|
Selamatkan Islam dari Muslim Puritan |
|
|
|
|
Ditulis oleh *) Robby H. Abror, Sekretaris Ikatan Keluarga PondokModern (IKPM) Gontor Cabang Yogyakarta. Staf Pen
|
|
Judul Buku: Selamatkan Islam dari Muslim Puritan Penulis: Khaled Abou El Fadl Cetakan: I, Desember 2006 Tebal: 388 halaman Penerbit: Serambi, Jakarta Membongkar Ideologi Muslim Puritan Di era modern ini banyak terdapatklaim kontradiktif yang dibuat atas nama Islam. Jika seseorang bertanya tentangIslam, maka berbagai tanggapan langsung bisa diperoleh begitu saja tergantungkepada siapa kita bertanya. Multiperspektif yng muncul belakangan terhadapIslam sangat terasa pasca serangan teroris 11 September 2001. Orang-orang Baratkerap mengeluhkan sulitnya mempelajari apakah Islam mendukung atau menolak praktiktertentu, seperti soal: penyanderaan, bom bunuh diri, jihad, dan kewajibanperempuan untuk berjilbab.
Pada faktanya, ada skisma antara muslim moderat dan kelompok puritan dalamIslam. Baik yang moderat maupun puritan mengklaim diri sebagai representasiIslam yang paling benar dan otentik. Keduanya yakin bahwa merekamerepresentasikan pesan Ilahi yang berakar di dalam Al-Quran dan Hadits. Tetapikaum puritan menuduh kaum moderat telah menggubah Islam sehingga bisamerusaknya. Sebaliknya, kaum moderat menuding kaum puritan itu naif danproblematis karena telah salah menerapkan Islam sehingga mencemarkan agama itusendiri. Dalam bahasa lain, kaum puritan ini dapat dideskripsikan dengan istilahfundamentalis, militan, ekstremis, radikal, fanatik, jahidis, dan islamis.Sedangkan kaum moderat digambarkan sebagai kelompok modernis, progresif danreformis, meskipun Abou El Fadl sendiri sebenarnya menolak menyamakanistilah-istilah tersebut untuk menggantikan kata moderat (hlm.27). Dalam sejarah Islam, awal kebangkitan kaum puritan dimulai dari kaum Wahhabi.Kaum Wahhabi telah memengaruhi setiap gerakan puritan di dunia Islam di erakontemporer. Taliban dan al-Qaeda merupakan contoh kelompok Islam yang sangatkuat dipengaruhi oleh pemikiran Wahhabi. Dasar-dasar teologi Wahhabi dibangun oleh seorang fanatik abad ke-18 yaituMuhammad ibn 'Abd al-Wahhab. Dengan semangat puritan, 'Abd al-Wahhab hendakmembebaskan Islam dari semua perusakan yang diyakininya telah menggerogotiIslam, seperti tasawuf, tawassul, rasionalisme, ajaran Syiah dan berbagaipraktek inovasi bid'ah. Wahhabisme memperlihatkan kebencian yang luar biasa terhadap semua bentukintelektualisme, mistisisme, dan sektarianisme. 'Abd al-Wahhab sendiri gemarmembuat daftar panjang keyakinan dan perbuatan yang dinilainya munafik, yangbila diyakini atau diamalkan akan segera mengantarkan seorang muslim berstatuskafir. Kaum Wahhabi juga melarang penggunaan gelar penghormatan, seperti"tuan", "doktor", "mister", atau "sir".Imbuhan seperti itu adalah sebentuk penyekutuan terhadap Tuhan. Menggunakannyabisa menjadikan seorang muslim berstatus kafir. Kaum Wahhabi menyikapi teks-teks agama—al-Quran dan Sunnah—sebagai satuinstruksi manual untuk menggapai model ideal dari negara kota Madinah yangtelah dibangun Nabi. Menurut mereka, umat Islam akan terbebas dariketerbelakangan dan keterhinaan kolektif jika mau kembali berpegang pada ajaranTuhan karena akan mendapatkan bantuan dan dukungan-Nya. Kesederhanaan, ketegasan, dan absolutisme pemikiran keagamaan 'Abd al-Wahhabmenjadikannya menarik bagi sebagian umat Islam. Tetapi dalam penyebarannya,Wahhabisme tidak menggunakan benderanya sendiri. Mengingat asal-usul keyakinanWahhabi yang marjinal, persebaran yang bersifat massif sulit dilaksanakan. Diera modern, Wahhabisme menyebar ke dunia muslim di bawah bendera Salafisme yangberdiri pada abad ke-19. Salafisme dimotori oleh para reformis muslim sepertiMuhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, Al-Syaukani dan JalalusShan'ani dan kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyimal-Jauziyyah. Istilah salaf berarti "pendahulu", dan dalam konteks Islam, pendahulu itumerujuk pada periode Nabi, para sahabat (salafus saleh), dan tabiin . Selainitu, istilah tersebut punya makna fleksibel dan lentur serta memiliki dayatarik natural, karena melambangkan otentisitas dan keabsahan. Istilah salafidimanfaatkan oleh setiap gerakan yang ingin mengklaim berakar pada otentisitasIslam. Meskipun awalnya istilah itu dipakai kaum reformis liberal pada awalabad ke-20, kaum Wahhabi menyebut dirinya kaum Salafi. Tetapi hingga tahun1970-an istilah itu tidak terkait dengan keyakinan Wahhabi. Berbeda dengan Wahhabi, Salafi tidak membenci tasawuf. Para ilmuwan Salaficenderung terlibat dalam praktek talfiq, yaitu memadukan beragam opini darimasa lalu demi memunculkan pendekatan baru terhadap berbagai problematika yangmuncul. Lantaran cinta dan kepedulian terhadap agama mereka baik kaum Salafi maupunWahhabi sangat teguh membela keyakinan mereka dengan menampik tuduhan-tuduhanyang mempersalahkan Islam. Seruan untuk melakukan instrospeksi kritis, dalampandangan kelompok ini, sama dengan menuduh Islam sebagai sesuatu yang taksempurna atau cacat, dan dapat dimengerti bila mereka sangat tersinggung dengantudingan tak langsung semacam itu. Kaum puritan dan moderat merupakan produk modernitas yang sekaligus inginmenjawab tantangan modernitas. Perspektif mereka selalu berlawanan. Masa depanIslam ditentukan oleh seberapa besar peran dan sumbangsih keduanya untukmengharumkan agama Islam serta memberikan bukti-bukti impresif dalam bidangkemajuan keilmuan bagi maslahah kemanusiaan. Buku ini bisa menjadi jembatanbagi ketegangan perspektif yang sering meruncing serta membukakan pintu dialogyang lebih terbuka demi memperjuangan jiwa Islam. |
|
Ditulis oleh Penulis : Insan Sains
|
|
Penulis : Insan Sains Penerbit : Indie Publishing Tahun : 2010 ISBN : 978-602-97031-1-5 Sepeti berdialog langsung, menyelami isi hati penulisnya dan kita seolah berpetualang ke dalam dunia bathinnya yang dalam. Kisah hikmah dalam buku ini mengalir lembut seperti embun yang merayap di atas kulit daun, jangan disangka jika yang lembut itu tak memberi goresan yang luar biasa, justru sangat dalam jejak yang ditinggalkannya. Membaca buku ini memberikan cara lain untuk menikmati ramadhan.
Fitrah manusia itu baik, selalu merindukan kebenaran, karena manusia di ciptakan oleh Dzat yang Maha baik, Dzat yang Maha Benar. Karena itu, sungguh manusia jika dalam kesadarannya yang paling dalam selalu ingin mendapatkan dan mendekati kebenaran yang Haq. Mirip perjalanan embun diatas daun yang perlahan mencari jalan untuk menetes ke tanah, yang hakikatnya diamana pun air berada, zat tersebut tengah mencari jalan untuk kembali ke samudera tempat ia berasal dan berkumpul. Namun keberadaan air tersebut akan menghantarnya pada ragam dan liku pencapaian keinginannya untuk kembali ke samudera. Demikian pun manusia. Dalam kondisi terbaik dan terburuknya, manusia tengah mencari jalan dan momentum yang tepat untuk kembali kepada fitrahnya, yakni kebaikan dan kebenaran. Buku ini merupakan catatan perjalanan embun setiap pagi yang sejuk, ringan, jernih dan memberikan ibrah dalam melihat jalan dan momentum untuk kembali pada fitrah bagi pembacanya dalam menyambut dan menikmati pencarian kebaikan dan kebenaran di bulan yang Mulia, Ramadhan. Sebuah pencerahan yang menginspirasi. Penulis menggunakan bahasa yang lugas, dan mudah dicerna. Gaya penuturannya yang tersirat kesan semangat yang tinggi menghantarkan pembaca pada perasaan yang sama. Sangat luar biasa. Semangat muda yang kentara dari cara penuturannya sangat mewakili semangat Ramadhan yang bergejok penuh cinta. Pengkajian peristiwa yang kekinian, kemudian membahasnya dalam persfektif Islam menjadi daya tarik yang cukup baik. Tema dalam babnya sederhana, aktivitas kehidupan sehari-hari, karenanya begitu mengena sebagai bahan introfeksi diri dan perbaikan yang ‘berkesinambungan’ pada pribadi setiap muslim. Namun buku ini pun tidak luput dari beberapa hal yang wajar adanya, yakni kekurangan. Beberapa penjelasan dari bab yang dibahas buku tersebut terlalu singkat. Bahkan ada bab yang mana penulis seperti hanya menulis sebuah pengantar, tanpa memberi ‘isi. Penulis sendiri memasukan beberapa penggalan syair atau kutipan tanpa ada penjelasan pada bagian footnote atau kepustakaan. Serta beberapa kata-kata asing yang tidak diberi keterangan artinya, itu bisa membuat pembaca yang tidak terbiasa dengan kata-kata tersebut akan sedikti mengurangi kefahaman mereka dalam mencerna tulisan penulis. Sebagai akhir, terlepas dari beberapa kekurangan buku yang dipaparkan diatas, June merekomendasikan buku ini untuk menjadi teman menikmati waktu bersama dzikir dan al-Quran di bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat. Alhamdulillah. J.U.N.E Al-Billah.. |
|
Ditulis oleh Seno Gumira Adjidarma
|
Judul: Trilogi Insiden Penulis : Seno Gumira Adjidarma Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta Tahun: I, April, 2010 Halaman: 452 halaman
Sastra tidak sama dengan jurnalistik. Namun, ketika jurnalistik mengalami keterbatasan dalam mengungkapkan realitas, maka sastralah yang dapat menggantikannya. Itulah yang ingin disampaikan lewat buku ini.
Trilogi Insiden terdiri dari tiga buah buku, yakni Saksi Mata, Jazz Parfum dan Insiden, serta Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Bicara. Semuanya pernah terbit ketika Orde Baru masih berkuasa. Seperti diketahui, pada masa itu, penguasa begitu membatasi gerak pers. Pembatasan-pembatasan inilah yang membuat pers tidak bebas dalam mengungkapkan fakta-fakta yang ditemui secara terbuka. Apalagi fakta tersebut berbenturan dengan kepentingan kekuasaan.
Jika pers mencoba untuk tetap keras kepala, ancamannya tidak tanggung-tanggung, yakni pencabutan SIUPP (Surat Ijin usaha Penerbitan Pers) alias breidel. Kondisi inilah yang membuat pers tidak dapat menjalankan tugasnya secara maksimal. Itulah latar belakang mengapa ada kebutuhan untuk mengungkapkan fakta lewat sastra. Seperti yang terlihat pada bagian pertama buku ini, Saksi Mata. Penulis buku ini, Seno Gumira Adjidarma, tampak ingin memperlihatkan apa yang terjadi di Timor Timur terutama sekitar kekerasan yang dilakukan militer terhadap masyarakat sipil pada insiden Dili di penghujung tahun 1991.
Tentu saja catatan kekerasan seperti itu tidak pernah bisa diakses lewat media yang beredar di Indonesia kala itu. Sebab pemberitaan peristiwa yang mendapat sorotan internasional itu dapat dicap sebagai berita yang mengganggu stabilitas nasional.
Kecenderungan yang sama juga tampak dari bagian kedua buku ini, yaitu Jazz, Parfum, dan Insiden. Jika dibaca selintas, kumpulan cerita pendek dalam bagian ini seperti sulit untuk diterjemahkan. Sulit sekali mencari “pintu gerbang” yang menghubungkan antara musik jazz, parfum dan insiden.
Namun jika pembaca menelaahnya secara lebih teliti, maka hubungan itu akan lebih jelas. Jazz dalam buku ini bukan sekadar musik. Di sini jazz adalah simbol kegelapan, kepedihan, dan duka yang menyayat-nyayat.
Lalu, tiupan terompet Miles Davis bukan sekadar alunan nada, namun juga seruan kepedihan, alunan kisah-kisah sedih orang-orang yang tersingkirkan. Hal yang lebih penting lagi, Miles Davis meninggal 48 hari sebelum insiden penembakan terhadap orang-orang tidak bersenjata itu terjadi (hal. 204). Kita sudah dapat menduga, teks ini merujuk kepada insiden Dili.
Pada bagian tiga buku ini, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, Seno menuliskan sejumlah esai berkaitan dengan dunia jurnalistik. Sebagian berisi pengalamannya ketika menjadi pemimpin redaksi di majalah Jakarta Jakarta.
Dalam esai-esai tersebut ia mengisahkan ketakutan yang dialami pers bahkan telah memaksa pemimpin grup majalah tempatnya bekerja melakukan intervensi pada kebijakan redaksi. Pemberitaan yang dilakukan Jakarta Jakarta dianggap berlebihan, sehingga sejumlah orang harus “dipindahkan” ke media lain dalam grup yang sama.
Kini, di tengah iklim pers yang lebih bebas, penerbitan Trilogi Insiden memang terkesan tidak lagi kontekstual. Namun ada dua hal yang mesti dicatat. Pertama, penerbitan buku ini mengingatkan bahwa ada sejarah kelam yang dialami pers maupun masyarakat sipil oleh kekuasaan.
Kedua, kebebasan pers pada masa ini tetap terancam. Lemahnya undang-undang dan kapitalisasi media adalah ruang-ruang yang masih dapat digunakan untuk melemahkan keberadaan pers.*** |
|
Ditulis oleh Administrator
|
Judul Buku : Dari Teologi Menuju Aksi Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan Penulis : Abad Badruzaman Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta Cetakan : Pertama, April 2009 Tebal : xv + 303 halaman Harga : Rp 35.000,-
Mohammad Ichlas El Qudsi, S.Si. M.Si
Nilai kehidupan apapun di dunia ini, selalu memiliki prospek akhir pada nilai-nilai sentral ketuhanan (teologi). Baik dalam ranah sosial, politik, ekonomi serta ranah kehidupan lainnya. Dan nilai-nilai teologi tersebut, senantiasa berimpresi pada hubungan Tuhan-Manusia-Alam.
Namun, sebagai makhluk mikro kosmos, hubungan Tuhan-Manusia-Alam itu, bersiklus pada manusia, sebagai pusat orbit kehidupan. Sebab itu, setiap nilai teologi, menjadikan kemakmuran hidup manusia sebagai standar kebenaran nilai tersebut. Baik nilai yang bersumber dari Tuhan (kitab suci) maunpun manusia (norma, hukum undang-undang dan hukum duniawi lainnya).
Dalam bukunya yang berjudul Dari Teologi Menuju Aksi ini, Abad Badruzaman juga ingin membedah sisi teologi fungsional, dalam memberikan daya dorong keberpihakan dan ke-pembela-an terhadap hak orang-orang lemah yang tertindas. Dan wujud praksis dari kesadaran ke-bertuhan-an itu adalah, menciptakan keadilan ekonomi, sosial dan politik bagi ummat manusia (terutama orang-orang kecil yang terpinggirkan).
Masih dalam trayek kesadaran teologi, menukil Asghar Ali Engineer dalam teologi pembebsannya, dijelaskan, “kesadaran kebertuhanan itu akan menjadi kering dan hilang sisi maknawinya, manakala dalam mendefenisi dan mengejawantahkannya tidak menunjukkan sisi keberpihakan pada ummat manusia”. Banyak ketidakadilam dan penindasan hak orang-orang lemah yang harus dibela dengan kesadaran teologi diamksud.
Nukilan kajian Asghar Ali Engineer soal teologi diatas, sangat tepat kita jadikan pijakan, sebagaimana ajakan penulis buku ini bahwa, sebatas keyakinan pada nilai-nalai teologi saja tidak cukup, ketika nilai-nilai tersebut tidak dibumisasikan dalam praktek kehidupan sosial. Dan kesadaran demikian harus mengilhami setiap orang, lebih khusus para pemipin, untuk menjadikan teologi keberpihakan sebagai paradigma utama dalam kepemimpinannya.
Golongan orang-orang tertindas yang dimaksudkan Abad Badr dalam buku ini adalah mereka-mereka yang lemah, tidak berdaya dan tertindas akibat struktur sosial yang tidak adil. Atau mereka-mereka yang terpinggirkan akibat suatu kebijakan penguasa yang tidak populis. Seperti masyarakat miskin, papa, anak-anak jalanan, masyarakat yang tergusur dan mereka-mereka yang terintimidasi akibat stigma politik masa lalu.
Munculnya istilah kolompok lemah ini, karena antonim dari yang kuat. Dalam keadaan yang sebenarnya, dan sesuai prinsip hukum sebab akibat, tidak mungkin ada kaum lemah yang tertindas, jika tidak ada kaum kuat yang menindas. Secara umum, pasti ada kaum lemah dan kuat. Akan tetapi, penindasan itu bukanlah sesuatu yang wajar. Karena manusia diciptakan untuk membumikan keadilan. Dan membebaskan manusia lainnya dari keterbelengguan dan berbagai kezaliman.
Dalam pendekatan apapun, penindasan adalah hal yang tidak dibenarkan. Karena mengakibatkan hilangnya takaran keseimbangan sosial. Kaum lemah yang tertindas akan menjadi terpinggirkan dan menderita, sementara kaum kuat yang menindas akan semakin mapan dan menikmati kesejahteraan hidup secara tidak adil.
Banyak ibrah yang telah kita saksikan, bahwa dari ketertindasan tersebut, banyak rakyat di negeri ini yang belum 100% menikmati keadilan dan kemakmuran. Akibat hidupnya yang terkekang dan tertindas oleh struktur sosial yang tidak berpihak. Saat ini, pemimpin dengan nalar teologi yang membebaskan sangat diharapkan agar aspirasi dan histeris orang-orang kecil itu, dapat disuarakan, untuk mendapatkan keadilan yang sepatutnya.
Mereka yang Tertindas
Dalam buku setebal 303 halaman ini Badruzaman menjelaskan bahwa, yang termasuk golongan tertindas adalah masyarakat dengan status ekonomi rendah. Mereka adalah orang-orang miskin yang tidak diberdayakan. Mereka adalah petani yang tidak dipedulikan, buruh yang dihargai dengan upah yang rendah, pembantu rumah tangga yang dilecehkan atau dianiayah, serta anak-anak jalanan yang kesehariannya dihardik oleh mereka yang bermobil mewah, bersepatu licin, berdasi, “yang setiap harinya selalu berceloteh tentang rakyat”. Tapi seolah buta dan tuli dengan kondisi sosial di sekitarnya.
Melalui buku berjudul Dari Teologi Menuju Aksi; Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan, penulis hendak mengajak para pembacanya untuk menjadi jiwa-jiwa pembebas penindasan. Memperjuangkan nasib rakyat kecil. Dengan tulisannya yang renyah tapi sedikit menggugat ini, nampaknya penulis ingin mengajani nurani pembaca, bahkan pemimpin negeri ini, untuk sensitif dan tanggap terhadap nasib orang-orang kecil yang kian hari kian teranggut hak-haknya sebagai manusia. *** |
|
Ditulis oleh Administrator
|
Judul Buku : The HP Way Tebal buku : 225 Halaman Penulis : David Packard Penerbit : Profesional Books
Mohammad Ichlas El Qudsi
Pada tanggal 23 Agustus 1937, dua insinyur baru-lulus, bertemu untuk mempertimbangkan gagasan untuk mendirikan sebuah perusahaan baru. Mereka menaruh pikiran mereka untuk kertas, dimulai dengan pernyataan umum tentang desain dan pembuatan produk di bidang teknik listrik, diikuti dengan pernyataan mengejutkan: "Pertanyaan apa yang harus ditunda manufaktur..."
Kemudian, mereka brainstorming ide-ide, membuat daftar panjang kemungkinan produk. Mereka dianggap amplifier piringan hitam. Mereka menganggap kontrol AC. Mereka dianggap sebagai penerima televisi, peralatan las, dan sistem alamat publik. Mereka bahkan dianggap peralatan medis (membuat jalur khusus untuk menghindari "perdukunan"). Selama mereka bisa memberikan kontribusi teknis, produk apapun akan permainan yang adil untuk mendapatkan perusahaan keluar dari garasi. Pada bulan-bulan setelah pertemuan pertama, para insinyur muda terus mereka start-up hidup dengan proyek-proyek kontrak, termasuk mesin goncang shock elektronik untuk membantu orang menurunkan berat badan. Akhirnya, mereka memukul atas osilator audio dan menjual delapan unit menjadi Walt Disney, penghasilan pendapatan perusahaan pertama substansial.
Dalam mengajar sebuah kelas pada kewirausahaan di Stanford Graduate School of Business di awal 1990-an, saya akan memulai sesi kelas pertama dengan membaca catatan pendiri dari pertemuan 1937, hati-hati untuk menyamarkan nama-nama pendiri. Lalu aku akan menantang mahasiswa saya: "Beri nilai situs ini dihidupkan pada skala 1 sampai 10, dan mencatat kekuatan dan kelemahan pendekatan mereka." Nilai rata-rata adalah sekitar 3, saya mahasiswa MBA peledakan pendiri karena tidak fokus, kurangnya ide bagus, kurangnya pasar yang jelas, kurangnya segala hal yang akan memperoleh nilai lulus di kelas rencana bisnis. Lalu aku akan berkata, "Oh, satu lagi detail kecil. Nama-nama para pendiri adalah Bill Hewlett dan David Packard."
Para siswa duduk diam terpaku. Bagaimana ini bisa? "Tapi kami mengajarkan bahwa Anda memerlukan pemahaman yang jelas tentang bagaimana Anda akan menciptakan keunggulan kompetitif-ide bagus untuk meluncurkan sebuah perusahaan."
"Tapi mereka punya ide-besar sumber utama dari keuntungan kompetitif-jika Anda hanya bisa melihat itu," Aku akan mendorong kembali. "Apa yang mungkin?" Setelah sepuluh menit atau lima belas, seseorang mungkin akan suara titik kunci: Bill Hewlett dan David Packard produk terbesar bukan osilator audio, kalkulator saku atau komputer mini ini. Produk mereka terbesar adalah Hewlett-Packard dan ide mereka yang terbesar adalah The Way HP.
Buku ini luar biasa, yang David Packard menulis lama sebelum kematiannya, menguraikan sejarah perusahaan dan pengembangan Jalan HP. Jalan HP mencerminkan nilai-nilai inti pribadi Bill Hewlett dan David Packard, dan penjabaran nilai-nilai tersebut ke dalam seperangkat praktik operasi, norma-norma budaya, dan strategi bisnis. Intinya adalah tidak bahwa setiap perusahaan selalu harus mengadopsi spesifik dari HP Way, tapi itu Hewlett Packard contoh dan kekuatan membangun sebuah perusahaan yang berbasis pada kerangka prinsip-prinsip. Esensi inti dari Jalan HP terdiri dari lima sila dasar .* 1) Perusahaan Hewlett-Packard ada untuk memberikan kontribusi teknis, dan hanya harus mengejar kesempatan yang konsisten dengan tujuan ini; 2) menuntut perusahaan Hewlett-Packard dengan sendirinya dan perusahaan orang-menguntungkan pertumbuhan kinerja yang unggul merupakan tujuan dan ukuran keberhasilan yang abadi; 3) Perusahaan Hewlett-Packard berpendapat hasil terbaik datang ketika Anda mendapatkan orang yang tepat, mempercayai mereka, memberi mereka kebebasan untuk menemukan jalan terbaik untuk mencapai tujuan , dan membiarkan mereka berbagi dalam penghargaan pekerjaan mereka memungkinkan; 4) Perusahaan Hewlett-Packard memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi langsung kepada kesejahteraan masyarakat dimana perusahaan beroperasi; 5) Integritas, titik.
Hari ini, kita mengambil prinsip-prinsip Jalan HP hampir untuk diberikan, tapi ketika pertama kali dirumuskan, mereka visioner-memang cukup radikal untuk kali. Pada tahun 1949, David Packard, menghadiri pertemuan para pemimpin bisnis. Saat hari berlalu, Packard menjadi semakin frustrasi dengan perspektif, paroki kecil berpikiran CEO sesama. Peering turun dari 6 '5 tubuhnya ", 37 tahun Packard menyuarakan pandangan sebaliknya: Sebuah perusahaan memiliki tanggung jawab di luar membuat keuntungan bagi pemegang saham; ia memiliki tanggung jawab untuk mengenali martabat karyawan sebagai manusia, ke kesejahteraan dari para pelanggan, dan untuk masyarakat pada umumnya. Packard kemudian tercermin dalam pidato dimulainya College Colorado 1964: "Saya terkejut dan terkejut bahwa tidak satu orang pada pertemuan itu setuju dengan saya. Sementara mereka cukup sopan dalam perselisihan mereka, cukup jelas mereka sangat yakin saya tidak salah satu dari mereka, dan jelas tidak memenuhi syarat untuk mengelola sebuah perusahaan penting. "
Hewlett Packard dan menolak ide bahwa perusahaan ada hanya untuk memaksimalkan keuntungan. "Saya rasa banyak orang menganggap, salah, bahwa perusahaan yang ada hanya untuk membuat uang," memuji Packard kepada sekelompok manajer HP pada tanggal 8 Maret 1960. "Meskipun ini merupakan hasil penting dari keberadaan perusahaan, kita harus pergi lebih dalam untuk menemukan alasan yang nyata bagi kita." Dia kemudian meletakkan landasan konsep Jalan HP: kontribusi. Apakah produk kami menawarkan sesuatu yang unik-baik itu kontribusi teknis, tingkat kualitas, memecahkan masalah-untuk pelanggan kami? Apakah masyarakat di mana kita beroperasi kuat dan kehidupan dari karyawan kami lebih baik daripada mereka akan tanpa kita? Apakah kehidupan masyarakat membaik karena apa yang kita lakukan? Jika jawaban untuk semua pertanyaan ini adalah "tidak", maka Hewlett Packard dan HP akan dianggap gagal, tidak peduli berapa banyak uang perusahaan itu kembali kepada para pemegang saham.
Sebagian besar pengusaha mengejar pertanyaan "Bagaimana saya bisa berhasil?" Dari hari pertama, Hewlett Packard dan mengejar pertanyaan yang berbeda: "Apa yang bisa kita berkontribusi?" dan kesuksesan yang luar biasa sehingga HP tercapai. Ini sukses, pada gilirannya, memungkinkan mereka untuk berinvestasi lebih dalam membuat kontribusi, yang menghasilkan keberhasilan yang lebih besar, yang menyebabkan kontribusi meningkat, yang menciptakan keberhasilan yang lebih besar. Lingkaran kebaikan ini akhirnya diaktifkan dan Hewlett Packard secara pribadi memberikan kontribusi pada tingkat yang jauh melampaui apa yang mereka akan berani untuk membayangkan sebagai laki-laki muda. Pada tahun 1995, Packard menghadiri makan malam di Universitas Stanford. Mantan dekan teknik Jim Gibbons disebutkan untuk Packard bahwa, dengan perhitungan kasar, ia dan Hewlett telah menyumbangkan berdasarkan nilai sekarang sebanyak ke Stanford sebagai Jane dan Leland Stanford telah diberikan kepada dana universitas. Seperti Gibbons terkait dalam edisi Juni 1996 majalah Stanford, Packard menunjukkan sesuatu yang jarang diizinkan: sesaat terlihat bangga. Itu berlalu dengan cepat, dan semua Packard mengatakan, "Itu sangat menarik." Kemudian, setelah kematiannya, Packard diwariskan hampir semua $ 5600000000 kekayaannya ke yayasan amal.
Namun, jika Anda adalah untuk memikirkan David Packard dan Jalan HP sebagai semua tentang kebaikan dan amal, Anda akan sangat keliru. Hewlett Packard dan menuntut kinerja, dan jika Anda tidak bisa memberikan, Jalan HP diadakan tidak ada tempat bagi Anda. Pada tahun 1978, Bill Krause, maka manajer pemasaran HP (dan kemudian ketua 3COM), memberikan presentasi untuk manajemen senior tentang isu-isu HP kepuasan pelanggan dalam divisi komputer. Delapan tahun sebelumnya, Krause telah diletakkan untuk bulan di rumah sakit setelah kecelakaan mobil, dan Packard pribadi dipanggil untuk meyakinkan Krause bahwa tugasnya adalah aman. Menurut Krause's account di San Jose Mercury News (27 Maret 1996), David Packard menunjukkan sisi lebih sulit ketika ia memotong penjelasan Krause untuk kinerja yang kurang-bintang. "Kepuasan pelanggan tidak ada duanya adalah satu-satunya tujuan yang dapat diterima," tegur Packard. "Jika Anda tidak dapat memimpin organisasi Anda untuk mencapai tujuan tersebut, saya yakin kita dapat menemukan seseorang yang bisa."
Di sinilah kita menemukan DNA tersembunyi dari Jalan HP: kejeniusan dari Dan. Memberikan kontribusi teknis dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Mengurus orang-orang dan hasil permintaan. Set teguh standar dan memungkinkan fleksibilitas operasi besar. Mencapai pertumbuhan dan mencapai profitabilitas. Membatasi pertumbuhan ke arena kontribusi yang berbeda dan menciptakan arena baru pertumbuhan melalui inovasi. Jangan kompromi integritas dan selalu menang di bidang yang Anda pilih. Kontribusi masyarakat dan memberikan imbal hasil pemegang saham luar biasa. Di balik spesifik ini terletak terbesar "Dan" dari semua, prinsip yang mendasari setiap perusahaan benar-benar hebat: melestarikan inti dan mendorong kemajuan.
Setiap perusahaan besar sosial-apakah itu perusahaan besar, universitas besar, sebuah lembaga keagamaan yang besar, atau yang besar bangsa-mencontohkan sebuah dualitas kesinambungan dan perubahan. Di satu pihak, dipandu oleh seperangkat nilai-nilai inti dan tujuan mendasar yang sedikit perubahan dari waktu ke waktu, sementara di sisi lain, merangsang kemajuan-perubahan, perbaikan, inovasi, pembaharuan-dalam semua yang bukan bagian dari inti membimbing filsafat. Dalam sebuah perusahaan besar, nilai-nilai inti tetap tetap sementara praktik operasi, norma-norma budaya, strategi, taktik, proses, struktur, dan metode terus berubah sebagai respons terhadap realitas perubahan. Lose nilai-nilai inti Anda, dan Anda kehilangan jiwa, menolak untuk mengubah praktek Anda, dan dunia akan berlalu begitu saja. Mereka yang membangun lembaga yang paling ikonik dan abadi mengetahui perbedaan antara apa yang benar-benar suci dan apa yang tidak, antara apa yang seharusnya tidak pernah berubah dan apa yang harus selalu terbuka untuk perubahan, antara "apa yang kita berdiri untuk" dan "bagaimana kita melakukan sesuatu. "
HP berjuang di tahun 1990-an sebagian karena bingung praktek operasi dengan nilai-nilai inti. Sebuah konsensus "" gaya keputusan bukan merupakan nilai inti HP. "Sebuah pekerjaan seumur hidup" bukan nilai inti HP. "Rekayasa-driven" bukanlah nilai inti HP. "MBWA" bukan merupakan nilai inti HP. Orang-orang di HP mulai percaya bahwa budaya, praktik, tradisi itu sendiri suci yang-ironisnya-dikaburkan esensi abadi dari Jalan HP. Seperti HP berjuang dengan ketegangan antara nilai-nilai inti melestarikan dan mengubah praktek budaya, itu menemukan dirinya terkepung oleh pesaing bergerak lebih cepat.
Kemudian pada akhir 1990-an dan awal 2000, HP berbelok tentunya, membuat serangkaian keputusan yang tidak kompatibel (dalam penilaian saya) dengan perintah-perintah dasar yang membuat perusahaan besar di tempat pertama. HP membawa seorang CEO karismatik dari luar dan memulai akuisisi mahal yang keberhasilannya sangat bergantung pada pangsa pasar dan pemotongan biaya argumen, tidak kontribusi teknis yang unik. Apakah merger HP-Compaq terbukti sukses masih harus dilihat, meskipun putusan sejarah dari merger sama menunjukkan peluang rendah. Bahkan jika HP adalah untuk mengalahkan peluang dan muncul dengan pengembalian keuangan yang cukup besar pada kesepakatan Compaq, saya tidak berpikir bahwa David Packard akan senang sekali dengan keadaan HP di awal 2005.
Namun uji utama perusahaan besar adalah tidak adanya kesulitan, tetapi kemampuan untuk pulih dari kemunduran-bahkan diri menimbulkan luka-kuat dari sebelumnya. Setiap perusahaan bisa jatuh dari besar untuk yang baik jika berhenti untuk hidup nilai-nilai inti atau jika menolak untuk mengubah praktik, tetapi sama, perusahaan dapat kembali ke kebesaran oleh mengobarkan kembali nilai-nilai inti dengan praktek-praktek baru imajinatif. HP akan menjadi hebat lagi? Saya tidak tahu. Bisakah itu? Ya, benar-benar. Dan dapat melakukannya pertama dan terutama dengan merangkul bukan bentuk, tetapi roh abadi dari Jalan HP. |
|
Ditulis oleh Administrator
|
Judul Buku : MENJADI PEMIMPIN EFEKTIF (On Becoming A Leader) Penulis : Warren Bennis Tebal : 283 Halaman Penerbit : PT ALEX Media Komputindi
Mohammad Ichlas El Qudsi, S.Si. M. Si
Dalam kodratnya, semua manusia adalah pemimpin. Namun dibalik kodrat alamiah kepemimpinan manusia itu. Ada sejumlah soal yang mempertanyakan hakekat, eksistensi dan substansi kepemimpinan. Buku ini lahir dari goresan tangan seorang yang bernama Werren Bennis. Ia merupakan profesor terkemuka di bidang administrasi bisnis di University of Southern California. Ia juga adalah rekan pengarang dari leaders: Strategies for Taking Charge. Ia adalah seorang sarjana-filsuf di bidang organisasi dan teoritikus bisnis serta guru manajemen. Melalaui buku setebal 283 halaman ini, Warren Bennis menulis tentang beberapa hal berkaitan dengan kepemimpinan efektif. Diantaranya : 1). Penguasaan Lingkungan. 2). Pemahaman hal-hal dasar. 3). Pengenalan diri sendiri. 4). Pengetahuan dunia. 5). Pengoperasiona berdasarkan insting. 6). Pengerahan diri. Berupaya keras, mencoba sesuatu. 7). Bergerak melewati kekacauan. 8). Menarik orang-orang berpihak pada anda. 9). Organisasi dapat membantu dan menghambat. 10). Menempa masa depan. Warren Bennis memulai studi tentang kepemimpinan ketika tahun-tahun salama ia bekerja di Bufallo dan menduduki jabatan sebagai rektor Universitas Cincinnati. Dan buku ini terilhami ketika ia memasuki apa yang disebutnya sebagai Seimor sarason, sebagai kancah tindakan kekuasaan dan tekanan. Dan disitulah Warren Bennis mulai mempraktikkan teori-teori kepemimpinan yang ia dapatkan. Dan buku “Menjadi Pemimpin yang Efektif ini, bermula dari situ. (Hal : xii). Selama dasawarsa terakhir itu, Warren Bennis membaktikan dirinya untuk studi kepemimpinan. Mengamati dan mewawancarai beberapa pria dan wanita terkemuka yang merupakan bagian proses merampungkan buku ini. Laporan pertama yang dilakukan Warren Bennis tentang kepemimpinan diterbitkan dalam buku leaders Iharper & Row, 1985, bersama rekannya Burt Nanus). Menuurt Warren Bennis, studi kepemimpinan bukan ilmu pasti. Karena, dunia sosial tidak seteratur dunia eesakta. Dan dunia sosial juga, tidak mudah terkena aturan. Bagi Warren Bennis, tugasnya dalam transformasi studi kepemimpinan adalah memberikan pendapat tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah kepemimpinan.
Menurut Warren Bennis, kepemimpinan menurut definisi, tidak dapat dijalankan dengan kevakuman. Atau menjaga jarak dari realitas sosial. Maka untuk memulai studi keemimpinan, ia selalu memaulai dari konteks masalah kepepemimpinan di lingkungan sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya. Dalam masalah kepemimpinan, kesalahan biasanya dilemparkan kepada orang-orang yang belum berhasil. Namun model seperti ini, oleh Warren Bennis lebih disebabkan oleh dorongan problem sosial yang jauh lebih besar dalam suatu gejala pemerintahan. Dan seorang dengan kepemimpinan yang efektif adalah yang mampu mengendalikan hal tersebut dengan kekuatan karakter kepemimpinannya.
Menjadi Pemimpin Bagian pertama buku ini yang harus kita dalami adalah, bagaimana menjadi pemimpin. Menurut Warren Bennis dalam buku ini (Halaman xix). Ditegaskan bahwa, sebelum seseorang belajar menjadi pemimpin, ia harus belajar lebih dulu tentang dunia baru yang asing ini, yaitu tentang kepemimpinan. Banyak orang yang menguasainya, mereka bersal dari berbagai latar belakang, pengalaman dan pekerjaan. Tapi mereka sama-sama memiliki keinginan yang besar akan harapan hidup yang lebih baik dan kemampuan mengeskpresikan diri sepenuhnya secara bebas. Dan hal ini menurut Warren Bennis, disebutnya sebagai “inti dari kepemimpinan”. Intinya Warren Bennis ingin menyimpulkan bahwa “menjadi pememimpin efektif adalah didasarkan atas asumsi bahwa para pemimpin adalah orang-orang yang mampu mengekspresikan diri sepenuhnya.
Menjadi pemimpin tidaklah muda, sama seperti menjadi dokter atau penyair. Siapapun menyatakan sebaliknya berarti mengelabui diri sendiri. Namun belajar menjadi pemimpin menurut Warren Bennis, itu jauh lebih muda. Darpada yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Karena kita masing-masing memiliki kapasitas kepemimpinan. Namun dari potensi itu, ada dua hal yang mendasari konsepsi kepemimpinan. Pertama : Menjadi pemimpin perlu upaya. Bukan sekedar bakat dari lahir. Dan lebih banyak dibentuk oleh diri sendiri daripada hal-hal eksternal. Kedua : Tidak ada pemimpin yang menyatakan dirinya pemimpin, tetapi sebaliknya mengekspresikan diri secara bebas dan sepenuhnya. Maksudnya, para pemimpin tidak berminat untuk membuktikan diri mereka tetapi selalu berminat untuk mengekspresikan diri. (Hal : xxiii).
Menjadi Pemimpin Efektif
Pada halaman : 1 buku ini Warren Bennis mengutib pemikiran W Gardner dalam Ni Easy Victories bahwa : Para pemimpin memiliki peranan yang berarti dalam menciptakan pandangan hidup masyarakat. Mereka dapat bertindak sebagai simbol dari moral masyarakat. Mereka dapat mengekspresikan nilai-nilai yang mempersatukan masyarakat. Yang penting, mereka dapat memahami dan mengutarakan sasaran-sasaran yang mengangkat orang ke luar dari kepicikan, membawa mereka mengatasi konflik-konflik yang memecah-belah sauatu masyarakat dan mentukan mereka dalam mengejar tujuan yang patut mereka upayakan denga sebaik-baiknya.
Dari sudut padang ini, Warren Bennis memberikan penekanan tentang pentingnya kepenguasaan lingkungan oleh seorang pemimpin. Sebab dengan menguasai lingukngan sosial yang ada disekitar, kita bisa memahami sisi-sisi penting yang perlu dikenadalikan secara maksimal oleh seorang pemimpin. Olehnya itu, Warren Bennis, pemimpin yang efektif adalah tidak sekedar terpengaruh oleh arus perubahan lingkungan. Tetapi ia harus bisa menantang dan menguasai lingkungan dengan jalan mengubahnya dengan cara yang mendasar. Langkah pertamanya adalah menolak untuk dikendalikan orang lain dan memilih untuk mengendalikan diri sendiri. (Halaman : 32).
Selain kepenguasaan terhadap lingkungan, syarat kepemimpinan berikut menurut Warren Bennis adalah pemahaman terhadap-hal-hal yang mendasar. Diantaranya adalah : Pertama : Visis penuntun. Pemimpin memiliki pandangan yang jelas apa yang akan dia lakukan. Baik secara profesional ataupun pribadi. Dan kekuatan untuk menghadapi kemunduran atau kegagalan. Kedua : Keinginan yang Besar. Keinginan yang mendasar akan harapan hidup disertai dengan keinginan yang sangat khusus akan suatu pekerjaan, profesi dan tindakan. Menurut Tolstoy, mengatakan, “harapan adalah impian yang terjaga”. Ketiga : Integritas. Menurut Warren Bennis, ada tiga bagian penting tentang integritas. Yaitu, pengetahuan mengenai diri sendiri, keterusterangan dan kedewasaan. Integritas kepemimpinan adalah fondasi yang mendasari seluruh konstrukt karakter kepemimpinan. Keempat : Keingintahua dan kemauan, Pemimpin yang baik adalah, yang setiap saat selalu terpicu kengintahuannya tentang suatu masalah di sekitar lingkungannya. Dan hal ini harus didorong oleh kemauan yang kuat untuk memahami dan mencari solusi atas setiap problem sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dan untuk merai semua itu, seorang pemimpin harus bisa mengapresiaasi dirinya sendiri secara proporsional. Oleh Warren Bennis dikatakan “Bertepuk tangan untuk diri sendiri atas keberhasilan dan membungkuk sedikit, merupakan cara yang baik untuk belajara menikmati hidup dan merupakan bagian dari proses menemukan integritas kepemimpinan dalam diri sendiri (halaman : 50)
Seorang pemimpin yang efektif dalam kepemimpinannya juga, selain mengenal diri sendiri, juga harus memiliki pengetahuan dunia, atau pengetahuan global. Karena ia harus terkooptasi perubahan dalam skala besar. Dalam salah satau adagium kita sering mendengar, pemimpin yang baik adalah yang berfikal global dan bertindak global, bukan sebaliknya berfikir global tapi bertindak lokal. Hal ini berkaitan membangun relasi kepemimpinan yang cakupannya adalah dunia. Agar pemimpin tidak sebatas terkurung dalam kekerdilan sistimnya. Dalam buku ini disebut Warren Bennis sebagai memperluas pengalaman kepemimpinan dengan meyerap seluruh karakter kepemimpinan dunia (Halaman : 99).
Dengan memahami lingkup global kepemimpinan di atas, kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk merasakan berbagai pengalaman kepemimpinan di seluruh dunia. Dan disinilah insting kepemimpinan di uji. Dalam istilahnya Warren Bennis dalam buku ini, disebutkanya dengan mengoperasikan potensi kepemimpinan berdasarkan insting. Namun pada dimensi berfikir tentang insting ini, kita perlu memberikan sebuah batasan konsep. Bahwa tidak semua insting bisa dioperasikan sebagaimana yang dimaksudkan Warren Bennis. Insting yang bisa didorong menjadi sebuah praktek kepemimpinan yang konkrit adalah insting positif. Dan hal ini harus didasari dengan kemampuan mengerahkan diri sendiri serta berupaya keras mencoba segala sesuatu. (Halaman 113).
Jika kemampuan yang dibekali dengan integritas kepemimpinan yang tinggi, baru seorang pemimpin diperkenankan menarik orang-orang untuk berpihak pada konsepsi-konsepsi kepemipinan yang dianutnya. Karena membangkitkan dan menggunakan secara penuh potensi seseorang, merupakan tugas sesungguhnya dari organisasi. Dengan dasar konsep ini, Warren Bennis berharap pemimpin yang afektif bisa terlahir dari suatu organisasi secara alamia.
Dalam bagian terakhir ini Warren Bennis juga menegaskan dalam buku ini bahwasanya, seorang pemimpin yang efektif juga harus mampu menyiapkan segala kesiapan diri dan masyarakat untuk menempa masa depan. Dan hal itu harus dilakukan dengan memenuhi 10 faktor masa depan. 1). Pemimpin mengelola impiannya. 2). Pemimpin yang bisa menerima kesalahan. 3). Pemimpin yang menganjurkan sanggahan balik. 4). Pemimpin yang menganjurkan ketidaksetujuan. 5). Pemimpin memiliki faktor nobel. 6). Pemimpin memahami pengaruh Pygmalion dalam manajemen. 7). Pemimpin memiliki faktor Gretzky . 8). Pemimpin memandang jauh ke depan. 9). Memahami simetri bundar. Atau pemimpin yang mampu memadukan semua persoalan dalam satu-kesatuan proses pengambilan keputusan. 10). Pemimpin menciptakan kerjasama dan keimtraan strategis. Apa yang ditawarkan oleh Warren Bennis dalam buku ini adalah, konsep kepemimpinan yang ideal. Ditengah-tengah krisi kepemimpinan multi dimensi, buku ini sangat pantas menjadi sebuah bacaan referensial. Untuk membedah dan memadukan konsepsi-konsepsi kepemimpinan efektif Warren Bennis dan realitas kepemimpinan saat ini.
|
|
Ditulis oleh Agus Purnomo, M.Ag
|
Judul Buku : Ideologi Kekerasan Penulis : Agus Purnomo, M.Ag Penerbit : Pustaka Pelajar Cetakan : Pertama, Agustus 2009 Tebal : x + 77 halaman Harga : Rp. 16.500
KabarIndonesia - Masyarakat percaya bahwa agama merupakan totalitas sumber kearifan, cinta, dan perdamaian di antara sesama manusia. Namun, realitas menyajikan fenomena yang justru berlawanan dengan hakikat agama. Fenomena tersebut terjadi dalam tradisi agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Argumen apologetik kemudian diberikan untuk mempertahankan kekudusan fungsi agama, yakni yang harus dipersalahkan dalam konteks perpecahan, konflik dan kekerasan agama bukanlah agama tetapi pihak-pihak yang tidak memenuhi keimanan dan religiusitas terhadap kekuatan eksternal yang berkonspirasi menebar benih kebencian dan permusuhan. Cara agama-agama berperilaku dalam sejarah, ditentukan oleh worldview masing-masing terkait dengan problem identitasnya sebagai pemilik dan pemonopoli klaim kebenaran dan menafsirkan kebenaran pihak lain. Hal ini karena sesungguhnya semua agama bermula dari ‘momen’ khusus.
Kecenderungan agama-agama dalam memperhatikan yang khusus ini mengoptasi dan menghegemoni, sehingga mereduksi dan mengesampingkan klaim spiritualitasnya yang universal. Kekerasan agama merupakan sebuah gerakan, yang mengespresikan kengerian dan merampas kebebasan, ketenangan dan ketentraman hidup pihak lain, tidak saja secara fisik, namun juga psikis. Kekerasan bukanlah dilakukan tanpa perencanaan dan pertimbangan yang matang. Oleh karena itu, mengorganisasian gerakan ini juga bisa dipastikan profesional, dilengkapi dengan peranti yang lengkap menyangkut ideologi gerakan maupun sistem pengorganisasian, baik menyangkut sistem komando, rekrutmen dan pengembangan anggota, juga ganjaran bagi kesetiaan dan hukuman bagi pengkhianatan.
Buku ini menjelaskan realitas terjadinya ‘penyelewengan’ agama diatas, terutama yang mendapat justifikasi dari teks-teks agama. Gerakan kekerasan agama, menyangkut persoalan ideologis dan bagaimana pengorganisasiaanya, sedangkan masalah prosedur kekerasan, terkait antara lain dengan persoalan ideologis. Begitu juga dengan legitimasi kekerasan yang merupakan faktor penting bagi perjuangan ‘kebenaran’ yang diyakini kelompok tersebut. Dalam agama Kristen terdapat perintah ‘perang suci’ yang karenanya peperangan boleh dilakukan.
Terjadinya perang Salib yang berlangsung selama bertahun-tahun, bisa disebut sebagai wujud dari kekerasan yang dilegitimasi oleh agama. Agama Yahudi, yaitu gerakan zionisme berupa pengusiran warga Palestina yang dilakukan oleh Yahudi, dapat disebut sebagai tindakan kekerasan yang mendapat justifikasi agama dalam rangka menegakkan Taurat. Begitu juga Islam, meski teks-teks keagamaan dalam Islam lebih banyak mengandung pesan moral untuk menebar kedamaian, tetapi terdapat pula teks-teks keagamaan yang mengandung unsur kekerasan.
Radikalisme Islam Ideologi jihad sering dipahami sebagai legitimasi kekerasan. Hal ini karena jihad diyakini sebagai berperang melawan kaum kafir yang memerangi Islam dan membunuh kaum muslimin. Dalam konteks ini, kendati sesungguhnya sebutan kafir dan munafik bagi Zionis (Yahudi) dan Salibi (Kristen), kurang pada tempatnya, namun ideologi tersebut telah mengkristal sebagai ideologi jihad kelompok pelaku kekerasan. Hal ini misalnya dapat dilihat pada berbagai statemen pelaku peledakan bom Bali. Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa misalnya, pernyataan Imam Samudera, salah seorang pelaku bom Bali, justru meyakini dan memahami apa yang dilakukannya sebagai melawan teroris, yakni Amerika. Dengan demikian, ia menggapnya sebagai jihad fi sabilillah. Konsep jihad, dipahami Imam Samudera dan kawan-kawannya berdasarkan penahapan hukumnya, yakni pertama, menahan diri, dimana umat Islam diperintahkan untuk menahan diri dari segala macam ujian, cobaan, celaan, serangan dan penindasan kaum kafir; kedua, tahapan diizinkan memerangi kaum kafir yang juga memeranginya; ketiga, tahap diwajibkan memerangi secara terbatas, yakni ketika kaum muslim diperangi dan disiksa oleh kaum kafir, maka wajib baginya jihad; keempat, tahap diwajibkan memerangi seluruh kaum kafir dan munafik.
Perjuangan dengan kekerasan lainnya, bisa dilihat ketika kelompok redikalisme keagamaan merespon realitas sosial yang penuh dengan aroma kemaksiatan. Dengan mengacu kepada kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, yang didasarkan kepada tekstualitas hadist man raa minkum munkar..., kelompok ini tidak jarang melakukan razia dan pemberantasan dengan cara kekerasan terhadap segaala sesuatu yang berbau ma’ashi, dzunub, munkarat, fahsha’, nifaq, muharromat dan sebagainya. Misalnya, eksploitasi seksual dalam berbagai media, perzinaan, perjudian, minuman-minuman keras, perzinaan, perjudian, minum-minuman keras, dan seabrek kehidupan ‘dugem’ yang harus diberantas.
Penelitian Zainuddin Fannanie terhadap fenomena kekerasan dan radikalisme keagaman di Surakarta, membuktikan hal ini. Penelitian Fannanie dkk menyoroti perilaku berbagai kelompok radikalisme keagamaan, yakni Laskar Santri Hizbullah Suann Bonang, Brigade Al-Islah, Gerakan Pemuda Ka’bah, Brigade Hizbullah, Laskar Mujahidun Surakarta, Laskar Jundullah, Laskar Jihad Ahlusunnah wal Jama’ah, KAMMI dan sebagainya.
Menurut temuan Fananie, bahwa munculnya KRK disebabkan merebaknya dekadensi moral dan isu ekonomi-politik. Untuk itu, dakwah difokuskan sebagai amar ma’ruf nahi munkar, yang dilakukan secara lunak maupun dengan kekerasan, sehingga KRK di Surakarta sesungguhnya tidak monolistik. Sweeping tempat hiburan dan warga AS, pengiriman Laskar Jihad ke Ambon dan merespon keras isu kristenisasi adalah di antara perilaku radikal kelompok ini. Dalam buku ini, penulis, Agus Purnomo berupaya menjawab dua problem mendasar. Pertama, apa saja faktor-faktor yang terkait dengan terjadinya gerakan kekerasan agama? dan kedua, apa logika yang digunakan oleh para pelaku dalam melegitimasi kekerasan agama?
*) Penulis adalah seorang peneliti di Central for Humankind and Cultural Studies Yogyakarta. |
|
The End of History Or The End of Capitalism |
|
|
|
|
Ditulis oleh Penulis : Nurul (Mhs FISIP UI. http://ekonomi.kompasiana.com.
|
Francis Fukuyama, seorang ahli politik dan ekonomi pada tahun 1989 menulis buku yang berjudul The end of History and the Last Man, lalu dipublikasikan pada awal 90-an. Buku ini merupakan sebuah tesis yang dibuatnya untuk menggambarkan keadaan atau dinamika politik dan ekonomi setelah berakhirnya Perang Dingin (Cold War) pada akhir 80-an yang ditandai dengan runtuhnya rezim Uni Soviet yang “kalah” dalam perang ideologi melawan kekuatan Amerika Serikat (AS).
Tesis Fukuyama ini menegaskan suatu hal terkait kemenangan liberal/kapitalisme AS atas Uni Soviet yang komunis, yaitu kemenangan teori liberal/kapitalis terhadap teori komunis dan sosialis yang dianggapnya sudah usang. Ini terbukti dengan adanya negara-negara yang dahulu menerapkan teori komunisme seperti China dan Rusia sebagai pewaris Uni Soviet telah meliberalisasikan perekonomiannya guna mensejahterakan rakyat mereka, walaupun China mempunyai nama tersendiri untuk liberalisasi ekonominya, yaitu liberal sosialis dan rusia yang telah membuka pasarnya dengan dunia luar khususnya dengan barat (AS).
Namun belakangan ini Liberalisme dan kapitalisme sedang mendapati masalah besar, seiring terjadinya krisis finansial di AS akhir 2007 yang dinamakan Subprime Mortgage atau kredit macet yang dialami oleh perumahan kelas dua di AS telah membuat ekonomi AS goncang bahkan dunia pun ikut terkena dampaknya. Hal ini disebabkan ketidakmampuan para pemilik rumah untuk membayar tagihan kredit rumah mereka yang melambung tinggi. Hal ini juga menyebabkan tumbangnya beberapa perusahaan besar di AS.
Pemerintah AS nyatanya sudah keliru akan ekonomi pasar bebas yang mereka anut, terutama pada saat pemerintahan Bush (junior) yang membebaskan pasar mengatur dirinya sendiri tanpa ada kontrol pemerintah, walaupun menganut pasar bebas tapi pemerintah AS harus tetap mengkontrolnya. Namun pada pemerintahan Obama, mereka sadar perlunya peran pemerintah untuk mengkontrol pasar agar tetap pada koridor hukum dan aturan dalam ekonomi pasar bebas.
Ekonomi AS, saat ini bisa dibilang hampir menuju Great Depression, seperti pada tahun 30-an yang terjadi di AS, yaitu sebuah krisis besar yang menyebabkan AS kolaps. Segala upaya dilakukan Obama untuk meredam dan memulihkan perekonomiannya yang telah berdampak luas bagi ekonomi dunia. Bail Out, Stimulus fiskal dan upaya pemerintah yang mendorong rakyatnya untuk mencintai dan membeli pruduk dalam negeri. Hal ini sangat kontras dengan sistem ekonomi liberal atau kapitalis yang mereka anut, ini juga juga ditanggapi dengan kritik tajam dari para mitra dagang AS karena dengan mengimbau rakyat AS untuk mencintai produk dalam negeri dan juga membelinya, sama saja akan mematikan aktivitas ekspor-impor AS dengan negara lain dan dapat mengakibatkan AS masuk kepada sistem ekonomi sosialis yang menjadi musuhnya dalam Perang Dingin dulu.
Banyak pakar dan masyarakat internasional berpendapat, bahwa krisis kali ini merupakan kegagalan ekonomi kapitalis dan ekonomi pasar bebas yang diterapkan AS, sehingga mereka beranggapan bahwa ini adalah akhir dari rezim kapitalisme. Terkoreksinya pasar bebas di AS menandakan ada yang tidak “beres” dengan sistem itu, sebelumnya, bahkan jauh dari krisis ini, Goerge Soros, seorang ekonom telah memprediksikan akan terjadinya krisis dan ia pun mengkritik sistem kapitalisme saat ini yang menurutnya sudah keluar koridor.
Tesis Fukuyama (The End of History and the Last Man) saat ini mendapati sebuah masalah validitas, itu terjadi karena akibat krisis ekonomi global yang bermuara di AS menyebabkan terkoreksinya sistem ekonomi pasar bebas dan beberapa masyarakat serta para ekonom berprediksi ini merupakan akhir dari kapitalisme (The End of Capitalism).
|
|
Islam dan Kiri. Respon Elit Politik Islam Terhadap Isu kebangkitan Komunis Psaka Suharto |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
Judul buku : Islam dan Kiri. Respon Elit Politik Islam Terhadap Isu kebangkitan Komunis Psaka Suharto No ISBN : 979791601405 Penulis : Ahmad Suhelmi Penerbit : The Ari Suta Center Tahun terbit : 2007 Jumlah halaman : 317
Oleh : Muhammad Ichlas El Qudsi
Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, selama itupula kekuatan rakyat terkerangkeng dalam suatu bentuk pemerintahan yang oteriter dan kapitalistik. Dalam buku ini, Ahmad Suhelmi ingin mengupas lebih dalam tentang posisi wacana “Kiri Islam” disaat berkusa dan lengsernya Orde Baru. Karena selama rezim Orde Baru, kita melihat adanya sutau borjuasi pemeintahan yang menjadikan rakyat sebagai korban pembangunan (developmentalisme). Lagi-lagi ideologi pembangunanisme menjadi suatu prioritas rezim yang turut menggeret rakyat sebagai korban dari misi pembangunan tersebut. Rumah rakyat di gusur, tanah adat masyarakat suku diklaim. Atas nama pembangunan yang hanya bisa dinikmati oleh segeleintir orang yang berada di sekitar Istana. Demokrasi yang tadinya merupakan pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat diplintir menjadi pemerintahan personal dengan mengklaim air, tanah serta kekayaan alam merupakan milik negara. Lagi-lagi dalam persoalan ini, negara menjadi tameng bagi suatu kapitalisasi pemerintahan. Lalau apa yang terjadi setelah Orde Baru membusuk dan dan getas hingga runtuh tak tertolong? Membuncahnya kemarahan rakyat itu berubah menjadi perlawanan yang sangat radikal. Bahkan simbol-simbol perlawanan yang dulu diklaim negara orde barau sebagai subversif, makar, komunis dan ekstrim kiri, bangkit bak jamur di musim hujan. Buku-buku ajaran sosialis tergelatak di mana-mana. Seiring dengan titik baru pemikiran setelah Rezim Suhartoisme runtuh, wacana kiri Islam pun menuai bentuk dalam traktat pemikiran dunia akademis. Sebab, cita-rasa Islam dalam sosio-konfigurasi negara orde baru, dinilai tidak lagi relevan. Sebab agama semata menjadi satpam kekuasaan. Tolak ukur dari kegerahan kapitalisasi multi sistem kenegaraan itu, tergambar pada kepeminatan masyarakat kampus terhadap mozaik pemikiran kiri Islam, mulai dari pemikiran Hasan Hanafi, Ali Angginer dan seder nama-nama tokoh kiri yang menghiasi konstruksi baru pemikiran anak-anak muda kampus yang terkadang dianggap nlenneh ole kelompok mapan tua. Dalam buku yang di tulis oleh Ahmad Suhelmi ini, ia mencoba ilustrasikan bahwa Islam kiri atau kiri Islam, sebagai sebuah pelabelan mainstream gerakan dengan menginput aspek-aspek vundamental theologi sebagai penguat gerakkan sosial Islam yang berpihak pada kelompok tertindas (kaum mustadz’afin). Sebab, dalam rancang_bangun pemikiran yang demikian, mengandaikan theologi Islam sebagai arus utama perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pemerintah yang borjuis-kapitalisitik. Model theologi perlawanan ini, mengandaikan Tauhid (ke-Tuhanan) terpisah pada dua substansi pemaknaan. Yaitu antara tauhid klasik yang mengartikan Tuhan sebagai yang Esa semata, dan yang kedua, mengandaikan Tuhan sebagai entitas yang terkonvergensi antara keyakinan akan kemanunggalan Tuhan dan manusia. Dimana bertuhan (bertauhid) itu sama halnya membebaskan manusia dari ketertindasan sistim sosial. Pada sisi struktur keyakinan dan arah baru keberpihakan teologi Islam inilah wacana Islam kiri muncul sebagaimana dalam buku yang ditulis oleh Ahmad Suhelmi ini. |
|
Ditulis oleh Mohammad Ichlas El Qudsi, S.Si. M.Si
|
Judul buku : IMPERIALISME ABAD 21 Penulis : James Petras dan Henry Velt Meyer Penerbit : Kreasi Wacana Tebal : 358 Hal
Globalisasi merupakan suatu tema ekspansi negara-negara raksasa untuk menghegemoni negara-negara Miskin, termasuk negara dunia ketiga dan negara-negara Timur Tengah. Sejatinya, globalisme salah satu tema perluasan kepenguasaan ekonomi negara-negara pemilik modal besar terhadap negara-negara miskin. Hal ini dapat dideteksi dari beberapa bentuk hegemoni yang berakhir pada kekerasan militeristik dan pemberangusan rakyat sipil. HAM dan demokrasi yang saat ini tengah diusung sebagai simbol kepeduliaan terhadap kemanusiaan, tidak lebih dari jargon penindasan yang marak dipraktekkan oleh negara-negara superpower kapitalis dalam berbagai ekspansi ekonomi dan agresi militernya. Buku ini akan secara runut menguraikan apa sebenarnya ruang lingkup imperialisme di abad 21. Teori pembangunan neo-liberal tidak mengatakan sesuatu pun kepada kita tentang kemana arah keuntungan pembangunan mengalir. Dan dengan menunjukkan berbagai data yang lain, penulis berpendapat bahwa teori itu sesungguhnya mendang pembangunan dalam defenisi “perluasan ketidak adilan”. Wujud nyatanya bisa dilihat dalam kebijakan privatisasi. Kita tahu, privatisasi adalah salah satu agenda penyesuaian struktural yang selalu direkomendasikan IMF dan Bank Dunia bagi pil penawar krisi ekonomi di sauatu negara. Senyatanya, privatisasi adalahalat untuk menguasai sektor-sektor strategis dari satu negara agar jatuh ke tangan para memilik modal global. Hal ini akan terus berlanjut sampai negara hanya menguasai sebahagian kecil aset perekonomian dan tidak bernilai strategis. Dan negara yang melakukan langkah ini akan dipuji-puji sebagai negara demokratis dan mempunyai prospek pertumbuhan ekonomi yang cerah oleh lembaga peringkat kesejahteraan internasional Dalam buku ini kita juga bisa membaca bahwa saat ini dunia tengah didesain dengan agenda global menuju terbentuknya pasar global yang terkuasai. Tentu, di sini yang berkuasa sekarang bukan lagi politisi atau negarawan, tapi oleh bos pasar pemilik modal. Aparat pemerintah, militer, politisi dan kaum candikiawan. Segala usaha dikerahkan untuk merealisasikan agenda global mereka. Strategi dan konsep disusun untuk memuluskan jalan ini. Segala rintangan dan potensi perlawanan akan dihabisi jika perlu. Tidak peduli itu demokrasi, HAM, masyarakat sipil, kelompok bersenjata, agama bahkan Tuhan sekalipun. Disisi lain, dengan alasan masyarakat Sipil, para kapitalis inilah yang akan memanfaatkan dan mencaplok semua hak masyarakat ini demi kepentingan dirinya. Jika kekuasaan negara dan masyarakat sipil sekaligus ada di tangan satu golongan, siapa yang mampu melawannya? Buku ini mencoba membedah strategi kapitalisme global menggurita segala sistim sosial dan pemerintahan. Dengan suatu kupasan ideologi yang menarik, buku ini pun menguraikan niat bsusuk globalisasi denga mengusung jargon-jargon kemanusiaan yang juga merupakan entitas yang saat ini tengah diinjak-injak oleh mereka.
|
|