michel elqudsi, michel-elqudsi.com, mohammad ichlas el qudsi  
DepanWacana & RenunganGaleryIdolaYang RinganResensiKontakSosok


1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a 1213662329_15a
Depan
JASAD, PIKIRAN dan IBADAH PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
“Nasi adalah makanan jasad, membaca adalah makanan pikiran dan ibadah adalah makanan jiwa”

(Mohammad Ichlas El Qudsi)

Dalam struktur kedirian manusia, terdapat 3 unsur sebagaimana yang tersingkap di balik kata-kata hikmah di atas. Diantara tiga unsur tersebut adalah : pertama unsur jasadi, kedua  aqali dan yang ketiga : unsur batiniyah (spiritualitas). Unsur yang pertama jasadi (jasmani), adalah unsur fisik yang kebutuhan atasnya selalu bersinggungan dengan “makam materi”. Semisal kalau seseorang lapar, pasti membutuhkan makan, haus membutuhkan minum, shoping membutuhkan uang yang banyak dan berbagai kebutuhan yang bersentuhan dengan materi lainnya.

Makan

Rasa lapar bukanlah sebuah kehendak tunggal, tapi merupakan kehendak yang terdorong (terstimulasi) oleh aspek-aspek jasadi. Dengan demikian, contoh di atas menggambarkan bahwa, dimensi jasmani manusia, selalu bersentuhan dengan aspek-aspek bersifat materialistik. Karena materi bersifat dinamis dan kebutuhan manusia atas materi bersifat tak terbatas (limitless), maka terkadang manusia yang getas imannya, cenderung menjadikan materi sebagai segala-galanya, atau menjadikan mmateri tujuan hidup.

Pola-pola hidup yang demikian, mengingatkan kita pada sebuah ungkapan lama yang mengakatan “Makan untuk Hidup”. Ungkapan ini mereduksi sebuah pemahaman bahwa seolah-olah manusia hanya akan hidup dan berarti bila perutnya sudah terisi. Dan ini sebuah ungkapan yang sesat dan menyesatkan.

Dalam hirarki kebutuhan Manusia menurut Abraham Maslow  tidak hanya berhenti pada kebutuhan fisiologis seperti makan, tidur, seks, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan fisik (jasmani). Namun menurut Maslow masih ada kebutuhan lainnya seperti Self Actualization yang mencakup morality, creativity, spontanaety, problem solving dan lack of predujudice. Kebanyakan manusia, gagal membangun kepribadiannya, karena hirarki kebutuhan tersebut dibangun secara terpisah-pisah (fragmentary). Akibatnya struktur kedirian yang terbentuk menjadi tidak utuh dan cenderung semrawut  dalam pola hidupnya.  

Korupsi, manipulasi dan berbagai penyampangan lainnya, adalah akibat dari ketakterbatasan kebutuhan manusia atas materi yang tidak diimbangi dengan iman. Kebanyakan para koruptor, ketika hendak melakukan pentimpangan, iman selalu dikesampingkan demi urusan perut dan sensasi kemewahan materi lainnya. Meskipun dibelakangnya tindakan kotor itu dihantui ancaman hukuman, namun karena materi telah mencekoki dan menjadi tujuan hidupnya, maka ancaman-ancaman itupun dicampakan.

Pikiran

Menurut Corballis, Michael C. The Uniqueness of Human Recursive Thinking. (PDF) American Scientist (May-June 2007). Diakses pada 23 April 2007, Pikiran adalah gagasan dan proses mental. Berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan. Kata yang merujuk pada konsep dan proses yang sama diantaranya kognisi, pemahaman, kesadaran, gagasan, dan imajinasi. Berpikir melibatkan manipulasi otak terhadap informasi, seperti saat kita membentuk konsep, terlibat dalam pemecahan masalah, melakukan penalaran, dan membuat keputusan. Berpikir adalah fungsi kognitif tingkat tinggi dan analisis proses berpikir menjadi bagian dari psikologi kognitif.

Kerja dari pikiran adalah memberikan penilaian terhadap segala sesuatu. Baik dan buruk akan terkualifikasikan melalui suatu tindakan rasionalisasi. Tanpa itu penilaian (benar-salah) tidak akan terwujud. Hukum atau kaidah-kaidah berfikir senantiasa bersentuhan dengan aspek realitas. Karena sebuah ide terbentuk bila terjadi korespondensi realitas dan akal. Maka tindakan membaca sebagaimana yang dimaksudkan dalam kata-kata hikmah di atas, adalah korespondensi realitas (isi buku) dan akan manusia kemudian terabstraksi menjadi sebuah ide atau gagasan. Dengan demikian, membaca apapun itu, adalah kebutuhan dasar dari akal manusia.

 

Ibadah

Dalam kedirian manusia, kebutuhan atas materi dan kognitif saja tidak cukup. Manusia membutuhkan ketenangan batin (spirituality). Spiritualitas adalah proses penggalian hakekat diri untuk mengenal realitas terakhir dari kemahlukan manusia. Pada titik puncak pencarian itu, manusia kemudian mengenal sumber penyebab pertama diri dan makhluk lain di sekitarnya. Dan diakhir proses pencarian tersebut, manusia rela menghambakan dirinya, pada realitas puncak dengan ragam ekspresi keibadahan (simbol ketundukan pada realitas) serta ragam persepsi terhadap realitas tersebut (ketuhaan). Terlepas dari apapun persepsi manusia terhadap Tuhan, semunya itu berpusar pada pemenuhan dahaga batin sebagai kebutuhan subjektif perlu dipenuhi dalam kondisi-kondisi tertentu. Ibadah dalam perspektif yang demikian, terkategori sebagai “kebutuhan bukan kewajiban”.  Sebagaimana yang tergambar dalam kata-kata hikmah di atas : “Nasi adalah makanan jasad, membaca adalah makanan pikiran dan ibadah adalah makanan jiwa” Kata-kata hikmah ini menggambarkan bahwa jasad, pikiran dan ibadah berkorelasi secara linier dalam ranah kebutuhan manusia. ****

 

 



 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 2 - 2 dari 20