dengan ciri ekslusif, absolutis, merasa paling benar dalam memahami sesuatu, dan melakukan hal yang terkadang bertentangan dengan arus utama. (hal. 43)
 
Peneliti di Paramadina ini berkeyakinan bahwa Islam adalah agama yang datang dengan prinsip kasih sayang (mahabbah), kebersamaan (ijtim?’iyah), persamaan (mus?wah), keadilan (‘ad?lah), dan persaudaraan (ukhuwah), serta menghargai perbedaan. Islam hadir untuk menyelematkan, membela, dan menghidupkan kedamaian. Islam adalah yang mengedepankan sikap keterbukaan (inklusif) dan menerima perbedaan sebagaimana dalam al-Quran QS. Al-Hujurat: 13.

Beberapa prinsip itulah yang menguatkan pemikiran Shofan tentang pentingnya pluralisme agama. Setidaknya ada empat tema pokok yang menjadi katagori utama Alquran tentang pluralisme agama. Pertama, tidak ada paksaan dalam beragama tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 256. Kedua, pengakuan akan eksistensi agama lain, ini termaktub dalam surat al-Baqarah ayat 62. Ketiga, kesatuan kenabian yang terdapat dalam surat al-Syura ayat 13. Keempat. Kesatuan ketuhanan yang tertulis dalam surat an-Nisa’ ayat 131. (hal.77)

Sampai saat ini pluralisme masih hanya sebatas wacana dan belum betul-betul menjadi solusi bagi setiap permasalahan kekerasan atas agama. Untuk itulah buku ini berusaha meneguhkan kembali paham pluralisme yang belum membumi itu. Shofan bisa dikatakan termasuk orang yang nekad dan berani menyuarakan pluralisme agama di tengah-tengah umat Islam yang kebanyakan menolak dan menentang paham pluralisme.  Baginya penolakan dan penentangan itu dianggap sebagai sebuah tantangan untuk menegakkan sebuah perdamaian di tengah-tengah pluralitas bangsa.

Dia berkeyakinan bahwa dalam Islam tidak ada satu ayat pun dalam al-Quran dan tidak ada satu hadits pun yang mengobarkan semangat kebencian, permusuhan, pertentangan atau segala bentuk perilaku negatif, represif yang mengancam stabilitas dan kualitas kedamaian hidup.
    
Ironisnya, hingga saat ini masih saja muncul kekerasan yang mengatasnamakan agama. Seperti munculnya aksi bom bunuh diri. Menghadapi persoalan ini diperlukan suatu rumusan untuk membangun sistem kehidupan yang damai. Rumusan itu ada dalam pluralisme. Pluralisme adalah jalan terbaik untuk hubungan antar dan intra agama.
    
Sebagai seorang muslim yang pernah lama belajar di pesantren, Shofan yakin bahwa pluralisme adalah jalan terbaik untuk menciptakan perdamaian antar dan intra umat beragama. Penulis memahami pluralisme tidak seperti Ahmad Wahib – pemikir liberal –  yang memahami sikap pluralisme sebagai sikap menerima perbedaan sebagai sebuah given. Bagi Shofan sikap seperti itu hanyalah menggambarkan dan memperkuat fragmantasi. Menurutnya, pluralisme tidak hanya sekadar menerima perbedaan sebagai sebuah given. Tapi pluralisme harus dipahami sebagai usaha aktif untuk merayakan perdamaian dan memperkuat persatuan sembari menjaga keadaban.

Keyakinan Shofan tersebut sejalan dengan paham Nurcholis Madjid. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sebagai “kebaikan negatif” (negative good), hanya ditilik dari kegunaannya menyingkirkan fanatisme. Pluralisme harus dipahami sebagai pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban. Bahkan pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya.

Sa’duddin dalam pengantar buku ini menilai bahwa buku ini tidak hanya penting untuk dibaca oleh umat Islam. Akan tetapi buku ini sangat layak dibaca oleh semua pemeluk agama. Karena pluralisme bukanlah ajaran yang ekslusif bagi umat Islam saja, ia juga perlu diterima agama-agama lain demi kesinambungan pewartaan wahyu Tuhan.

Pada intinya, buku yang terdiri dari enam bagian ini sebenarnya merupakan kritik sekaligus jawaban terhadap beberapa kasus kekerasan atas nama agama yang sekarang masih mewarnai bumi Indonesia bahkan dunia. Hal ini dimaksudkan untuk terciptanya kedamaian bangsa.

Peresensi adalah Penikmat Buku dan Penggiat Kajian di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PISF) Unmuh Malang

 
Resensi Buku PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Makmun Yusuf   

Judul: Sekadar Mendahului
Penulis: KH Abdurrahman Wahid
Pengantar: Y.B Mangunwijaya
Penyunting: Tri Agus Siswowihardjo & Marto
Tebal: 343 Halaman
Harga: Rp47.000
 
Dalam sebuah diskusi reboan Forum Demokrasi (Fordem) di Rumah Marsilam Simanjutak yang ketika itu dihadiri Gus Dur, Rachman Tolleng, Bondan Gunawan, Rocky Gerung dan beberapa anak muda, Gus Dur Melontarkan sebuah gagasan unik.

“Saya akan membuat buku berjudul Sekadar Mendahului,“ ujar sang ketua kala itu.

“Buku tentang apa itu Gus,” tanya Marsilam. Itu buku kumpulan kata pengantar buku saya untuk buku orang lain, dari berbagai topik dan kajian,” jawab Gus Dur sambil terkekeh.

Jauh sebelumnya sebenarnya buku ini sudah akan diterbitkan sampai-sampai saat Romo Mangun masih hidup sudah memesan kata pengantarnya terlebih dahulu. Tetapi niat tinggal niat. Sampai di kemudian hari ia wafat tak kesampaian. Tetapi teman-teman aktivis muda yang mendengarkan niat itu suatu hari menindaklanjutinya. Tri Agus Siswowihardjo, salah seorang aktivis Fordem dengan nekad akhirnya mengumpulkan bahan-bahan itu dan mewujudlah menjadi buku ini.

Sekadar mendahului memang sebuah kata pengantar. Image kata pengantar selama ini dianggap sebagai hal yang sepele, bahkan seringkali diklaim sebagai iklan terselubung. Tetapi pada buku ini pudarlah semua anggapan tersebut. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, Gus Dur sendiri selalu serius dalam mengantarkan buku tersebut melalui studi yang kuat.
 
Kedua, setiap buku yang diberikan kata pengantar tidak semata meninjau bukunya, tetapi benar-benar diantarkan ke wilayah-wilayah lain sehingga pembaca bisa menilai melalui optik  khusus. Ketiga, Gus Dur selalu berlaku proporsional. Tidak ada kata-kata yang bersifat iklan. Kalaupun ada kalimat berupa sanjungan selalu diberikan alasan yang jelas sehingga tidak ada unsur berlebihan.

Dari sini wajarlah kiranya ide spontan, bahkan terkesan banyolan itu bukanlah hal yang berlebihan.Melalui buku ini pembaca pada akhirnya tidak akan dibuat bingung bagaimana sebuah kata pengantar mampu memberikan kontribusi ilmu pengetahuan kepada kita. Karena kemahirannya menyusun esai, beragam kata pengantar dalam buku ini tetap bisa dinikmati sebagaimana karya-karya intelektual lain.

Di dalamnya memuat 26 kata pengantar. Oleh penyuntingnya, dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama berisi kata pengantar Gus Dur tentang buku-buku humor dan budaya. Bagian kedua pengantar buku politik. Bagian ketiga pengantar buku NU dan Gus Dur. Bagian empat pengantar buku agama dan pluralisme. Bagian kelima, pengantar buku biografi.

Ada banyak manfaat dengan membaca buku ini. Pertama tentu kita mendapatkan ilmu pengetahuan yang maha luas berkaitan dengan lima isu di atas. Kedua, bisa menjadi rujukan-rujukan penting untuk memenuhi kebutuhan kita berkaitan dengan khazanah intelektual. Dalam setiap kata pengantar Gus Dur selalu memiliki referensi yang kuat tentang hal itu. Ketiga, adalah manfaat bagaimana kita melihat sebuah karya. Harus diakui, sekalipun kita golongan kutu buku, tetapi belum tentu mampu menganalisa buku secara lengkap dan mampu mengambil intisarinya secara baik. Melalui buku ini Gus Dur memberi contoh yang baik bagaimana kita meninjau setiap buku.

“Sekadar Mendahului” bukanlah cuma, atau hanya. Di dalamnya memuat banyak agenda besar intelektual yang penting kita hayati di bacaan digital sekarang ini. Mahasiswa, dosen, kiai dan para kutu buku mestinya tidak melewatkan buku ini. Dalam kumpulan pengantar ini, nalar genius Gus Dur patut diapresiasi oleh kita semua.

Penulis adalah Pecinta buku

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 10 dari 65