|
Ada yang beranggapan hidup ini seperti mendayung perahu dari hulu ke hilir..hanya mengikuti arus, tanpa peran yang dominan..namun juga ada yang berpendapat seperti menaiki biduk ke tengah lautan..menantang ombak, melawan angin dalam medan yang begitu luas..Yang manapun pendapat kita sesungguhnya memperlihatkan cara pandang kita tentang hidup dan kehidupan
(Mohammad Ichlas El Qudsi)
Kita sering mendengar istilah Arus berfikir (mainstream). Dalam komunitas keilmuan, terkadang orang menggolongkan dirinya dalam arus berfikir tertentu, mazhab berfikir tertentu. Atau kasarnya menjejaki pemikiran-pemikiran lama yang sudah mendunia. Lalau kita mengidentifikasikan diri dan mengait-ngaitkan apa yang kita fikirkan dan perbuat dalam kategori anutan tertentu.
Sebuat saja dalam ketogori peta perilaku dan pemikiran agama di Indonesia, dimana ada kelompok masyarakat tertentu yang secara sosiologis dikelompokkan dalam mainstream Islam abangan, Islam santri. Atau kelompok Islam modernis, post modernis, tradisionalis dan post tradisionalis. Atau secara meondial baik politik dan ekonomi orang cenderung memetakan mainstream ekonomi dan politik negara tertentu dengan menyebutnya sebagai negara kapitalis, liberalis, sosialis, sekuler dan kommunis. Semua tetek bengek pengkaplingan dan penamaan itu sebatas mengikuti alur yang sudah ada sebelumnya.
Semua pengulangan atau kepengikutan terhadap arus berfikir itu, justru melahirkan budaya kepengekoran yang menghilangkan kreatifitas untuk menciptakan tata dunia baru (new world order). Suatu tata dunia yang mampu keluar dari arus berfikir lama ke suatu model pemikiran mutakhir dan kontekstual sebagai hasil kawin silang (hibridasi) antara manusia dan peradabannya.
Melawan Arus Satu-satunya cara untuk keluar dari hegemoni arus lama adalah melawan secara ideologis. Keberanian ini diibaratkan seperti menaiki biduk ke tengah biduk ke tengah lautan menantang gelombang melawan angin dan pusaran arus besar. Di sinilah daya tahan kita untuk memperjuangkan suatu transformasi besar diuji. Kuat atau lemahnya kita dalam menghadapi arus deras tantangan akan terasa. Orang yang kuat dengan ide besar akan mampu bertahan. Demikian sebaliknya yang lemah tak berdaya cenderung terpental dan kembali memasrahkan dirinya dalam mainstream berfikir lama. Kreatitas, inovasinya mati terbunuh oleh hantaman gelombang kemapanan otoritas lama.
Tidak ada perubahan baru yang bisa diharapkan di tengah-tengah budaya kepengekoran yang demikian. Orang hanya akan bangga ketika ia mampu mengulang-ngulang sesuatu yang lama. Budaya yang demikian membuat kita tidak mampu melihat dan mengukur kemampuan sendiri. Akhirnya kita hidup dengan menggantungkan nasib pada pemikiran dan prakarsa orang lain. Tidak berani menciptakan sesuatu yang baru dan pure lahir dari dalam potensi sendiri.
Meniti Tujuan Kemampuan untuk menerobos arus lama, harus diimbangi dengan tujuan yang jelas. Sebab suatu aksi jika tidak sejalan dengan tujuan, hanya akan menjadi timpang dan serampangan dalam pencapaiannya. Amburadulnya demokrasi, mewabahnya korupsi, menggeliatnya markus di negara kita akhir-akhir ini bertanda, bahwa kebanayakan elit negeri ini tidak memiliki orientasi bernegara. Negara dikira pundi-pindi dimana ia dapat meraup keuntungan dengan jalan korupsi, kolusi dan nepostisme (KKN). Semua ini akibat dari kegamangan dalam tujuan bernegara. Kita pernah mencetus sebuah perlawanan terhadap rezim, melawan sebuah arus besar kekuasaan yang menancapkan kukuhnya selama 30 an tahun. Buah dari keberanian melawan arus kekuasaan itu bernama Reformasi.
Namun reformasi itu kini ibarat rumah tak bertuan, berbuah evoria, semangat kebebasan yang kebablasan. Semua orang bebas berkorupsi. Akibat dari semua ini adalah, reformasi kita tidak berpijak pada suatu tujuan yang jelas. Kita berani keluar dari arus besar kekuasaan yang totaliter, tapi kita tidak mampu menciptakan hulu-hilir sistim demokrasi yang bisa menciptakan kehidupan negara-bangsa yang bersih dan bermartabat.
Kata-kata hikmah di atas bermakna, dalam hidup di dunia ini di sistim manapun, kita tidak perlu menjadi orang atau individu yang mengekor saja, tapi juga melakukan sejumlah peran deominan bahkan sekali-kali harus berani membuat pilihan kritis untuk keluar dari suatu arus deras hegemoni yang tidak membuat kita independen dalam berfikir dan berkarya.
|