|
Selasa, 11 Mei 2010 JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah akhirnya terpilih sebagai Deputi Gubernur BI menggantikan Siti Chalimah Fadjrijah. Namun, salah seorang anggota Komisi XI dari Fraksi PAN DPR, Michael Ichlas El Qudsi, menyatakan, meski terpilih secara demokratis, Halim diyakini belum tentu membawa perubahan di internal BI. "Terpilihnya Halim memang sesuai proses yang demokratis. Tapi, hasilnya masih mengecewakan karena yang terpilih dari internal BI. Masyarakat tentu sangat menginginkan perubahan di Bank Indonesia (BI). Terpilihnya Halim yang notabenenya masih orang dalam BI bukanlah jawaban atas perubahan," katanya kepada wartawan di DPR, Senin (10/5/2010). "Jadi, saya pikir yang lebih layak adalah Krisna Wijaya. Dia adalah satu-satunya kandidat dari luar BI yang bisa membawa perubahan di internal Bank Indonesia,” Michael menambahkan. Dikatakan, meski sedikit kecewa, terpilihnya Halim tak bisa digugat karena sudah menjadi keputusan politik. "Tentu, selanjutnya akan dikirim kembali ke Presiden SBY untuk disahkan,” ujarnya. Vera Fabrianti, anggota Komisi XI dari Fraksi Demokrat, kemudian menegaskan, pemilihan Deputi Gubernur BI sudah sangat demokratis karena dilakukan dengan cara voting terbuka. “Kita menerima ini sebagai keputusan politik. Sementara soal Halim yang orang dalam BI kemudian dikatakan tidak bisa membawa perubahan, tidak benar. Karena kita akan terus 'mengepung' Halim dengan pengawasan agar melaksanakan fungsi pengawasan dengan baik," tegasnya. Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah terpilih sebagai Deputi Gubernur BI secara voting terbuka yang dilakukan Komisi XI Bidang Keuangan DPR. Halim meraih 29 suara, mengalahkan Komisaris Bank Danamon Krisna Wijaya yang meraih 24 suara. Satu calon lainnya, Perry Warjiyo, tidak mendapatkan suara. (tribunnews/yat) |