michel elqudsi, michel-elqudsi.com, mohammad ichlas el qudsi  
DepanWacana & RenunganGaleryIdolaYang RinganResensiKontakSosok


1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a Di Mesir 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a
Depan
HIKMAH POHON JATI PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   

HIKMAH POHON JATI

“Jati akan memberikan manfaat yang tinggi tatkala memiliki pohon yang kokoh dengan jaringan yang padat dan tua anggrek akan memiliki nilai tatkala memunculkan bunga yang indah dan langka pohon durian akan sangat berharga jika menghasilkan buah yang lezat dan banyak jadi percayalah kita akan membuat prestasi dengan cara kita masing-masing di dunia ini maka jadilah orang yang otentik”

 Mohammad Ichlas El Qudsi

 Kebanyakan orang mengartikan perubahan sebagai menggantikan semua nilai yang ada dengan menyuplai kepribadian dengan nilai-nilai baru. Bahkan, dengan pengertian yang demikian, orang-orang tertentu bersedia melepaskan seluruh nilai kepribadian dari dalam diri, dan digantikannya dengan nilai-nilai baru yang diimpor, atau disadur dari produk luar.

 Nilai-nilai lama yang mengakar tercerabut karena ketergiuran dengan identitas baru yang bergaransi pasar. Mereka merasa memiliki kepribadian yang marketable ketika menjadi orang lain (the other). Pesan kata-kata hikmah di atas menyiratkan hal yang demikian, bahwa apapun hasil dari sebuah proses, potensi  dari dalam menjadi bagian inheren perubahan. Dengan demikian, perubahan tidak semestinya membuat seseorang beranjak dari otentisitas kediriannya.

 Dalam skup Besar

Dewasa ini, kita terbiasa dengan meminjam identitas. Padahal hanya untuk sebuah ukuran tertentu, kita cenderung menelantarkan otentisitas. Dalam skup besar misalnya, untuk menjadi sebuah negara demokrasi, kita tak jarang menelan mentah-mentah aliran demokrasi dari manapun asalnya. Padahal kita tahu, bahwa faham apapun, bila tidak berpijak pada nilai-nilai orizinil budaya setempat, maka faham tersebut akar rapuh, getas dan mudah rongsok bila ada getaran-getaran ringan di sekitarnya.  

Di Indonesia misalnya, setiap lima tahunan, kita terus melakukan proses bongkar pasang (Removable) tata cara berdemokrasi. Hal seperti ini terjadi karena, kita tidak pernah berupaya menyatukan faham-faham budaya (kearifan lokal) sebagai pilar demokrasi itu sendiri.

Akibatnya, wajah demokrasi kita memiliki garis demarkasi yang terpisah begitu ekstrim antara entitas budaya dan demokrasi. Terbukti, dari pilkada ke pilkada, dari pilcaeg ke pilcaleg dan pilpres, kita sering mendulang konflik horizontal, sebagaimana yang terjadi di beberapa daerah ditahun 2010 ini. Pembakaran, kerusuhan yang berakibat pada kebangrutan moral dan materil, adalah sisi lain ketika otentisitas kultural terpola secara membabibuta oleh mekanisme demokrasi yang normatif dan rigid.

Cakupan kecil

Keniscayaan perubahan juga berlaku dalam skup diri manusia. Setiap manusia menginginkan perubahan dalam dirinya. Baik perubahan sikap, perilaku, tindak-tanduk dan tutur kata. Namun, perubahan yang bersifat inner-psikologi ini, selalu terbangun berdasarkan respon dan interaksi nilai. Baik yang bersumber dari hasil kontemplasi atau karena doktrinasi. Kedua-duanya selalu berurusan dengan nilai-nilai otentik yang sudah ada berdasarkan fitrah manusia.

Namun terkadang manusia selalu berasa “baru” dengan sentuhan luar. Dengan demikian untuk perubahan tersebut ia melepaskan nilai-nilai otentik yang menjadi pilar atau dasar dari penguatan perubahan jati diri. Perubahan bukanlah suatu entitas yang bermakna tunggal. Tapi bermakna plural. Karena perubahan adalah proses memperbaharui nilai-nilai yang telah mengotentik dalam diri. Bukan berarti meninggalkan. Pencapaian prestasi apapun akan terasa membekas, bila otentisitas tetap dipelihara. Pesan itulah yang tertuang dalam kata-kata hikmah di atas : “kita akan membuat prestasi dengan cara kita masing-masing di dunia ini maka jadilah orang yang otentik”. S e m o g a


 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 1 dari 20