michel elqudsi, michel-elqudsi.com, mohammad ichlas el qudsi  
DepanWacana & RenunganGaleryIdolaYang RinganResensiKontakSosok


1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a
Depan arrow Wacana & Renungan
Wacana & Renungan
HIKMAH POHON JATI PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   

HIKMAH POHON JATI

“Jati akan memberikan manfaat yang tinggi tatkala memiliki pohon yang kokoh dengan jaringan yang padat dan tua anggrek akan memiliki nilai tatkala memunculkan bunga yang indah dan langka pohon durian akan sangat berharga jika menghasilkan buah yang lezat dan banyak jadi percayalah kita akan membuat prestasi dengan cara kita masing-masing di dunia ini maka jadilah orang yang otentik”

 Mohammad Ichlas El Qudsi

 Kebanyakan orang mengartikan perubahan sebagai menggantikan semua nilai yang ada dengan menyuplai kepribadian dengan nilai-nilai baru. Bahkan, dengan pengertian yang demikian, orang-orang tertentu bersedia melepaskan seluruh nilai kepribadian dari dalam diri, dan digantikannya dengan nilai-nilai baru yang diimpor, atau disadur dari produk luar.

 Nilai-nilai lama yang mengakar tercerabut karena ketergiuran dengan identitas baru yang bergaransi pasar. Mereka merasa memiliki kepribadian yang marketable ketika menjadi orang lain (the other). Pesan kata-kata hikmah di atas menyiratkan hal yang demikian, bahwa apapun hasil dari sebuah proses, potensi  dari dalam menjadi bagian inheren perubahan. Dengan demikian, perubahan tidak semestinya membuat seseorang beranjak dari otentisitas kediriannya.

 Dalam skup Besar

Dewasa ini, kita terbiasa dengan meminjam identitas. Padahal hanya untuk sebuah ukuran tertentu, kita cenderung menelantarkan otentisitas. Dalam skup besar misalnya, untuk menjadi sebuah negara demokrasi, kita tak jarang menelan mentah-mentah aliran demokrasi dari manapun asalnya. Padahal kita tahu, bahwa faham apapun, bila tidak berpijak pada nilai-nilai orizinil budaya setempat, maka faham tersebut akar rapuh, getas dan mudah rongsok bila ada getaran-getaran ringan di sekitarnya.  

Di Indonesia misalnya, setiap lima tahunan, kita terus melakukan proses bongkar pasang (Removable) tata cara berdemokrasi. Hal seperti ini terjadi karena, kita tidak pernah berupaya menyatukan faham-faham budaya (kearifan lokal) sebagai pilar demokrasi itu sendiri.

Akibatnya, wajah demokrasi kita memiliki garis demarkasi yang terpisah begitu ekstrim antara entitas budaya dan demokrasi. Terbukti, dari pilkada ke pilkada, dari pilcaeg ke pilcaleg dan pilpres, kita sering mendulang konflik horizontal, sebagaimana yang terjadi di beberapa daerah ditahun 2010 ini. Pembakaran, kerusuhan yang berakibat pada kebangrutan moral dan materil, adalah sisi lain ketika otentisitas kultural terpola secara membabibuta oleh mekanisme demokrasi yang normatif dan rigid.

Cakupan kecil

Keniscayaan perubahan juga berlaku dalam skup diri manusia. Setiap manusia menginginkan perubahan dalam dirinya. Baik perubahan sikap, perilaku, tindak-tanduk dan tutur kata. Namun, perubahan yang bersifat inner-psikologi ini, selalu terbangun berdasarkan respon dan interaksi nilai. Baik yang bersumber dari hasil kontemplasi atau karena doktrinasi. Kedua-duanya selalu berurusan dengan nilai-nilai otentik yang sudah ada berdasarkan fitrah manusia.

Namun terkadang manusia selalu berasa “baru” dengan sentuhan luar. Dengan demikian untuk perubahan tersebut ia melepaskan nilai-nilai otentik yang menjadi pilar atau dasar dari penguatan perubahan jati diri. Perubahan bukanlah suatu entitas yang bermakna tunggal. Tapi bermakna plural. Karena perubahan adalah proses memperbaharui nilai-nilai yang telah mengotentik dalam diri. Bukan berarti meninggalkan. Pencapaian prestasi apapun akan terasa membekas, bila otentisitas tetap dipelihara. Pesan itulah yang tertuang dalam kata-kata hikmah di atas : “kita akan membuat prestasi dengan cara kita masing-masing di dunia ini maka jadilah orang yang otentik”. S e m o g a


 
Menyelamatkan Tumbuhan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
"Untuk menyelamatkan tumbuhan yang sedang sakit, bisa dari pangkal pohon yg berakar ke bawah dan membuangbatangnya menyelamatkan batangnya untuk di tanam kembali  atau melalui biji buah yangg harus disemaidulu. Pilihannya tergantung bagian mana dan situasi kerusakannya  lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi yangada pun juga begitu"

(MohammadIchlas El Qudsi)

Si Laila yang tamatan kuliah di Jepang itu, denganterpaksa menerima job baru di radio JPMI sebagai pembawa acara konsultasi remajayang berkonten Islami. Suatu ketika Si Laila sedang On Air dalam acarakonsultasi remaja itu, ada seorang penelpon remaja (putri) yang berkonsultasi.Sebut saja namanya si Aini. ai Aini bercurhat bahwa ia hendak menikah. Namundalam proses kejenjang pernakahan itu, si Aini ragu dan khawatir serta takut merasabersalah terhadap calon suaminya kelak. Karena si Aini sudah tidak suci lagi. SiAini meminta kesediaan Laila untuk meng-advis-nya. Dengan penuh percaya diri,Laila menjawab kegelisahan Aini tersebut.

Dalam adivis-nya terhadap Aini, Lalila menuturkan sedikitceramah bahwa, si Laila tidak perlu ragu, karena persepsi masyarakat dulu dansekarang tentang keperawanan itu sudah berbeda. Dulu perwan dianggap sakral.Tapi diabad ini perwan bukanlah masalah. Yang terpenting kesetiaan dan selingpengertian.

Menjelang satu hari setelah acara siaran konusltasi remajaitu. Radio JPMI didemo massa yang pada umumnya kalangan remaja. Dalam demonyamasa menuding radio JPMI merusak moral remaja dengan meremehkan kesucianremaja. Tidak Cuma itu, perusahaan yang memberikan layanan iklan ke radio JPMIpun menarik kembali iklanya, karena khawatir raputasi produknya ikut tercemar. RadioJPMI yang terkenal religius dan mendidik itupun terancam guling tikar. Iniadalah sepenggal kisah dari tayangan sinetron ramadan yang berjudul "KetikaCinta Bertasbih"

Terlepas dari judul sinetron ini, tersirat suatu pesanbahwa, begitu cepat raputasi lembaga, organisasi  atau sebuah perusahaan tercemar. Hanyapersoalan oknum dan satu kesalahan, mengakibatkan sebuah organisasi ataupersuhaan terancam bubar akibat generalisasi kesalahan oleh masyarakat.

Kita cenderung menggeneralisasi suatu persoalan secaraberlebihan. Perilaku oknum sering digeneralisir menjadi perilaku lembaga atauinstitusi. Padahal, kesalahan yang dilakukan oknum tidak mungkin berlaku secaraumum untuk semua bidang dalam suatu lembaga atau organisasi.

Penyakit generalisasi ini, hampir kita temukan diseluruhbidang kehidupan di sekitar kita. Padahal tidak harus demikian dalam melihatkecacatan sebuah lembaga atau organisasi. Sebagaimana muatan makna yang teruraidari kata-kata hikmah di atas. "Untuk menyelamatkan tumbuhan yang sedang sakit,bisa dari pangkal pohon yg berakar ke bawah dan membuang batangnya menyelamatkanbatangnya untuk di tanam kembali  ataumelalui biji buah yangg harus disemai dulu. Pilihannya tergantung bagian mana dansituasi kerusakannya  lembaga-lembaga danorganisasi-organisasi yang ada pun juga begitu".

Kata-kata hikmah ini, mengajarkan pada kita tentangperlunya metodelogi pemetaan kesalahan untuk menilai dan mengeneralisir suatumasalah. Agar kita tidak terjebak dalam suatu generalisasi yang merugikan pihakatau bagian-bagian lain organisasi yang tidak bermasalah. Langka-langka yangdapat kita lakukan adalah sebagai berikut : Pertama, melakukan observasi untuk mengamati gejala-gejala kepincanganyang ada dalam tubuh organisasi. Kedua,setiap terdapat indikasi kesalahan di bidang-bidang tertentu harusdiinventarisir dan dikelompokkan berdasarkan tingkat kesalahan spesifiknya. Ketiga, Mengidentifikasi jeniskesalahannya yang dilakukan setiap bidang organisasi. Keempat, memperbaiki kesalahan-kesalahan setiap bidang yangditemukan dari hasil observasi.

Dalam observasi itu, jika tidak terdapat kecacatansistemik, maka kesalahan masih bisa diperbaiki berdasarkan spesifikasikesalahannya. Untuk itu tidak perlu digeneralisir. Apalagi generalisasi itutidak berdasarkan suatu fakta kesalahan objektif. Apaagi generalisasi yangdilakukan itu, berdasarkan suatu pretensi tertentu. Semisal balas dendam, sakithati derta iri dan dengki. Kata-kata hikmah di atas, mengajarkan pada kitauntuk melihat suatu kesalahan secara objektif dan memperbaikinya. Bukan untuk digeneralisiratau untuk dizalimi. ****



 
ALUNAN SUARA SERULING PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   

 “Ketika alunan suara seruling tanpa kata, atau denting piano yang meliuk liuk syahdu terdengar di telinga kita ada rasa yang merambat ke hati apakah rasa sedih, rindu ataupun bahagia sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan pesuling atau pianisnya seandainya kita bicara dengan hati maka orang pun menerima pesannya dengan hati media penyampaian pun menjadi relatif”


(Mohammad Ichlas El Qudsi)

 

ImageSeni itu objektif atau subjektif? Pertanyaan ini mengalirkankan beberapa pendapat bahwa seni akan terdefinisi menjadi obyektif berdasarkan obyeknya. Demikian juga pendapat lain yang mengatakan seni merupakan sesuatu yang subjektif karena dipersepsikan oleh pendapat peribadi para penikmatnya. Ada juga yang berpendapat, seni dan keindahan adalah obyektif, manakala keindahan dilihat dari sudut pandang umum. Demikian juga seni dan keindahan akan terdefinisikan secara subyektif, manakala keindahan dilihat dari sudut pandang pribadi penikmat seni. Lorens Bagus (1995 : 987) menjelaskan, seni atau art biasanya dimaksudkan untuk menunjuk pada semua perbuatan yang dilakukan atas dasar dan mengacuh pada apa yang indah.

 

Secara umum, ada dua pemikiran atau aliran berkaitan dengan seni ini. Pertama, fungsional. Yaitu bahwa seni harus memiliki fungsi dan tujuan-tujuan tertentu yang umumnya berkaitan dengan moral. Kedua, ekspresional. Yakni satu pemikiran yang menyatakan bahwa seni tidak mempunyai tujuan dan mengejar tujuan di luar dirinya terkecuali tujuan dalam dirinya sendiri. Maksudnya adalah seni untuk seni atau seni bersifat otonom. Suara atau liuk-liuk nada yang bersumber dari seruling atau piano sebagaimana yang terungkap dalam kata-kata hikmah diatas, adalah salah satu media pengungkapan pesan moral sebagaimana yang dimaksudkan oleh aliran seni yang “pertama”. Bahwa ada aspek fungsional yang berkaitan dengan moral.

 

Aspek moral tersebut bisa saja merupakan pengungkapan dari kecintaan, kerinduan, keibahan dan ragam moral intrest yang berimpresi kemanusiaan. Makna hal ini mentahbiskan bahwa, seni dan rasa indah atas kesenian adalah suatu nilai subjektif yang mendudukkan perasaan manusia sebagai segala-galanya dalam seni. Di sini objek media “tidak menjadi soal”. Karena yang terpenting adalah seni bisa disubyektifikasikan dalam terminologi-terminologi moral fungsional. Berbeda dengan pendapat pertama, jika kita kupas kata-kata hikmah di atas berdasarkan perspektif seni menurut mainstream kedua, maka media atau objek adalah segala-galanya dari seni.

 

Tidak terlalu penting pesan moral dari sebuah kreasi seni tersampaikan atau tidak. Karena seni dalam pemahaman ini memiliki garis demarkasi sebatas pada otonomitas seni itu sendiri. Subjek atau penikmat seni menjadi urusan kesekian dari seni. Penekanan pesan yang ingin disampaikan dalam kata-kata hikmah diatas, seni harus bisa menjadi media manusia untuk menyampaikan berbagai hal. Baik itu kekeluhkesahan, kesedihan, kegembiraan bahkan kegilaan sekalipun. Karena seni merupakan sebuah penungkapan yang memiliki muatan nilai-nilai universal. Maka sampai disini, yang terpenting adalah pretensi moral dari seni. Bukan seni untuk seni. ****

 
SEBUAH MATA AIR PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
“Sebuah mata air terus memancarkan kebeningan air tanpa henti lalu mengalirkannya menjadi sebuah sungai kecil tak pernah berhenti hingga sumbernya kering. Seorang yang baik pun seperti itu terus berbuat kebajikan tanpa henti sampai tiada lagi yang dapat dilakukannya tak pernah berpikir apakah ia kan mendapatkan keuntungan dari apa yang diperbuatnya tersebut”

(Mohammad Echlas El Qudsi)


Berbuat baik itu ibarat mata air yang terus mengalir dan memberikan kesejukan. Kebaikan adalah dorongan dari dalam potensi diri manusia yang tak pernah berhenti. Setiap manusia, mempunyai potensi baik (good potential). Gerak sadar kebaikan manusia itu juga ibarat sebuah gerakan dinamis menuju ke titik kesempurnaan. Yang dimaksudkan menuju ke gerak kesempurnaan adalah mendekati kebaikan-kebaikan mutlak-Nya. Selama masih ada kebaikan mutlak, maka selama itu pula menusia tetap berkecenderungan pada nilai-nilai kebaikan.  

Esensi kebaikan
Inti kebaikan adalah, semua lakon hidup yang bisa memberikan ekses kebaikan pada siapapun. Baik terhadap manusia dan makhluk lainnya. Tidak menyakiti orang, apalagi melukai perasaan orang lain. Kebaikan yang demikian, merupakan gambaran stabilitas kondisi batin. Jika tidak, kehendak manusiawi akan bergeser dan cenderung mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang buruk. Gambaran situasi batin ini merupakan kecenderungan yang manusiawi. Sesuai hukum penciptaan manusia, yakni menaburkan kebaikan kepada seluruh isi alam. Kebaikan dan manusia adalah dua entitas yang saling mengandaikan. Manusia diciptakan untuk mentransformasikan kebaikan. Kebaikan akan ter-transformasikan, manakala manusia memahami hakekat utama mengapa ia diciptakan dan mengapa kebaikan penting dibumisasikan.

Kebaikan dan Keikhlasan
Kebaikan dan keikhlasan adalah ibarat dua mata uang (two sides of a coin). Kebaikan tanpa keikhlasan, akan mengakibatkan kebaikan tidak memiliki sisi keibadahan. Keibadahan di sini, tidak semata bermakna atau berorientasi vertikal semata, tepi pada aspek kemanusiaan. Karena menikmati kebaikan karena pamrih dan menikmati kebaikan atas dasar keikhlasan itu berbeda. Kebaikan yang dilakukan atas dasar pamrih, diujung-ujungnya selalu mengharapkan timpalan yang lebih atas kebaikan yang diberikan. Demikian juga sebaliknya kebaikan yang dilakukan atas dasar keikhlasan, dilakukan atas dasar dorongan dari dalam diri. Bisa diakibatkan karena keprihatinan, persahabatan, persaudaraan dan relasi hakiki sesama manusia. ****
 
PASIR PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Segenggam pasir akan menjadi sebongkah batu yang memiliki kekuatan tatkala melalui proses peningkatan kualitas yang panjang atau dengan cara yang tepat demikian juga dengan diri kita.
Februari 16, 2010

Mohammad Ichlas El Qudsi

Kualitas hidup itu penting. Itulah makna singkat yang kita tangkap dari kata-kata hikmah di atas. Kulitas hidup ini cakupannya luas. Baik menyangkut kualitas ragawi (fisik), maupun kualitas batiniyah (psikologis). Antara kualitas ragawi dan batiniyah adalah satu kesatuan. Fisik sebagai “wadah” dan psikis atau batin sebagi “isinya”. Dalam salah satu peribhasa Yunani, dikatakan “Mensana in corpore sano”. Artinya : “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Falsafah dari peribahasa Yunani ini, memiliki makna dan tujuan yang sama, yakni menciptakan kulitas hidup. Bahwa fisik dan jiwa adalah dua aspek yang saling mengisi untuk menciptakan kualitas kepribadian manusia secara utuh.

Dalam persitiwa alam, pasir merupakan salah satu substrat daratan yang terdapat di pinggir pantai. Pasir adalah contoh bahan material butiran. Butiran pasir umumnya berukuran antara 0,0625 sampai 2 milimeter. Materi pembentuk pasir adalah silikon dioksida, tetapi di beberapa pantai tropis dan subtropis umumnya dibentuk dari batu kapur.

Terlepas dari wujud materinya, ternyata pasir yang terbentang di pantai dan menyuguhkan keindahan panorama itu, adalah sebuah proses alamiah materi yang mengandung banyak hikmah. Diantara hikmahnya adalah : Pertama, pasir bisa berubah bentuk fisiknya, tapi zat tidak berubah. Hikmahnya terhadap manusia, adalah perubahan apapun itu, tetap berpijak pada otentisitas diri. Kedua, pasir mampu memberikan keindahan, bagi siapapun memandangnya. Ketiga, pasir mampu memberikan kemanfaatan bagi kehidupan manusia, seperti bahan bangunna, dan dapat digunakan sebagai bahan aksesori. Dengan contoh ini, ternyata pasir dengan kualitas dan nilainya, mampu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia dan makhluk lain yang berhabitat di dalamnya.

Dari semua peristiwa alam terkait pasir di atas, kita bisa merudksi hikmahnya dalam aplikasi kehidupan manusia. Karena manusia dalam hidupnya, selalu berproses mencari bentuk kualitas diri yang sebaik-baiknya. Pencarian bentuk kualitas sebagai manusia itu, dijalani dengan berbagai cara, baik dari aspek keimanan (spiritualitas), dari aspek hubungan antar sesama (sosial) dan menambah kulitas kognitif dengan ilmu pengetahuan. Hanya dengan ini, manusia bisa memantapkan kulitas dirinya. Sebagaimana penggalan kata-kata hikmah di atas, yang menghendaki agar, kulitas jati diri manusia adalah sebuah perubahan dalam mencari kulitas individu yang jauh lebih mumpuni. ****
 
Hikmah Buah Manggis PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Manggis memiliki buah dengan kulit ungu tua yang tidak menarik…Namun tetap disukai karena isinya putih dengan rasa yang manis yang luar biasa.. Bedak dan riasan tidak kan pernah mampu merubah diri kita..hanya sekedar menutupi kekurangan lahir…kenapa kita tidak berorientasi pada karakter bathin kita yang sejati…membangun, memperindah dan membuktikannya pada orang lain
(4 Agustus 2009)

Mohammad Ichlas EL Qudsi

Dalam bahasa anak-anak sekarang “BMW” alias bodi mengalahi wajah atau “tipuan kesing”. Ungkap seperti sering keluar dari mulut ABG saat ini, bila melihat seorang gadis yang seksi, tapi tidak ditunjangi oleh raut muka yang ayu kemayu atau cantik jelita. Namun kali ini, istilah BMW itu, kita pelintirkan menjadi WMS, alias wajah mengalahi sifat. Maksud dari perbendaharaan istilah yang kedua ini adalah, sifat atau karakter seseorang jauh lebih penting dari pada fisik atau kemasan luar lainnya.

Namun saat ini, demi kemoderenan, orang sering memprioritaskan tampilan dari pada isi. Atau lebih memprioritaskan kecantikan/ketampanan dari pada isi kepala. Meminjam istilahnya Nurcholis Majid (almarhum), orang sering terjebak pada kulit luar dari pada isi. Hal semacam ini sering pula kita lihat pada klaim modernitas. Masyarakat saat ini, suka berfantasi dengan klaim modernitas yang barat-sentris.

Dikiranya semua yang berbau moderen adalah westernistik. Dengan demikian beramae-rame manusia seantero Indonesia, merubah gaya hidup (life stayle) dan orientasi nilainya demi menggapai predikat modernisme. Dulunya minum “teh Sari Wangi”, dirubah pola minumnya dengan mengonsumsi coca-cola, bir, wine, anggur dan ragam minuman alkohol lainnya.
Tadinya makan “pisang goreng”, dirubah menjadi sering makan di KFC, Kentaki, McDonald, hot dog, pitza dan jenis makanan impor lainnya. Semua ini dilakukan demi klaim modernisme yang sifatnya outside view. Dalam pola berpakaian pun demikian, dari kebaya, daster dan pakaian-pakaian yang lebih berbudaya, dialihkan ke cuma bekini, short skirt dan bahkan ada yang setengah bugil di ruang publik. Dalihnya adalah “ala barat” biar terlihat moderen.

Peradaban modernisme yang positivistik, cenderung menggoda manusia dengan tampilan luar. Semua ini dilakukan untuk memuluskan doktrin kapital-materialisme yang berorientasi pasar. Betapa tidak, pola-pola yang telah disebutkan sebelumnya, merupakan bagian dari suplemen pasar yang sering menipu manusia. Apalagi pelengkap-pelengkap modernisme itu ditampilkan dengan kemasan iklan dan rekayasa visual yang menohok nafsu shopping bagi yang bersahwat pada tampilan eksklusif. Iklan-iklan itu mampu mempersuasi manusia, hingga tak berdaya dan takluk di bawah telapak kaki simbol dan kemasan.

Karakter lebih penting
Di tengah gegap-gempita ketertipuan masyarakat moderen “budaya mementingkan tampilan dari pada isi dan karaketr itu”, rasanya perlu kita luruskan, bahwa dalam hal apapun, substansi jauh lebih penting. Seseorang dengan tampilan yang mentereng, berlagak ala borju, sepatu dari Paris, celana impor dari Itali, makanannya keju dan burger, tapi jauh lebih penting, bila memiliki karakter yang baik, sopan, santun, ramah, bersahaja, jujur dan adil terhadap sesama.

Pesan itulah yang terimplisit dalam kata-kata hikmah di atas “Manggis memiliki buah dengan kulit ungu tua yang tidak menarik…Namun tetap disukai karena isinya putih dengan rasa yang manis yang luar biasa.. Bedak dan riasan tidak kan pernah mampu merubah diri kita..hanya sekedar menutupi kekurangan lahir…kenapa kita tidak berorientasi pada karakter bathin kita yang sejati…membangun, memperindah dan membuktikannya pada orang lain”. Kesimpulan yang dapat kita petik dari hikmah ini adalah, kemulian hidup seseorang, tidak dilihat dari tampilan luarnya, baik gaya hidup, kelas sosial dan kemewahan yang bersifat fisicly lainnya. Akan tetapi, kemuliaan hidup terletak pada karakter yang baik (akhlaqul karimah).
   

 
HIKMAH PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Moh. Ichlas El Qudsi, S.Si. M.Si   
Seekor Bajing
Agustus 18, 2009

Ketika seekor bajing hendak mencapai pucuk pepohonan, ia berloncatan melewati dahan-dahan dan ranting-ranting..dan ia tak melupakannya..karena saat ia turun ke bawah, ia pasti kembali menapaki dahan dan ranting tersebut agar sampai di bawah dengan selamat…Banyak diantara kita… yang hanya ingat dengan peran orang lain ketika mau naik untuk kemudian terabaikan..sehingga tergelincir dan terjerembat ketika turun.
Dasar Kesosialan Manusia

Dasar Kesosialan Manusia
Dalam Lucius Annaeus Seneca, (2000)". Homo Sacra, res homini Epistulae Morales iklan Lucilium , XCV, 33. dijelaskan, manusia adalah “makhluk sosial”. Atau dalam frasa latin di sebut dengan “Homo homini lupus”.

Terminologi manausia sebagai makhuk sosial ini, dapat diterjemahkan secara umum bahwa, manusia yang satu dengan lainnya, adalah suatu keberadaan (existence) yang saling membutuhkan (need each other). Dan hal itu yang sering nampak dalam atmosfer sosial kita, bahwa dalam hidupnya, antara manusia, selalu saling membutuhkan.

Rasa saling membutuhkan dan saling menopang itu, telah menumbuhkan rasa tolong menolong dan tenggang rasa yang terajut dalam batin persaudaraan manusia dengan kokoh. Persaudaran itu baik dalam bentuk sekeluarga, sesuku, sedaerah, dan sebangsa. 

Mungkin dalam hidup ini, kita pernah merasakan hal yang demikian. Dimana antar sesama, saling menopang untuk merengkuh kesuksesan tertentu dalam hidup. Hal-hal tersebut, merupakan nilai, atau substansi yang alamia dari sifat dasar manusia
Baca selebihnya...
 
Menghikmahi Tumbuhan Bambu PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
“Bambu memiliki cara yang unik dalam bertumbuh dengan merumpun dan menggandakan ruas serta mengoptimalkan panjang dan diameter ruas tersebut...hikmah yang dapat kita ambil adalah, bertumbuh memiliki aspek pembangunan komunitas yang tidak boleh ditinggalkan, mengembangkan berbagai aktivitas dan ranah serta mengoptimalkannya hingga memiliki nilai guna yg tdk kecil”.
 
(Mohammad Ichlas El Qudsi)


 Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan yang mempunyai batang berongga dan beruas-ruas, banyak sekali jenisnya dan banyak juga memberikan manfaat pada manusia. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru.

Di balik ragam nama dan fungsi itu, tumbuhan bambu mengandung arti dan makna filosofis yang dalam. Makna filosofis itu kemudian, berpautan dengan nilai-nilai edukasi hidup, yang bermanfaat dalam membangun jiwa.

Dalam ciri fisiologisnya, bambu tumbuh secara berumpun dengan menggandakan ruas serta mengoptibalkan panjang. Meski tumbuh secara berumpun, antara satu ruas dengan ruas yang lainnya tidak saling berparasit. Mereka seimbang dan saling menopang, untuk kelangsungan hidupnya

Jejak fisiologi bambu ini, seolah menguraikan untaian nilai yang begitu berharga. Bahwa jika setiap manusia meskipun berada dalam suatu komunitas secara bersama, namun tidak saling merugikan, menzalimi, iri, dengki, saling menghasut dan bermusuh-musuhan. Namun sebaliknya saling mengayomi, saling membesarkan secara berjejaring.

Hidup dengan memaknai falsafah tumbuhan bambu ini, akan membuat manusia tidak lupa diri dan selalu ingat asal-usulnya. Sebagaimana bambu, yang meskipun dari setiap ruasnya tumbuh dan berkembang menjadi bambu dewasa dengan panjang dan diameter yang berubah memanjang dan memembesar dari waktu ke waktu. Meskipun demikian, tumbuhan bambu tidak pernah beranjak dari rumpunnya. Demikian pun manusia. Sifat selalu ingat pada asal-usul adalah sifat yang akan membuat manusia rendah diri, tidak sombong apalagi takabbur.

Hikmah tumbuhan bambu juga mengajarkan manusia tentang pentingnya menjaga komunitas. Karena meski dengan pikiran dan ide besar, tapi ketika manusia tidak memiliki komunitas, maka pikiran-pikiran besar itu akan mengalami pengkerdilan. Karena terpenjara dalam individualitas.

Demikian pula, bila sesorang yang dibesarkan oleh komunitas, dan menjadi populer, berkedudukan, berpangkat, namun jangan pernah lupa dengan asal komunitas. Sebab komunitas asal adalah tempat kembali untuk saling berbagi untuk meneguk kebahagiaan yang sama. Seperti ketika berjuang dan berawal segalanya dari komunitas. Hikmah itulah yang dapat kita reduksikan dari makna falsafah pohon bambu. Makhluk ciptaan Tuhan yang memang sepintas terlihat berserahkan bahkan tak dianggap, tapi mengandung arti hidup yang dalam.
 
Belajar dari "Angin" PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Jika pernah melihat pusaran angin..terlihat bahwa semakin ketengah ia akan semakin kuat energinya..ia kan mampu meruntuhkan dan menghancurkan apapun jua yg ada didepannya.. aktifitas hidup ini juga seperti pusaran...semakin kita terlibat di dalamnya akan semakin besar pula kekuatan kita...tinggal kita memilih pusaran yg benar...

(Mohammad Ichlas El Qudsi)

Saya sulit mengidentifikasi, bahwa ini cerita berhikmah atau sebuah feature, tapi begini kisahnya “Ini Jakarta, apa-apa pake uang, mau gimana lagi mas, kita kerja apa saja yang penting halal”. Kata-kata itu menyelinap masuk ke dalam telinga saya, ketika berpapasan dengan dua orang pemungkut sampah yang sedang bercengkrama di sudut jalan Kayu Manis Jakarta Timur pada hari Sabtu 21 Mei 2010. Di tengah peliknya suasana hidup di Jakarta orang kecil dengan pengetahuan rendah berfikir tentang pekerjaan yang halal. Kesimpulan itu yang kira-kira tersimpan dalam folder  isi kepala dan batin saya.

Terasa kontras dengan dunia pemerintahan yang ditongkrongi banyak orang pintar berijaza pendidikan tinggi tetapi bermental rendah. Dalam satu bulan saja kita bisa mendengar dua, tiga, bahkan bisa-bisa sepuluh orang pintar yang melakukan “pekerjaan tidak halal”. Mereka pintar secara kognitif, pintar berdiplomasi, berdebat dan membayar pengacara ratusan juta asal orang percaya dengan omong kosongnya. Mereka tidak mampu berdialog dengan nuraninya. Sementara orang kecil, terpinggirkan, kumal, kusut dan ngesot di emperan jalan mampu berdialog dengan nuraninya.

Dalam kongres para psikolog baru-baru ini di Indonesia, mereka melahirkan suatu rekomendasi bahwa : “orang sakit adalah orang yang tidak mampu menjembatani perilaku sosialnya dengan norma etik masyarakat dan agama”. Lalu di sini saya melihat, jika kita menggunakan diagnosa para psikolog ini, maka hampir 75 % aparatur pemerintahan kita adalah “orang sakit”. Karena mereka tidak mampu mengendalikan nafsu untuk memiliki hak orang lain. Padahal para khatib, pastor, pandeta, tiap minggu tak pernah berhenti memberikan wejangan agama tentang pentingnya menjaga perilaku.

Lagi-lagi di sini pun terjadi suatu kontras sosial yang membuat kita manusia normal tercengang. Bahwa betapa orang pinggiran yang kita katakan kurang higienis, ternyata lebih sehat secara ruhiyah bila dibandingkan dengan orang-orang yang katanya hidup bersih, makanannya bebas dan terlindung dari virus dan bakteri, ternyata lagi-lagi tidak sehat secara ruhiyah.

Pada titik ini saya justru mempertanyakan, bahwa benarkah adagium masyarakat Yunani yang mengatakan “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (Mens sana in corpore san)” Atau adagium itu tidak berlaku untuk para aparatus pemerintahan di Indoensia? Sebab banyak orang pintar yang di lingkungan sosialnya ia dihargai, diberi status dielu-elukan. Tapi belakang namanya terpampang di beberapa headline surat kabar bahwa ia tersangka dalam beberapa kasus korupsi. Siapa yang pernah mengira, bahwa Gayus Tambunan, Anggodo, Jaksa Urip adalah orang-orang yang dilingkungannya dipuja dan elu-elukan oleh tetangga dan kerabatnya. Tapi belakang terlibat korupsi.

Haram saja Susah

Sambil melambatkan kaki, batin saya seolah merasa dikhotbai oleh kedua pemungut sampah yang bercengkrama itu. Dalam rekaman singkat itu saya mendengar,.salah satu diantara mereka berseloroh, “mas sekarang ini yang haram saja susah apalai yang halal”. Sepanjang jalan, saya berusaha mengkait-kaitkan nama beberapa pejabat dengan kasus korupsi di Indonesia. Bahwa apakah koruptor itu sulit mendapatkan harta yang halal hingga terpaksa nyolong yang bukan haknya (haram). Padahal tidak juga. Sebab mereka itu bisa jadi pejabat karena memiliki pangkatnya besar, rumah jabatan, tunjangan, mobil dinas, dapat fee sana sini tapi kok masih juga nakal sana sini menggarong, menggasak yang bukan haknya. Padahal mereka tidak susah-susah sekali. Apalagi sesusah pemungkut samapah yang saya temui itu.

Saya membayangkan seorang pencuri, pencopet atau penyamun sekalipun. Mereka melakukan itu karena lapar (meskipun semestinya tidak harus demikian). Tapi pejabat-pejabat itu tentu bukan orang lapar. Mereka makan di restoran, ngopi di cafe berkelas dengan harga segelas kopi Rp.35. 000. Belanja baju di Paris, medical chack-up di Singapura. Tapi kenapa masih suka mencuri. Lagi-lagi saya ingin meyakinkan hati saya bahwa mereka itu tentunya tidak lapar. Selapar Pemulung yang saya temui itu di Kayu Manis itu. Akhirnya saya merasa lebih baik menghikmahi apa yang disampaikan oleh pemulung sampah tadi, bahwa “kerja apapun itu yang penting halal, selalu merasa cukup asal tidak mengambil hak orang apalagi dalam jumlah yang tidak tanggung-tanggung”. Itulah energi hidup terkuat sebagaimana kata-kata hikmah tentang angin di atas***


 
Feature dan Hikmah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
“Kita barangkali dapat belajar dari semut soal efisiensi dan efektifitas..penggunaan lahan yg efisien dlm barisan..pergerakan dan komunikasinya yg tidak bertele-tele serta pencapaian target dan tujuannya yang jelas dan terukur..baik secara perorangan maupun berkelompok”

(Mohammad Ichlas El Qudsi)

Saya sulit mengidentifikasi, bahwa ini cerita berhikmah atau sebuah feature, tapi begini kisahnya “Ini Jakarta, apa-apa pake uang, mau gimana lagi mas, kita kerja apa saja yang penting halal”. Kata-kata itu menyelinap masuk ke dalam telinga saya, ketika berpapasan dengan dua orang pemungkut sampah yang sedang bercengkrama di sudut jalan Kayu Manis Jakarta Timur pada hari Sabtu 21 Mei 2010. Di tengah peliknya suasana hidup di Jakarta orang kecil dengan pengetahuan rendah berfikir tentang pekerjaan yang halal. Kesimpulan itu yang kira-kira tersimpan dalam folder  isi kepala dan batin saya
Terasa kontras dengan dunia pemerintahan yang ditongkrongi banyak orang pintar berijaza pendidikan tinggi tetapi bermental rendah. Dalam satu bulan saja kita bisa mendengar dua, tiga, bahkan bisa-bisa sepuluh orang pintar yang melakukan “pekerjaan tidak halal”. Mereka pintar secara kognitif, pintar berdiplomasi, berdebat dan membayar pengacara ratusan juta asal orang percaya dengan omong kosongnya. Mereka tidak mampu berdialog dengan nuraninya. Sementara orang kecil, terpinggirkan, kumal, kusut dan ngesot di emperan jalan mampu berdialog dengan nuraninya.

Dalam kongres para psikolog baru-baru ini di Indonesia, mereka melahirkan suatu rekomendasi bahwa : “orang sakit adalah orang yang tidak mampu menjembatani perilaku sosialnya dengan norma etik masyarakat dan agama”. Lalu di sini saya melihat, jika kita menggunakan diagnosa para psikolog ini, maka hampir 75 % aparatur pemerintahan kita adalah “orang sakit”. Karena mereka tidak mampu mengendalikan nafsu untuk memiliki hak orang lain. Padahal para khatib, pastor, pandeta, tiap minggu tak pernah berhenti memberikan wejangan agama tentang pentingnya menjaga perilaku.
    Lagi-lagi di sini pun terjadi suatu kontras sosial yang membuat kita manusia normal tercengang. Bahwa betapa orang pinggiran yang kita katakan kurang higienis, ternyata lebih sehat secara ruhiyah bila dibandingkan dengan orang-orang yang katanya hidup bersih, makanannya bebas dan terlindung dari virus dan bakteri, ternyata lagi-lagi tidak sehat secara ruhiyah.
Pada titik ini saya justru mempertanyakan, bahwa benarkah adagium masyarakat Yunani yang mengatakan “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (Mens sana in corpore san)” Atau adagium itu tidak berlaku untuk para aparatus pemerintahan di Indoensia? Sebab banyak orang pintar yang di lingkungan sosialnya ia dihargai, diberi status dielu-elukan. Tapi belakang namanya terpampang di beberapa headline surat kabar bahwa ia tersangka dalam beberapa kasus korupsi. Siapa yang pernah mengira, bahwa Gayus Tambunan, Anggodo, Jaksa Urip adalah orang-orang yang dilingkungannya dipuja dan elu-elukan oleh tetangga dan kerabatnya. Tapi belakang terlibat korupsi.

Haram saja Susah
Sambil melambatkan kaki, batin saya seolah merasa dikhotbai oleh kedua pemungut sampah yang bercengkrama itu. Dalam rekaman singkat itu saya mendengar,.salah satu diantara mereka berseloroh, “mas sekarang ini yang haram saja susah apalai yang halal”. Sepanjang jalan, saya berusaha mengkait-kaitkan nama beberapa pejabat dengan kasus korupsi di Indonesia. Bahwa apakah koruptor itu sulit mendapatkan harta yang halal hingga terpaksa nyolong yang bukan haknya (haram). Padahal tidak juga. Sebab mereka itu bisa jadi pejabat karena memiliki pangkatnya besar, rumah jabatan, tunjangan, mobil dinas, dapat fee sana sini tapi kok masih juga nakal sana sini menggarong, menggasak yang bukan haknya. Padahal mereka tidak susah-susah sekali. Apalagi sesusah pemungkut samapah yang saya temui itu.

Saya membayangkan seorang pencuri, pencopet atau penyamun sekalipun. Mereka melakukan itu karena lapar (meskipun semestinya tidak harus demikian). Tapi pejabat-pejabat itu tentu bukan orang lapar. Mereka makan di restoran, ngopi di cafe berkelas dengan harga segelas kopi Rp.35. 000. Belanja baju di Paris, medical chack-up di Singapura. Tapi kenapa masih suka mencuri. Lagi-lagi saya ingin meyakinkan hati saya bahwa mereka itu tentunya tidak lapar. Selapar Pemulung yang saya temui itu di Kayu Manis itu. Akhirnya saya merasa lebih baik menghikmahi apa yang disampaikan oleh pemulung sampah tadi, bahwa “kerja apapun itu yang penting halal, selalu merasa cukup asal tidak mengambil hak orang apalagi dalam jumlah yang tidak tanggung-tanggung”. ***

Penulis adalah Anggota DPR-RI dari Dapil I Sumatra Barat
 



 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 14 dari 19